1. Daerah asal
Nyanyi panjang Bujang Tan Domang
adalah salah satu judul cerita dalam nyanyi panjang yang berkembang di
masyarakat Petalangan, Riau, Indonesia. Masyarakat Petalangan adalah salah satu
puak (suku) asli di Riau yang bermukim di kecamatan Pangkalan Kuras, Bunut,
Langgam dan Kuala Kampar, Pelalawan, Riau. Kawasan ini telah mereka huni secara
turun temurun dan mereka sebut
sebagai Hutan Tanah Wilayat atau Tanah
Wilayat. Pemilikan, pemanfaatan, dan pemeliharaan Tanah Wilayat ini
diatur secara baik dan cermat oleh adat tempatan. Aturan adat tidak hanya
berupa hukum tertulis, tapi juga tercantum dalam sastra lisan. Salah satu jenis
sastra lisan yang mengandung hukum adat ini adalah tombo. Tombo
merupakan bagian dari tradisi nyanyi panjang. Tidak semua nyanyi panjang yang
berkembang di masayarakat termasuk dalam jenis tombo, sebagian besar di
antaranya malah termasuk jenis nyanyi panjang biasa. Nyanyi panjang Bujang Tan
Domang yang berkembang di masyarakat Petalangan merupakan salah satu contoh
nyanyi panjang tombo tersebut. Di dalamnya, tercantum kisah asal-usul
Bujang Tan Domang, keturunannya dan caranya menetapkan wilayah yang sekarang
diakui secara adat menjadi daerah adat Monti Raja. Kisah-kisah dan aturan yang
tercantum dalam nyanyi panjang ini diakui oleh seluruh warga sebagai sumber
hukum dan nilai.
Siapa sebenarnya Bujang Tan Domang
ini? Bujang Tan Domang adalah seorang tokoh yang juga dikenal dengan nama Datuk
Demang Serail. Ia dianggap sebagai cikal bakal pesukuan Monti Raja (dulu
dinamakan Sialang Kawan) yang sekarang tinggal di desa Betung, Pangkalan Kuras,
Pelalawan, Riau. Pesukuan Monti Raja ini merupakan pesukuan yang dituakan dalam
masyarakat Petalangan. Nyanyi panjang Bujang Tan Domang beirisi tentang hutan
tanah wilayat pesukuan Monti Raja (kepala suku) di desa Betung. Dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat Petalangan Riau, nyanyi panjang Bujang Tan Domang tidak
hanya berfungsi untuk hiburan semata, tapi juga sebagai dokumen sejarah dan
hukum yang otentik tentang asal-usul suku serta wilayah milik mereka.
Dalam perkembangannya di masyarakat
Petalangan, sastra lisan nyanyi panjang ini memiliki beberapa variasi. Sebagai
sastra lisan, munculnya variasi ini memang tidak bisa dihindari, disebabkan
adanya kecenderungan setiap penutur atau pencerita untuk menambah atau
mengurangi isi ceritanya setiap kali bercerita di depan pendengarnya. Sebagai
standar, yang digunakan dalam tulisan ini adalah versi Tenas Effendy yang telah
merekam versi aslinya, kemudian memperdengarkannya kepada 37 orang pemangku
adat Petalangan untuk dikoreksi, sehingga hasilnya cukup autentik dan karena
itu, otoritatif.
Ketika nyanyi panjang dituturkan,
biasanya digunakan irama lagu tertentu dan diikuti musik gendang atau dulang,
sehingga proses penuturan berjalan menarik, tidak monoton. Ada dua lagu yang
sering dijadikan standar senandung, yaitu lagu Indang Padonai dan Indang
Padodo. Terkadang ada juga yang memakainya secara selang seling. Namun,
kebanyakan penutur hanya memakai satu lagu, dan mereka lebih sering memilih
lagu Indang Padonai. Biasanya, nyanyi panjang ini ditampilkan pada acara
perayaan-perayaan, seperti pesta perkawinan. Untuk suatu pesta perkawinan,
nyanyi panjang ditampilkan antara lima sampai tujuh malam, dari jam 21.00
hingga jam 03.00. Biasanya, penampilan nyanyi panjang ini juga diselingi
pantun.
2. Alur cerita
Nyanyi panjang Bujang Tan Domang
sangat panjang dan cukup susah karena kosa katanya yang sangat kaya. Namun
demikian, cerita dalam nyanyi panjang ini tetap lincah, hidup dan menarik. Di
dalamnya, terkadang diselingi adegan yang menggelikan dan mengharukan. Memang
di dalamnya terdapat banyak pengulangan, namun setiap pengulangan selalu
menunjukkan variasi yang menarik. Ringkasnya, baik ditinjau dari segi gaya
(kekayaan kosa kata, ungkapan, formula, irama, kiasan dan penggambaran) ataupun
isi (rentetan kejadian dan nilai filosofisnya), nyanyi panjang Bujang Tan
Domang tetaplah sebuah sastra lisan yang brilian.
Alur cerita dalam nyanyi panjang ini
terbagi dalam dua struktur yang berbeda. Bagian pertama mengikuti alur yang
sangat lazim dalam cerita dan hikayat lama, baik yang lisan ataupun tulisan.
Alur tersebut dimulai dari keluarga raja yang mendapat bencana sehingga menjadi
terpencar; anak-anak raja tersebut berusaha untuk berkumpul kembali; para anak
tersebut mengalami kisah pahit dan tantangan hebat; keluarga raja berkumpul
kembali, martabat dan kehormatan mereka kembali pulih, sehingga dapat merasakan
lagi kebahagiaan yang pernah hilang. Alur seperti ini disebut juga dengan alur
bundar, dalam arti, cerita bertolak dari sebuah kerajaan yang aman dan makmur,
kemudian keadaan ini jadi berubah buruk karena adanya faktor eksternal. Dalam
perkembangannya, keadaan kembali pulih berkat adanya tokoh sakti dari kerajaan
itu yang berhasil menyelamatkan negerinya.
Pada alur kedua, strukturnya
bersifat linier, dan ini agak tidak lazim jika dibandingkan dengan cerita atau
hikayat lama yang lebih banyak beralur bundar. Pada bagian kedua ini, cerita
dimulai ketika seorang tokoh keluar dari negerinya untuk mencari pengalaman,
belajar aneka macam ilmu, kesaktian dan adat istiadat. Setelah menjadi sakti,
ia berhasil mengalahkan musuh-musuhnya yang berilmu tinggi. Dalam
perjalanannya, ia diangkat sebagai anak atau saudara oleh orang terpandang,
kemudian menikah dengan seorang putri cantik. Setelah itu, ia membuka daerah
baru, mendirikan kerajaan dan menjadi raja yang pertama. Selama masa
pemerintahannya, keadaan rakyat aman sentosa.
Jika dilihat struktur alur pertama
dan kedua ini, sebenarnya keduanya masih berkaitan. Bisa dikatakan bahwa, alur
pertama merupakan sebuah proses pemulihan keadaan untuk menciptakan suatu
kondisi yang kondusif; sementara alur kedua merupakan alur pengembangan, baik
pengembangan ilmu maupun pengembangan kerajaannya dengan membuka kerajaan baru
di daerah lain.
Berikut ini ringkasan cerita nyanyi
panjang Bujang Tan Domang:
Raja Alam bertahta di negeri Tanah
Johor. Permaisuri Putri Mayang memperanakkan dua orang putri: Putri Embun Putih
dan Putri Lindung Bulan, dan seorang putra: Bujang Tan Domang. Sebagai putra satu-satunya,
Tan Domang menjadi tumpuan harapan ayahnya. Ia menjadi sosok yang istimewa di
kerajaanan. Keistimewaan itu tercermin dalam ungkapan, “bagai ditiup anak
malaikat, bagai dituntun anak bidadari.” Kelahirannya dirayakan secara
besar-besaran. Suatu ketika, Raja Garuda yang bersemayam di lawang langit
tiba-tiba menyerang negeri sambil melahap rakyat Johor. Raja Alam
menyembunyikan putra-putrinya, dan kemudian menentang Raja Garuda, namun
kekuatannya tidak sepadan. Raja Garuda menyambar Raja Alam dan permaisuri,
kemudian membawa mereka terbang ke lawang langit.
Setelah beberapa waktu Putri Embun
Putih berangkat mencari orang tuanya. Setelah berjalan dengan susah payah,
akhirnya ia sampai ke negeri Raja Pati. Ia ditampung dan diangkat anak oleh
nenek Janda Kasihan. Suatu ketika, Raja Pati melihat Putri Embun Putih dan
langsung tertarik. Singkat kata, Raja Pati kemudian meminang sang putri.
Pernikahan mereka dirayakan besar-besaran.
Putri Lindung Bulan juga tidak mau
ketinggalan. Ia kemudian berangkat mencari sanak saudaranya, hingga akhirnya
sampai juga di negeri Raja Pati. Ia kemudian diangkat anak oleh sepasang orang
tua yang miskin. Suatu ketika, Putri Embun Putih yang telah menjadi permaisuri
Raja Pati melihatnya dan langsung mengenali adiknya ini karena bunga yang
dikarangnya.
Untuk mencari adiknya yang bungsu,
yaitu Bujang Tan Domang, kemudian permaisuri dan Raja Pati pergi ke Johor,
namun ternyata, Bujang sudah berangkat meninggalkan negerinya. Dalam
pengembaraannya, Bujang berjalan di hutan rimba hingga akhirnya sampai di
rumah Nek Bia Susu Tunggal. Nenek itu mengangkatnya sebagai anak, dan
mengabarinya tentang Putri Lindung Bulan yang telah diculik oleh Raja Cina.
Sebenarnya, Raja Cina itu datang ke negeri Raja Pati untuk meminang Lindung
Bulan. Namun, saat itu Raja Pati sedang berada di Johor bersama permaisurinya
mencari Bujang Tan Domang. Oleh karena itu, empat orang menteri yang
bertanggungjawab terhadap kerajaan tidak bisa menerima pinangan tersebut. Raja
Cina menjadi marah, kemudian empat menteri tersebut ia bunuh dan Putri Lindung
Bulan ia bawa pulang ke negerinya.
Bujang Tan Domang berguru ilmu-ilmu
kesaktian serta berbagai aturan budi bahasa pada Nek Bia. Setelah itu, ia pergi
mencari kakaknya Lindung Bulan. Di tengah jalan, Bujang juga berguru pada Tuk
Syeh Panjang Janggut. setelah itu, Bujang Tan Domang kembali ke Johor, dan
diakui sebagai saudara oleh seorang anak miskin, Bujang Kecil. Mereka berdua
kemudian pergi ke istana Raja Johor. Pada waktu itu pula, Raja Cina datang
menyerang negeri Johor, sehingga terjadilah peperangan dahsyat antara kedua
belah pihak hingga malam hari. Pada waktu tengah malam, saat peperangan
berhenti karena kelelahan dan semua orang tertidur, Bujang Tan Domang naik ke
kapal Cina dan memperagakan ilmu kesaktiannya, sehingga orang Cina ketakutan
dan pulang ke negerinya pada malam itu juga.
Ketika pagi menjelang, Raja Pati
heran karena musuhnya sudah lari. Raja Pati kemudian bertekad mengejar Raja
Cina tersebut. Bujang sadar bahwa Raja Pati tidak akan mampu melawan Raja Cina.
Oleh sebab itu, agar Raja Pati tidak bisa mengejar Raja Cina, kapal-kapal Raja
Pati ditenggelamkannya. Kemudian, ia sendiri yang terbang ke negeri Cina untuk
menyelamatkan kakaknya, Lindung Bulan. Ketika sampai di Cina, rakyat Cina
disirapnya, kemudian peti yang digunakan untuk menawan Lindung Bulan ia bawa
terbang kembali ke Johor. Sesampainya di Johor, tak ada seorangpun yang mampu
menggerakkan, apalagi membuka peti itu.
Ketika melihat peti yang berisi
Lindung Bulan telah dicuri, Raja Cina kembali menyerang negeri Johor. Saat itu,
Raja Pati masih berada di Johor dan kembali berhadapan dengan Raja Cina. Bujang
kemudian muncul untuk menghadapi Raja Cina. Peti yang berisi Lindung Bulan ia
angkat dan buka, sehingga Putri Lindung Bulan menjadi bebas. Raja Cina mohon
maaf dan kemudian berdamai dengan Bujang. Bujang kembali tampil dengan rupa
seperti semula dan memperkenalkan diri. Raja Pati selanjutnya dinobatkan
sebagai Raja Johor, sedangkan seorang hulubalang tua diangkat sebagai pengganti
di negeri asalnya.
Putri Lindung Bulan makin besar dan
cantik. Banyak anak raja yang datang meminangnya, namun ia tidak bersedia
menikah sebelum bertemu lagi dengan orang tuanya. Bujang bersemedi dan
mengimbau guru-gurunya, Nek Bia dan Tuk Syeh agar mengajarkan ilmu dan aturan
baru untuk mencari orang tuanya. Setelah tirakat empat puluh hari dalam hutan,
akhirnya datanglah penjaga pintu lawang langit, Tuk Jaya Lembang Alam. Ia
kemudian mengantar Bujang ke lawang langit untuk dipertemukan dengan orang
tuanya. Saat itu, Bujang juga belajar ilmu baru pada Tuk Jaya Lembang. Bujang
kemudian berperang dengan Raja Garuda dan berhasil mengalahkannya. Namun,
akhirnya mereka menjadi saudara angkat. Setelah itu, Bujang membawa orang
tuanya kembali ke Johor. Akhirnya, seluruh keluarga berkumpul kembali.
Raja Alam tampil kembali di depan
rakyatnya. Ia kemudian menunjuk Raja Pati sebagai penggantinya untuk menduduki
tahta Johor, dan memberikan berbagai nasihat tentang pemerintahan. Negeri Johor
makin ramai dan makmur. Suatu ketika, datanglah Raja Dilaut dari negeri Sangar
untuk meminang Putri Lindung Bulan. Setelah para menteri kedua pihak berunding,
akhirnya pinangan disepakati dan perkawinan dilangsungkan.
Setahun kemudian, barulah Raja Laut
mohon diri dari Johor. Raja Alam kemudian memberikan berbagai petuah
kepadanya tentang sifat manusia yang luhur serta adat membuka negeri. Raja Laut
berangkat bersama dengan Lindung Bulan dan Bujang. Ketika sampai di Sangar,
mereka dielu-elukan oleh rakyatnya, dan ibunda raja mengadakan perayaan empat
puluh hari empat puluh malam.
Beberapa tahun kemudian, Bujang
berangkat bersama menteri dan hulubalang tua untuk melihat-lihat Laut Embun
(yaitu Sungai Kampar) sambil memperdalam ilmunya. Dusun pertama yang mereka
kunjungi sangat indah dan sentosa, berkat kebijaksanaan penghulu yang
memerintah menurut adat dan keadilan. Sebaliknya, dusun kedua yang mereka lihat
miskin dan kacau, karena diperintah oleh Raja Panjang Hindung yang tamak dan
zalim. Bujang kemudian berperang dengan raja itu dan berhasil membunuhnya.
Menteri tua ditunjuknya untuk memerintah di dusun itu, sedangkan ia melanjutkan
perjalanan.
Bujang sampai ke negeri Raja Dinda.
Saat itu, banyak anak raja dari negeri lain datang meminang putri Raja
Dinda yang bernama Putri Sri Gading. Ada tujuh orang anak raja lain yang
ditolak pinangannya dan bermaksud membunuh Raja Dinda. Bujang kemudian menolong
Raja Dinda dan berhasil mengalahkan mereka tujuh anak raja lain tersebut, dan
menyuruh mereka pulang ke negerinya masing-masing. Saat itu, Bujang sendiri
belum bersedia memperistri Putri Sri Gading, dan memilih untuk melanjutkan
perjalanan menyusuri Sungai Kampar ke arah hulu. Dalam perjalanan, Bujang
bertemu dengan sebuah kapal yang besar sekali, yang diperintah oleh seorang
raja zalim, bernama Raja Garang. Raja Garang memaksakan kehendaknya kepada
setiap kapal yang lewat. Sebelum melanjutkan perjalanannya, Bujang terlebih
dulu membunuh Raja Garang.
Beberapa tahun sudah lewat, Bujang
telah menjadi seseorang laki-laki yang berilmu dan berpengalaman. Dalam
perjalanannya itu, ia sampai ke negeri Raja Lela. Saat itu, negeri Raja Lela
sedang diserang oleh Raja Jin yang ingin mengawini putri raja bernama Putri
Mayang Pinang. Bujang menantang Raja Jin dan berhasil mengalahkannya setelah
berperang selama tujuh hari tujuh malam. Untuk membalas jasa Bujang, Raja Lela
kemudian mengangkatnya sebagai anak.
Bujang berlayar lagi dan mencapai
sebuah tempat yang sangat indah dan subur, yang dinamakan Batang Bunut.
Tempat-tempat lain di sekitar daerah itu kemudian ia beri nama sebagai tanda
akan dibukanya sebuah negeri di daerah. Nama-nama daerah baru tersebut adalah Sialang
Kawan, Dusun Betung, Sungai Bunut, Tanjung Sialang, Tanjung Perusa, Sungai
Peragaaian dan Tealau.
Selanjutnya, Bujang sampai ke negeri
orang Bunyian dan lama tinggal bersama mereka. Ia berkenalan dengan segala
jenis makhluk gaib, dan menjadi saudara angkat Raja Bunyian. Mereka
tukar-menukar ilmu dan kesaktian. Setelah beberapa tahun di negeri Bunyian,
Bujang kembali ke Sialang Kawan dan melakukan upacara membuka negeri.
Hulubalang tua disuruhnya mendirikan kampung di situ, sedangkan ia sendiri kembali
ke Laut Embun (Kampar) dan Johor. Dalam perjalanan pulang, ia singgah di negeri
Raja Lela (saat itu, Putri Mayang Pinang sudah bersuami) dan Raja Dinda. Di
sini, ia bertunangan dengan Putri Sri Gading.
Saat itu, negeri Sangar sedang
diserang oleh Raja Besar Hidung yang hendak menuntut balas atas kematian
adiknya, Raja Panjang Hidung. Raja Besar Hidung berhasil mengalahkan Raja
Dilaut dengan mudah, dan Putri Lindung Bulan hendak diculiknya. Bujang
mengetahui secara gaib kejadian tersebut, dan segera ke Sangar unutk terbang
menolong kakaknya. Akhirnya, Raja Besar Hidung berhasil ia bunuh.
Putri Lindung Bulan sudah beranak
seorang laki-laki, oleh Bujang diberi nama Kelana Jaya. Kemudian, Bujang pergi
ke Johor bersama Lindung Bulan dan putranya. Akhirnya, ketiga kakak beradik dan
orang tua mereka, Raja Alam kembali berkumpul. Setelah beberapa waktu, Bujang
kemudian pergi ke negeri Raja Dinda (Pekantua) untuk memperistri Putri Sri
Gading. Sebelum ke negeri Raja Dinda, Bujang terlebih dulu mengantar Lindung
Bulan ke kerajaan suaminya. Sebelum pergi, ibu mereka yaitu Putri Mayang
memberikan beberapa nasehat kepada putrinya tentang perilaku seorang istri yang
baik.
Bujang dan Lindung Bulan tiba di
Sangar. Tiga bulan kemudian, datang pula orang tua mereka, Raja Alam dan Putri
Mayang, beserta Putri Embun Putih serta Raja Pati. Untuk pertama kali, mereka
saat itu berjumpa dengan ibunda Raja Dilaut. Beberapa waktu kemudian, semuanya
berangkat lagi menuju negeri Raja Dinda (Pekantua) dengan menggunakan tujuh
kapal, untuk menghadiri perkawinan Bujang dengan Sri Gading. Setelah menteri
Johor dan menteri Pekantua berunding panjang, akhirnya disepakatilah hari
perkawinan.
Pada hari perkawinan tersebut,
diadakan perhelatan besar-besaran. Saat itu, Bujang juga mengundang semua gurunya.
Di tengah-tengah perayaan, datanglah Datuk Jembalang Api, tiga pendamping dan
bala tentaranya untuk menuntut balas kematian kedua muridnya, Raja Besar Hidung
dan Raja Panjang Hidung, yang telah dibunuh oleh Bujang. Ketiga pendamping
tersebut bertarung dengan tiga datuk dari pihak Bujang, sementara Bujang
sendiri bertarung dengan Datuk Jembalang Api. Pertarungan itu sangat dahsyat
dan terjadi d angkasa, sehingga tidak bisa dilihat oleh manusia biasa.
Akhirnya, Datuk Jembalang Api berhasil dikalahkan oleh Bujang. Bujang kemudian
berdamai dengan musuh yang baru dikalahkannya itu. Saat itu, Bujang dipuji oleh
guru-gurunya karena sudah mencapai tingkat ilmu yang tertinggi.
Beberapa bulan kemudian, Raja Alam
dan keluarganya pulang ke Sangar dan Johor. Pada waktu berpisah, mereka satu
per satu memberikan berbagai nasihat dan petuah tentang hidup berumah tangga
dan pendidikan anak kepada Bujang dan istrinya.
Beberapa tahun kemudian, Bujang dan
istrinya pindah ke Sialang Kawan yang sudah menjadi negeri yang ramai dan
makmur. Disitu, Bujang diangkat sebagai raja, sehingga negeri itu bertambah
kaya dan sentosa. Untuk menciptakan keamanan bagi rakyat dan para pedagang yang
datang ke negerinya, Bujang kemudian melayari Laut Batang Kampar selama enam
bulan untuk menumpas penyamun dan perompak. Sejak saat itu, ia diberi gelar
Datuk Demang Serail. Serail adalah ejaan setempat untuk menyebut malaikat
pencabut nyawa, Israil. Dalam hal ini, pengertiannya adalah, Bujang telah
mencabut nyawa para penyamun dan perompak. Bujang terus bertahta di Sialang
Kawan. Putranya yang tertua kemudian menjadi raja di Pekantua.
Demikianlah ringkasan nyanyi panjang
Bujang Tan Domang yang berkembang di masyarakat Petalangan.
4. Lirik nyanyi panjang
Sebelum masuk ke nyanyi panjang
tombo Bujang Tan Domang, terlebih dulu dinyanyikan pantun pembuka, yang sering
disebut dengan pantun bebalam. Pantun bebalam ini tidak panjang,
hanya sebagai pembuka sebelum masuk ke tombo. Berikut ini contoh dari lirik pantun
bebalam model lagu Indang Padonai:
Indai donai...
|
Indai donai...
|
Aaii..............
|
Aaii..............
|
Buah lakom di dalam somak
|
Buah lakom di dalam semak
|
Pada seumpun ditimpo bonto
|
Padi serumpun ditimpo bento
|
Salamualaikum kepado sanak
|
Assalamualaikum kepada sanak
|
Kami bepantun membukak ceito
|
Kami berpantun membuka cerita
|
................................
|
|
Indang donai...
|
Indang donai...
|
Aaii.................
|
Aaii.................
|
Untuk apo mumasang pelito
|
Untuk apa memasang pelita
|
Untuk penoang uang di balai
|
Untuk penerang orang di balai
|
Untuk apo mungonang ceito
|
Untuk apa mengenang cerita
|
Untuk pogangan uang nan amai
|
Untuk pegangan orang yang ramai
|
.......dan seterusnya.
|
Berikut ini contoh kutipan isi tombo
Bujang Tan Domang:
Eeii......Aaii................
|
Eeii....Aaii............
|
Iyolah kunun joman dolunyo
|
Ialah konon zaman dulunya
|
Joman dimano kami bilang
|
Zaman yang mana kami tuturkan
|
Sejoman tampuk lagi mudo
|
Zaman tampuk lagi muda
|
Sejoman tangkai lagi begota
|
Zaman tangkai lagi bergetah
|
Sejoman bumi nan tigo congkuk
|
Zaman bumi tiga sungkup
|
Sejomannya langik tigo juai
|
Zaman langit tiga jurai
|
Sejoman padi lagi menyadi
|
Zaman padi masih subur bernas
|
Sejoman binatang lagi bucakap
|
Zaman binatang lagi bercakap
|
Sejoman kayangan lagi onda
|
Zaman kayangan lagi rendah
|
Sejoman lawang langik lagi tebukak
|
Zaman lawang langit lagi rendah
|
.......................................
|
|
Eeii.........Aaii...............
|
Eeii.......Aaii..........
|
Betambah sonang ati Ajo Alam
|
Bertambah senang hati Raja Alam
|
Iyo nan bininyo Puti Mayang
|
Dengan istrinya Putri Mayang
|
Anak suang sudah beduo
|
Anak seorang sudah berdua
|
Tapi betino keduonyo
|
Tetapi perempuan keduanya
|
Eeii......Aaii.......................
|
Eeii......Aaii...................
|
Iyolah adat ajo nan bose
|
Ialah adat raja yang besar
|
Kalau bolum beanak jantan
|
Kalau belum beranak lelaki
|
Bolum lengkap isi sentano
|
Belum lengkap isi istana
|
Bolum beuat payung panji
|
Belum berurat payung panji
|
Belum sempono aso idupnyo
|
Belum sempurna rasa hidupnya
|
Bolum sampai ucap nan kabul
|
Belum samapai ucap dan kabul
|
.......dan seterusnya.
sumber melayuonline.com

0 Komentar