Slogan

Slogan

Mengejar Mungkin Melupakan Pasti



Masih segar ingatan kita terhadap bencana gempa yang menimpa saudara kita di Lombok dan sekitarnya. Korban luka-luka dan meninggal dunia pun ikut berjatuhan. Belum terhapus duka Lombok menyusul pula duka berikutnya gempa yang disertakan tsunami yang menimpa saudara kita di Palu, Donggala dan sekitarnya. Ratusan bahkan mungkin ribuan nyawa melayang, jutaan orang kehilangan tempat tinggal,
ribuan orang kehilangan sanak sudara dan ratusan anak kehilang orang tuanya. Kembali, badai duka Palu dan Donggala belum berlalu bahkan korban masih banyak yang belum ditemukan kembali ratusan nyawa melayang dengan jatuhnya pesawat Lion Air.
Tidak ada yang menduka dan berpikir diantara korban jatuhnya pesawat Lion Air bahwa hari itu adalah penerbangan mereka yang terakhir. Hari terakhir mereka bersuka ria bersama teman, sahabat dan keluarga. Tidak ada yang menduka, ombak besar tsunami akan menyapu kota Palu hari itu. Semua kejadian musibah itu begitu cepat berlalu tanpa adanya peringat awal untuk kita bersiap siaga.
Kematian sangatlah dekat dengan kita. Kematian adalah sesuatu yang pasti. Tapi banyak diantara kita sebagai hamba Allah tidak pernah mempersiapkan diri untuk hal yang pasti bernama kematian itu. Kita lebih banyak mempersiapkan diri berjuang dan berusaha untuk mengejar sesuatu yang masih mungkin. Mungkin kita akan kaya, mungkin kita akan sukses, mungkin besok kita akan bertemu dan berpesta serta semua kemungkinan lainnya. Kita begitu mempersipkan diri untuk hal itu. Lalu bagaimana dengan hal yang pasti? Apakah kita selalu mempersipkan diri untuk menyambut hal yang pasti kematian itu?
Mati tidak ada hubungannya dengan umur atau usia karena banyak orang yang masih muda bahkan anak-anak mati tidak menunggu tua. Mati tidak ada hubungan dengan sakit karena banyak juga orang yang mati bukan karena sakit. Kehidupan dunia adalah satu proses pilihan yang berawal masuk dari pintu yang bernama kelahiran dan keluar pada pintu kematian. Manusia berawal dari tidak ada untuk ada, lalu ada untuk sementara kemudian ada untuk selamanya. Demikianlah proses perjalanan manusia di dunia yang panah dan penuh tipuan ini. Kita diberikan akal dan pikiran untuk memilih dan mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk kehidupan yang kekal di akhirat.
Rasullullah pernah memberikan nasehat bahwa cukuplah kematian menjadi nasehat. Betapa banyak manusia di dunia ini tidak mempersiapkan dirinya untuk akhirat karena terpedaya oleh rayuan dunia. Untuk itu marilah kita jadikan peristiwa bencana yang menimpa saudara kita seperti yang saya ceritakan di atas menjadi nasehat dan pelajaran bagi kita. Betapa kematian begitu dekat dengan kita yang kapan saja dan dimana saja bisa datang. Kematian tidak bertanya kesipan kita untuk menyambutnya tapi kitalah yang senetiasa mempersipkan diri untuk menyambutanya.

Posting Komentar

0 Komentar