Penulis : Yogi Pratama
Mahasiswa Fakultas Psikologi UIR
Kehadiran
dan berdirinya berbagai macam perusahaan perkebunan dikawasan Petalangan memang
memiliki peranan penting dalam kemajuan beberapa desa terpencil dinegri Datuk
Demang Serail itu. Salah satu kemajuan yang tidak bisa dibohongi adalah
mudahnya akses transportasi antar desa.
Perusahaan yang membuka lahan didaerah
ini entah dengan ikhlas atau tidak, yang pasti demi kemajuan dan kepentingan
perkebunan perusahaan mereka harus membuka akses jalan. Dengan dibukanya jalan
dikawasan ini membuat mudahnya masuk alat transportasi seperti mobil dan
kendaraan angkutan lain sejenisnya, hal ini tentu saja sedikit membawa manfaat
bagi masyarakat tempatan yang lebih muda pergi berjualan dan berbelanja kepasar
serta berhubungan dengan saudara-saudaranya didesa lain sebab sebelumnya semua
itu harus mereka lakukan dengan jalan kaki atau transportasi air. Hal ini tentu
saja memakan waktu yang lama serta tenaga yang banyak belum lagi resiko
binatang buas yang sewaktu-waktu bisa saja menghadirkan mimpi buruk bagi
mereka.
Namun sudah menjadi
hukum alam seperti pepatah adat Melayu mengatakan ada panas tentu ada hujannya,
ada senang tentu ada susahnya. Perkebunan yang ditanam oleh perusahaan-perusahan
yang ada tersebut banyak membuka lahan dan menabang hutan dikawasan Petalangan.
Hal ini membuat keseimbangan alam sangat terganggu. Satu persatu pohon sialang
yang menjadi kebanggaan warga setempat berubah menjadi pokok sawit. Satu
persatu pohon meranti tumbang dan berdiri ditempat yang sama pohon akasia.
Bentangan rimba kepuangan sialangpun disulap menjadi bentangan sawit yang terhampar sejauh mata
memandang. Satu persatu pula sarang leba penghasil madu pergi menjadi curahan
minyak kelapa sawit dan limbah yang dihasilkannya.
Dengan segala bujuk
rayunya banyaklah sudah masyarakat tempatan yang tidak besekolah dan tidak
berpikir panjang terpengaruh dengan menjual tanah dan kebunnya kepada
perusahaan dengan harga yang tentu saja tidak seimbang dengan dampak dan
pencemaran lingkungan yang dihasilkan perusahaan tersebut. Banyak pula pemangku
adat menjual dan menyerahkan tanah wilayat perbatinannya kepada perusahaan demi
mengisi kampong tengahnya dan kesenangan sesaat. Sehingga yang terjadi pada saat
ini Para Batin pemangku adat dikawasan Petalangan ini yang konon kisahnya
dahulu memiliki hutan tanah suak sungai kepungan sialang hanya memiliki satu
atau dua hektar keun sawit atau karet. Jikalah memang benar kisah tersebut,
bisa kita bayangkan berapa banyak dan luasnya hutan tanah wilayat suak sungai
kepungan sialang diwilayah ini karena jumlah Batin yang ada itu sebanyak 29
Batin atau sering disebut Batin oso tigo
puluh. Namun hutan tanah suak sungai kepungan sialang tersebut kini hanya
menjadi cerita indah masa lalu, jangankan melihat hutan yang terbentang luas,
mendengar istilah hutan tanah suak sungai kepungan sialang saja generasi muda
sekarang sama seperti mengharapkan mendengarkan bisikan dari Tuhan. Pertanyaannya kemana itu semua? Kita sulit untuk
menjawab siapa yang salah siapa yang benar dan siapa yang harus bertanggung
jawab. Tapi satu yang pasti wilayah ini sudah berubah menjadi hamparan lautan
kebun sawit dan akasia milik perusahan-perusahaan yang kelaparan dan melahap
semua hutan kami seperti harimau lapar yang melahap seekor kijang.
Kerusakan dan hilangnya
hutan kami baru merupakan dampak pertama yang kami rasakan. Dampak lainnya
adalah kami sudah tidak lagi melihat dan mendengar beberapa hewan didalamnya.
Dahulu kami dengan sangat mudanya mendapatkan dan menikmati daging rusa,
kancil, kijang dan senijisnya serta burung-burung. Namun sekarang untuk
mendapkan itu semua sama seperti pungguk merindukan bulan dan bahkan jika kami
berburu beberapa hewan dihutan kami tak jarang harus berhadapan dengan pihak
berwenang karena hewan tersebut sudah dilindungi. Dahulu kami dengan mudah
mendaptkan madu lebah yang tentu saja sangat baik untuk kesehatan dan
kecerdasan anak-anak kami, namun sekarang kami hanya diberikan asap dan limbah
pabrik yang membuat anak kami sakitbaik secara fisik maupun psikis.
Kami tidak tahu secara
jelasnya berapa luas izin yang diberikan pemerintah kepada
perusahaan-perusahaan itu. Yang pasti setiap hari dan waktu luasnya semakin
bertambah dan semakin banyak pula hutan kami ditebang. Kemana kami hendak
mengadukan nasib? Pemerintah kami seolah-olah tertidur lama sehingga tidak
sempat mengurusnya. Pemerintah kami sering datang dan bahkan mungkin sering
melintasi perusahaan tersebut sehingga sangat tidak masuk akal jika mereka mengatakan
tidak mengetahui. Ada juga terkadang pemerintah kami mengundang dan memanggil
pihak perusahaan entah untuk apa itu, yang pasti jika saja pemanggilan itu
untuk menanyakan dan kebaikan kami, maka sudah dari dulu masalah ini
terselesaikan. Namun faktanya yang ada adalah penderitaan kami semakin berat,
hutan kami semakin habis, dan sungai kami semakin tercemar. Sungai kami yang
dulunya dihuni oleh ratusan dan mungkin bahkan ribuan jenis ikan air tawar kini
hilang la sudah, jangankan untuk mencari berbagai macam ikan, satu macam ikan
saja sulit kami mendapatkannya. Pada sekitar awal tahun 2000-an, hamper setiap
minggu limbah pabrik kelapa sawit PT. Musimmas mencemari sungai Batang pagai
yang mengalir didesa Talau, Tanjung Beringin dan sampai kesungai Napuh dan
sungai Nilo yang menjadi muara suangai ini. Jutaan ikan mati membusuk dan
banyak masyarakat memakan ikan yang beracun tersebut. Hal ini tentu saja
berpengaruh kepada kesehatan dan
keturunan kami dalam jangka panjang. Bisa kita bayangkan jika ikan yang
kita makan saja sudah beracun bagaimana dengan kesehatan fisik dan psikis kami
dikemudian hari. Pihak perusahaan hanya memberikan bantuan tak sampai serautus
ribu rupiah kala itu kepada masing-masing KK. Hal ini tentu saja tidak seimbang
dengan dampak yang ditimbulkan dari limbah tersebut. Kerugian lain yang jelas
adalah berkurangnya dan sebagian ikan punah disungai kami sehingga populasinya
saat ini hamper tidak dihuni ikan. Sungai Batang Pagai saat ini sudah seperti
rumah tua yang ditinggal penghuninya. Sungai yang sudah sangat dangkal berpasir
dan banyak pelepah dan bekas tandan sawit didalamnya. Jangankan ikan, mungkin
saja air sudah malas untuk mengalir disungai ini. Fenomena yang terjadi ini
tentu saja harus dipertanggunh jawaban oleh PT.Musimmas yang telah melakukan
perusakan ini.
Pada saat ini PT.
Musimmas memang tidak bisa dipungkiri ada membantu beberapa kepentingan desa
satempat. Mulai dari memberikan sembako ketika menyambut hari raya, meminjamkan
alat berat untuk perbaikan jalan desa, membukakan kebun sawit untuk masyarakat
dan sampai memberikan beasiswa kepada mahasiswa. Namun bantuan yang diberikan
tak ubahnya seperti sepotong semangka untuk pencuci mulut setelah makan besar.
Mengapa demikian? Sembako yang diberikan perusahaan hanya setahun sekali dengan
bajet yang kurang dari seratus ribu rupiah. Kebun sawit yang dibuatkan
perusahaan juga tidak didapat oleh semua masyarakat. Hanya masyarakat yang
memiliki tanahlah yang mendapatkan kabun tersebut dan yang tidak memiliki
tanah, dibuatkan kebun sawit ditanah desa yang masing-masing kepala keluarga
mendapatkan tidak sampai dari sepuluh batang. Bisa kita bayangkan berapa yang
didapat oleh masyarakat? Tentu tidak sesuai dengan kerusakan dan dampak yang
diterima dari ulah perusahaan tersebut. Beasiswa yang didapat oleh mahasiswa
juga tidak seimbang, masing-masing mahasiswa yang mengurusnya mendapatkan
bantua sebesar Rp500.000/semester dengan syarat IPK tidak kurang dari 3,0.
PT.Musimmas juga sangat sedikit memperkerjakan penduduk tempatan. Jika pun ada
hanya bekerja sebagai buruh dan tukang pupuk.
Melihat dari apa yang
terjadi saat ini, bisa dikatakan bantuan yang diberikan PT.Musimmas kepada
masyarakat tempatan itu seperti sepotong semangka untuk pencuci mulut setelah
makan besar. Artinya, bantuan tersebut hanya sebagian kecil dan sangat kecil
sekali dibandingkan hasil yang mereka dapat dari kebun yang ditanan ditanah
kami ini. Bantuan ini juga hanya sekedar seremonial saja untuk memenuhi syarat
dan anjuran dari pemerintah.
Jika
kamu melihat satu kezaliman, maka rubahlah kezaliman tersebut dengan tanganmu,
jika tidak mampu rubahlah dengan mulutmu, jika tidak mampu maka rubahlah dengan
niat dan doa.
Untuk merubah kezaliman perusahaan-perusahaan
perkebunan diwilaya Petalangan ini secara pribadi saya hanya bisa melakukan
dengan Niat dan Do’a serta mulut melalui tulisan sederhana ini. Untuk
merubahnya dengan tangan, perlu kekuatan dan kekuasaan, PEMERINTAHLAH YANG
HARUS MELAKUKANNYA !!

0 Komentar