Slogan

Slogan

Yang Melemahkan Pribadi




Pada postingan sebelumnya, saya sudah menjelaskan dan meringkas beberapa hal yang bisa mengutkan Pribadi. Pada halaman kali ini Insyaallah saya akan mencoba menerangkan beberapa hal yang bisa melemahkan pribadi seseorang. Masih berkiblat pada apa yang dikemukankan oleh tuang guru Prof. Dr. Hamka dalam buku beliau yang berjudul Pribadi Hebat. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa melemahkan pribadi seorang yang disebut dengan manusia.
1.      Menjadi bayang-bayang orang lain

Orang yang menjadi bayang-bayang orang lain berkata dan menulis bahkan sampai pada gerak dan geriknya hanya menjadi “pak tiru”. Orang yang seperti itu tentulah akan lenyap pribadinya ditelan oleh pribadi orang yang ditirunya. Tidak jelas lagi bagaimana sebenarnya diri sendiri.
Kita mengakui bahwa manusia tidak bisa tumbuh sendiri melainkan ada orang lain disekelilingnya sehingga manusia disebut makhluk sosial. Lingkungan dan keturunan disekelilingnya mempengaruhi pertumbuhannya. Namun demikian seseorang harus tetap tumbuh dan berkembang menjadi dirinya sendiri bukan orang lain. Satu contoh pada empat imam dalam Islam, yaitu Imam Maliki, Hanafi, syafi’I dan Imam Ahmad bin Hambal pun juga begitu. Mereka awalnya ada hubungan sebagai guru dan murid, tetapi akhirnya mempunyai pribadi dan pendirian masing-masing.
2.      Ikatan adat lama pusaka usang
Hidup didunia tentu memakai adat istiadat dan bagi suatu bangsa adat istiadatnya itulah tanda bangsanya. Akan tetapi jangan lupa bahwa adat adalah kebiasaan. Adat bukanlah undang-undang atau hasil mufakat yang telah diperbuat lebih dahulu. Namun adat sudah menjadi undang-undang dalam ilmu masyarakat. Bahwa orang tua yang telah merasa enak dengan system lama enggan menerima perubahan adat, padahal anak muda yang ingin maju dan menyesuaikan perkembangan zaman menginginkan perubahan. Disini kan terjadi pertentangan yang secara langsung menghambat perkembangan pribadi dan melemahkan pribadi itu sendiri pada kaum muda. Maka supaya pribadi kuat dan kukuh, jangan biarkan adat begitu-begitu saja.
Setiap zaman ada baiknya dan ada buruknya. Celakalah orang yang tidak bisa menyesuaikan diri. Orang yang serupa itu walaupun dizaman apapun dia hidup dia hanya akan menampak yang buruk sebab kaca matanya memang “hitam”.
3.      Budak buku
Ketika membaca kitab yang berasal dari wahyu Tuhankepada manusia dengan perentara kepada Nabi, maka hati kitalah yang ditundukkan kepadanya walaupun masih ada yang belum termakan sama hati dan pikiran kita. Akan tetapi jika kita membaca buku karya yang ditulis sesame manusia apapu pangkat dan gelarnya kita harus memikirnya terlebih dahulu baru menerima kebenarannya karena yang menulisnya dalah sama dengan kita yakni makhluk yang bernama manusia. Tidak semua yang ditulis manusia harus kita terima karna sebagai manusia ia pasti pernah khilaf. Dalam beberpa pandangan hidup tentu saja kita ada perbedaan pendapat dan dari cara memandang suatu permasahalaan pun bisa bermacam-macam dari sudut pandang yang lain. Maka jika semua yang dibaca lantas ditelan saja, hilanglah jiwa kritis yang ada dalam diri kita.
Penyakit budak buku ini banyak menimpa sarjana. Dia sanggup mengumpulkan dan mengutip perkataan Profesor, doctor akan tetapi pendapatnya sendiri tidak ada. Hal ini saya rasakan secara pribadi ketika menyusun skripsi S-1. Dimana saya diharuskan mengutip pendapat banyak ahli tapi tidak dibolehkan mencantumkan pendapat saya pribadi.
Pemimpin besar bangsa Indonesia Bung Karno menamakan orang yang hanya mengekor kepada pendapat atau tulisan orang lain ini disebut dengan budak dari buku. Pikirannya hanya terpaku pada apa yang tertulis di buku. Bung Karno member nama text book thingking. Lebih lanjut bung Karno mengatakan selama kaum serjana dan cendikiawan masih belum berani mengatakan “pendapatku adalah ini” dan masih masih saja berkata “menurut professor itu dalam bukunya yang berjudul itu” belum sarjana dan cendikiawan dapat mempelopori kebebasan dan kemerdekaan pikiran bangsanya.
4.      Tidak tentu arah
Orang yang ingin menghadapi semua urusan, tidaklah akan Berjaya. Umur kita sangat sedikit dan jalan yang ada banyak. Maka kita harus memilih dan menentuka satu arah jalan yang jelas untuk mencapai tujuan tersebut. Lebih baik satu pekerjaan yang dihadapi, kita dalami dan hadiahkan kepadapersada kemanusiaan.
5.      Menjadi benalu
Seorang manusia harus mampu hidup mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Betul kita adalah orangg timur hidup berkeluarga. Namun jika hidup seperti benalu terus dipertahankan maka kekeluargaan pun akan rosak dan runtuh. Dengan demikian, supaya pribadi dihargai, jangan lah suka meminta, janganlah menyandarkan nasib kepada orang lain. Orang akan cepat bosan dengan si benalu dan akhirnyaia sendiri pun akan bertambah sakit jiwanya dan akan hilang keberaniaan menempuh jalan kehidupan.

Posting Komentar

0 Komentar