Berbicara
masalah orang Melayu, banyak sudah pakar dan budayawan Melayu yang memberikan
pengertian masing-masing mengenai pengertian orang Melayu. Dari sekian banyak
pengertian, dapat kita simpulkan bahwa yang dikatakan orang Melayu adalah orang
yang mendiami wilayah negeri Melayu yang memiliki tiga cirri utama. Pertama,
dikatakan seseorang itu Melayu apa bila ia beragama Islam. Kedua memakai adat
budaya Melayu dan yang ketiga dalam kesehariannya memakai bahasa Melayu. Islam
dan Melayu tidak pernah bisa dipisahkan. Karena ajaran Islam sudah menjadi
darah daging dari pondasi dasar budaya Melayu yang dituangkan dalam adat
istiadatnya. Adat bersandi sarak, sarak bersandi kitabbullah.
Bangsa
Melayu dikenal sebagai kumpulan orang yang memiliki kepribadian yang baik.
Banyak orang diluar bangsa Melayu mempersepsikan bahwa orang Melayu itu adalah
orang yang pemalu, pendiam, ramah tamah, sopan santun dan berbagai persepsi
lainnya. Salah satu persepsi yang sering difremingkan atau dilabelkan pada
orang Melayu adalah sifat Merajuk. Banyak yang mengatakan orang Melayu itu suka
Merajuk, sedikit-sedikit merajuk.
Menurut
Prof. Tabrani Rab (2007) kepribadian orang
Melayu dibentuk oleh adat-istiadat Melayu dan agama Islam. Kedua unsur ini
paling dominan dalam membentuk kepribadian orang Melayu. Ciri-ciri kepribadian
orang Melayu bisa dilihat dari cara berpikir, bersikap dan bertingkah laku.
Sering sekali orang Melayu dipreming orang yang memiliki sifat peramah, murah
hati, mementingkan hidup bermasyarakat serta mudah bergaul dan terbuka kepada
semua orang.
Mahatir
dalam Dilema Melayu seperti dikutip dari makalah Prof Tabrani Rab (2007) yang dimuat dalam buku Masyarakat Melayu dan Budaya Melayu dalam Perubahan. Mahatir
menarik kesimpulan dari tiga ajaran Plato untuk menjelaskan perihal kepribadian
orang Melayu. Pertama, kebaikan yang utama adalah kesabaran. Aksi atau nasib
yang ditimpakan kepada orang Melayu tidak menimbulkan reaksi dan orang Melayu
menyebutnya sebagai ketabahan. Kedua, yaitu keberanian yang hampir tidak ada
dimiliki oleh orang Melayu. Orang Melayu dianggap lebih berani terhadap etnis
sendiri dari pada etnis lain. Ketegasan bukanlah sikap utama orang Melayu.
Orang Melayu enggan menghadapi konflik yang memerlukan banyak energi dalam
waktu yang panjang. Ketiga, yaitu kebijaksanaan. Kebijaksanaan dipengaruhi oleh
ajaran Islam. Orang Melayu sering tidak terlalu mempertimbangkan sesuatu dengan
matang dan selalu berusaha melepaskan diri dari kesulitan atas keputusan yang
diambil.
Menurut UU Hamidy (2014) tingkat emosi
dan sifat orang Melayu di Riau dapat direntang dari tingkat malu, menghindar
dan merajuk, disusul oleh latah dan aruk berakhir dengan amuk. Namun tingkat
emosi ini tidak bisa ditetapkan pada semua orang Melayu. Semua kembali kepada
masing-masing individu sesuai dengan ruang waktu serta kesejahteraannya
masing-masing. Oleh karena itu, keadaan
seperti ini biasanya dipahami dengan baik oleh pemangku adat Melayu itu
sendiri.
Merajuk
adalah sifat dimana seseorang memilih mendiamkan dan meninggalkan suatu masalah
yang ada dihadapannya. Secara psikologis orang perajuk mencerminkan ketidak
mampuan berpikir positif dan kegagalan dalam menyelesaikan masalah dengan baik.
Orang perajuk biasanya juga gagal dalam bersosialisasi ditengah masyarakat
sehingga membuatnya merasa minder dan kecil ditengah masyarakat. Orang perajuk
tidak memiliki kepercayaan diri sehingga lebih suka hidup menyendiri dan
cenderung introvert. Orang seperti ini cenderung menutup diri dan memendam semua
masalahnya untuk dipikirkannya sendiri. Orang perajuk tidak memiliki banyak
teman sehingga tidak bisa bercerita dan saling berbagi masalah dengan orang
lain.
Keberadaan
sifat merajuk pada diri orang Melayu tidak terlepas dari adanya sifat malu yang
melekat dalam diri orang Melayu itu sendiri. Malu merupakan sifat wajib yang
harus dimiliki oleh orang Melayu jika tidak ingin dikatakan orang tidak bermalu
(tidak punya harga diri). Menghadapi silang sengketa (debat kusir) tingkah laku
orang Melayu cenderung menghindar. Dengan menghindar ini diharapkan dapat
dibuka jalan perundingan baru yang bisa mencapai kesepakatan bersama. Jika
jalan ini tidak membuahkan hasil dan cenderung mengarah pada pertarungan fisik,
maka sebagian orang Melayu lebih suka mengambil jalan merajuk. Jalan merajuk
diambil untuk menjaukan diri dari pusat perselisihan dan tidak ada lagi kontak
fisik yang membuat perselisihan berakhir meskipun tidak memberikan penyelesaian
yang memuaskan semua pihak. Sebenarnya, adat Melayu tidak membenarkan langkah
merajuk ini, sehingga ada ungkapan mengatakan orang perajuk mati jauh. Namun bagi orang yang tetap memilih
langkah merajuk ini, hal ini dijadikannya sebagai terapi jiwa untuk ketenangan.
Sebab dengan langkah ini akan menghindarkannya pada konflik jiwa yang terus
berkepanjangan. Merajuk juga menjadi teknik menahan diri, sehingga pertikaian
tidak terjadi. Mencari kemenangan sepihak dalam berselisih tentulah tidak baik.
Ungkapan Melayu mengatakan menang jadi
abu kalah jadi arang.
Namun
dibalik sifat yang suka menghindar dan merajuk, orang Melayu juga punya sifat
yang tegas yang disebut aruk dan amuk. Kedua sifat ini akan muncul ketika harga
diri orang Melayu direndahkan, ketika adat dan agamanya dilecehkan. Amuk
merupakan sifat orang Melayu yang berupa curahan konflik yang tidak terikat
pada super ego. Jika orang Melayu terus ditekan maka konflik akan menjebol
pembatas ego dan super egonya (Tabrani Rab,2007).
Orang
Melayu siap mempertaruhkan nyawanya demi membela kehormatnya, menjaga tuah dan
marwah adat lembaga serta agama. Biarlah
mati anak dari pada mati adat.
Walaupun
Melayu suka berdamai
Hidup
rukun beramai-ramai
Tetapi
jangan ia digulai
Membunuh
orang pun Melayu pandai
Walaupun
Melayu pantang mendurhaka
Kepada
pemimpin taat setia
Tetapi
jangan meraka dianiaya
Melayu
pun berani menyabung nyawa

0 Komentar