Ali bin Abi Thalib – Penghulu Para Sufi
Di antara sekian banyak sahabat Nabi, hanya Ali bin Abi Thalib-lah
yang diberikan sebutan karamallahu wajhah; sebuah sebutan yang juga
berarti doa “Semoga Allah memuliakan wajahnya” atau “Allah telah
memuliakan wajahnya.” Semua ulama sepakat bahwa doa itu hanya
dikhususkan untuk Imam Ali saja seperti halnya sebutan shalallahu
‘alaihi wa alihi wassalam untuk Nabi Muhammad. Ada beberapa riwayat yang
menjelaskan hal ini. Salah satu riwayat di antaranya menjelaskan alasan
tentang doa itu
Pertama, di antara semua sahabat Nabi saw, hanya Ali bin Abi Thalib
yang tidak pernah menyembah berhala. Dia masuk Islam dalam usia yang
masih kecil sehingga tak sempat beribadat kepada berhala. Artinya,
wajahnya tak pernah disujudkan kepada berhala. Ali kecil langsung sujud
kepada Allah swt.
Alasan kedua, Imam Ali adalah orang yang dikenal tak pernah melihat
aurat, baik aurat dirinya sendiri maupun aurat orang lain. Dalam sebuah
pertemuan di Shiffin, pasukan Imam Ali bertemu dengan pasukan Muawiyah.
Sebelum perang berkecamuk, biasanya diadakan mubarazah atau duel antara
dua orang yang mewakili pasukan yang akan bertempur. Imam Ali menantang
Muawiyah ber-mubarazah namun Muawiyah tak berani dan Amr bin Ash
menggantikannya. Dalam duel itu, Amr terdesak dan mengalami kekalahan.
Ketika Imam Ali hendak memukulkan pedangnya ke kepala Amr, Amr lalu
membuka auratnya sehingga Imam Ali segera berbalik memalingkan wajahnya
dan meninggalkan Amr. Karena Imam Ali tak mau melihat aurat, selamatlah
Amr.
Semasa hidupnya, Imam Ali dikenal sebagai seorang pria yang gagah dan
tampan. Banyak hadis yang meriwayatkan Imam Ali memiliki kepala yang
agak botak sehingga orang yang tak senang pada Imam Ali memberikan
julukan ashla yang berarti “Si Botak”. Umar bin Khattab pernah berkata,
“Sekiranya tak ada si ashla, celakalah Umar!” Ketika banyak sahabat lain
mengecam Imam Ali dengan memberikan julukan ashla, Rasulullah saw
berkata, “Janganlah kalian mengecam Ali karena ia sudah tenggelam dalam
kecintaan kepada Allah.”
Imam Ali sering menjadi fana atau larut dalam kecintaannya kepada
Allah. Pernah suatu hari, Abu Darda menemukan Ali terbujur kaku di atas
tanah seperti sebongkah kayu di sebuah kebun kurma milik seorang
penduduk Mekkah. Dengan tergopoh-gopoh, Abu Darda mendatangi Fathimah
untuk berbelasungkawa, karena ia mengira Ali telah meninggal dunia.
Fathimah hanya berkata, “Sepupuku, Ali, tidak mati melainkan ia pingsan
karena fana dalam ketakutannya kepada Allah. Ketahuilah, kejadian itu
sering menimpanya.”
Bagi Imam Ali, salat tidak merupakan peristiwa biasa namun adalah
pertemuan agung dengan Allah swt. Imam Al-Ghazali mengisahkan hal ini
dalam kitab Ihya Ulumuddin:
Suatu hari, menjelang waktu salat, seorang sahabat menemukan Imam Ali
dalam keadaan tubuh yang berguncang dan wajah yang pucat pasi. Ia
bertanya, “Apa yang telah terjadi, wahai Amirul Mukminin?” Imam Ali
menjawab, “Telah datang waktu salat. Inilah amanat yang pernah diberikan
Allah kepada langit, bumi, dan gunung tetapi mereka menolak untuk
memikulnya dan berguncang dahsyat karenanya. Sekarang, aku harus
memikulnya.”
Dengan sikapnya itu, Imam Ali ingin mengajarkan sahabatnya bahwa
salat bukanlah kejadian biasa. Salat adalah amanat yang di dalamnya
mengandung perjanjian mulia antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Alangkah anehnya bila kita masih belum merasakan kekhusyukan itu di
dalam salat kita. Tuhan berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang mukmin
itu; yaitu mereka yang khusyuk di dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun; 1)
Imam Ali juga dikenal karena salatnya yang khusyuk. Banyak sahabat
yang memuji salat Ali sebagai salat yang mirip dengan salat Rasulullah
saw. Puluhan tahun sejak kematian Rasulullah, seorang sahabat bernama
‘Umran bin Husain, salat di belakang Imam Ali di Basrah. ‘Umran berkata,
“Lelaki itu mengingatkan aku pada salat yang dilakukan Rasulullah saw.”
‘Umran terkesan akan salat Ali bukan karena gerakan-gerakan lahiriahnya
melainkan karena kekhusyukannya.
Ibn Abi Al-Hadid, seorang tokoh Muktazilah, bercerita tentang ibadat
Imam Ali. Ia menyebutkan Ali sebagai orang yang paling taat beribadat
dan yang paling banyak salat dan puasanya sehingga dari Ali-lah orang
banyak belajar tentang salat malam. Selain itu, Ali senantiasa
melazimkan wirid dan menunaikan ibadat-ibadat nafilah. “Dalam Perang
Shiffin,” Al-Hadid bercerita, “di tengah-tengah perang yang berkecamuk,
Ali masih mendirikan salat. Sesudah salat, ia membaca wirid. Dalam
kesibukan perangnya, ia tak meninggalkan wiridnya padahal anak panah
melintas di antara kedua belah tangan dan di antara kedua daun
telinganya.”
Banyak hadis meriwayatkan kehidupan Imam Ali yang teramat sederhana.
Ali bekerja keras membanting tulang untuk nafkah keluarganya. Istrinya,
Fathimah, setiap hari menggiling gandum sampai melepuh tangannya. Suatu
saat, setelah memenangkan sebuah peperangan, kaum muslimin memiliki
banyak tawanan perang. Fathimah berkata pada Ali, “Bagaimana jika kita
meminta salah seorang tawanan kepada Rasulullah untuk menjadi pembantu
kita?” Ali enggan menyampaikan permohonan ini pada Rasulullah karena
merasa sangat malu. Ia meminta Fathimah-lah yang memintakan hal itu.
Pergilah Fathimah menemui Rasulullah saw. Begitu ia berada di hadapan
Nabi yang mulia, Fathimah tak kuasa menyampaikan maksudnya. Ia pulang
lagi ke rumahnya. Imam Ali lalu pergi untuk menyampaikan hal itu dan ia
pun tak kuasa mengutarakan keinginan itu dan kembali lagi. Akhirnya
keduanya memutuskan untuk pergi bersama-sama ke tempat Rasulullah.
Disampaikanlah hajat itu tapi Rasulullah tak menjawab permintaan mereka.
Keduanya pulang dengan perasaan malu dan takut akan kemurkaan
Rasulullah.
Malam harinya Nabi datang ke rumah Ali. Nabi menyaksikan Ali hanya
berselimutkan sarung yang amat pendek padahal malam teramat dingin. Jika
selimut itu ditarik ke atas, terbukalah bagian bawah dan jika selimut
itu ditarik ke bawah, terbukalah bagian atas. Rasulullah terharu melihat
kesederhanaan Ali. Ia berkata kepada keluarga mulia itu, “Maukah kalian
aku berikan pembantu yang lebih baik dari seluruh isi langit dan bumi?”
Rasulullah saw kemudian memberikan wirid untuk dibacakan oleh
keluarganya itu seusai salat. Wirid itu berisi 33 kali tasbih, tahmid,
dan takbir. Begitu setianya Imam Ali dengan wiridnya itu, ia tak pernah
meninggalkannya bahkan saat perang sekali pun. Ia melazimkannya dalam
setiap keadaan.
Di masa kekuasaan Muawiyah, karena kebencian Muawiyah yang teramat
sangat kepada Imam Ali, para khatib Jumat diperintahkan untuk mengakhiri
setiap khutbahnya dengan kecaman kepada Ali. Cacian dan makian ini
berlangsung selama hampir puluhan tahun. Ketika Umar bin Abdul Aziz
berkuasa, perintah ini dihapuskan. Namun meskipun Muawiyah begitu
membenci Ali, ia harus mengakui keutamaan sifat-sifat Ali. Suatu saat,
Darar bin Dhamrah Al-Khazani diminta Muawiyah untuk bercerita tentang
Imam Ali kw. Ia tak mau memenuhi permintaan itu. Ia takut, bila ia
menceritakan keadaan Ali apa adanya, ia akan dianggap sebagai orang yang
mengutamakan Ali, dan ia akan dihukum. Oleh sebab itu Darar hanya
berkata, “Ampunilah aku, wahai Amirul Mukminin! Jangan perintahkan aku
untuk mengungkapkan hal itu. Perintahkan aku untuk melakukan hal lain
saja.”
“Tidak,” ujar Muawiyah, “aku takkan mengampunimu.” Akhirnya Darar
bercerita tentang Ali dalam bahasa Arab yang teramat indah.
Terjemahannya sebagai berikut:
“Ali adalah seorang yang cerdik cendekia dan gagah perkasa. Ia
berbicara dengan jernih dan menghukum dengan adil. Ilmu memancar dari
kedalaman dirinya dan hikmah keluar dari sela-sela ucapannya. Ia
mengasingkan diri dari dunia dengan segala keindahannya untuk kemudian
bertemankan malam dengan seluruh kegelapannya, di sisi Allah. Air
matanya senantiasa mengalir dan hatinya selalu tenggelam dalam pikiran.
Ia sering membolak-balikkan tangannya dan berdialog dengan dirinya. Ia
senang dengan pakaian yang sederhana dan makanan yang keras.”
“Demi Allah, ia dekat kepada kami dan kami senang berdekatan
dengannya. Ia menjawab bila kami bertanya. Namun betapa pun ia dekat
dengan kami, kami tak sanggup menegurnya karena kewibawaannya. Jika
tersenyum, giginya tampak bagai untaian mutiara. Ia memuliakan para ahli
agama dan mencintai orang miskin. Orang kuat tak berdaya di hadapannya
karena keadilannya sementara orang yang lemah tak putus asa di sisinya.”
“Aku bersaksi demi Allah, aku sering melihatnya berada di mihrab pada
sebagian tempat ibadatnya. Malam telah menurunkan tirainya dan
gemintang tak tenggelam, saat itu ia memegang janggutnya dan merintih
dengan rintihan orang yang sakit. Ia menangis dengan tangisan orang yang
menderita. Seakan-akan kudengar jeritannya Ya Rabbana, ya Rabbana…..”
“Ia menggigil di hadapan kekasihnya. Kepada dunia, ia berkata:
Kepadaku kau datang mencumbu. Kepadaku kau merayu. Enyahlah dan pergi!
Tipulah orang selain aku. Aku telah menjatuhkan talak tiga kepadamu.
Usiamu pendek, posisimu rendah. Betapa sedikitnya bekal dan betapa
jauhnya perjalanan, dan betapa sepinya perantauan.”
Muawiyah mendengar Darar yang bercerita dengan penuh perasaan.
Meskipun ia amat membenci Ali, tapi ia tak kuasa menahan tangisan begitu
mendengar penuturan Darar. Pada kesempatan lain, Darar pernah ditanya,
“Bagaimana kerinduanmu kepada Ali?” Darar menjawab, “Aku rindu kepadanya
seperti kerinduan seorang perempuan yang kekasihnya disembelih di
pangkuannya. Air matanya takkan pernah kering, dukanya panjang dan
takkan pernah usai.”
Imam Ali selalu mengisi malamnya dengan tangisan dan orang-orang yang
mengenalnya akan mengisi kisah Ali dengan tangisan pula. Dalam tasawuf,
menangis termasuk salah satu hal yang harus dilatih. Imam Ali berkata,
“Salah satu ciri orang yang celaka adalah ia yang memiliki hati yang
keras. Dan ciri hati yang keras adalah hati yang sukar menangis.”
Nabi saw bersabda, “Jika engkau membaca Al-Quran, menangislah. Jika
tidak bisa, berusahalah agar engkau menangis.” Pada salah satu doanya
yang teramat indah, Imam Ali memohon:
“Tuhanku, berilah daku kesempurnaan ikatan kepada-Mu. Sinarilah
bashirah hati kami dengan cahaya karena melihat-Mu sehingga kalbu kami
menorehkan tirai cahaya dan sampailah ia pada sumber kebesaran; arwah
kami terikat pada keagungan kesucian-Mu. Air mata tidak mengering
kecuali karena hati yang keras dan hati takkan keras kecuali karena
banyaknya doa.”
KEHARUMAN PRIBADI IMAM ALI BIN ABI THALIB
Dalam rangka usaha meluruskan pengertian kaum muslimin mengenai
ajaran agama Islam yang berkaitan dengan kewajiban berusaha mencari
nafkah penghidupan, Imam ‘Ali selalu memberi pengertian kepada kaum
muslimin mengenai beberapa pokok ajaran Islam, antara lain:
1. Nilai seseorang tergantung pada kadar kemauannya.
2. Bukankah kemiskinan itu termasuk cobaan hidup? Ketahuilah, bahwa
kemiskinan yang terberat itu adalah penyakit jasmani. Dan penyakit
jasmani yang terparah adalah penyakit hati. Kesehatan badan lebih
berharga daripada kecukupan harta, dan hati yang bertaqwa lebih berharga
daripada badan yang sehat.
3. Barangsiapa yang enggan bekerja ia akan menghadapi cobaan hidup, dan
Allah tidak membutuhkan orang yang tidak mengindahkan nikmat yang
dikaruniakan dalam harta dan jiwanya.
4. Orang yang bahagia adalah yang dapat menarik pelajaran dari orang
lain, orang yang sengsara ialah orang yang tertipu oleh hawa nafsunya.
5. Hai para hamba Allah, janganlah sekali-kali kalian terkecoh oleh
kebodohan kalian, dan jangan pula kalian menuruti hawa nafsu kalian.
Orang yang tunduk kepada dua hal itu ia berada di tepi jurang terjal.
6. Ilmu pengetahuan wajib diikuti dengan amal perbuatan. Barangsiapa
berilmu ia harus beramal. Dengan amal ilmu akan meningkat tinggi dan
tanpa amal, ilmu akan merosot.
7. Amal perbuatan adalah buah ilmu pengetahuan. Orang berilmu yang
berbuat tidak sesuai dengan ilmunya, sama dengan orang bodoh yang
kebingungan dan tetap bodoh. Bahkan orang seperti itu kesalahannya lebih
besar, lebih pantas disesali dan di hadirat Allah ia akan menjadi orang
yang paling menyesal. Orang yang bekerja tanpa ilmu sama dengan orang
yang bepergian tanpa kenal jalan, sehingga orang lain yang melihatnya
akan bertanya-tanya: “berpergiankah atau pulang?!?”
8. Barangsiapa dikaruniai kekayaan oelh Allah hendaklah ia memperhatikan
kaum kerabatnya, menghormati dan menjamu tamu sebaik-baiknya,
membebaskan tawanan perang dan melepaskan orang dari penderitaan,
membantu kaum fakir miskin dan orang yang tenggelam di dalam hutang demi
kebajikan, dan hendaknya ia bersabar tidak menuntuk hak karena ingin
mendapatkan pahala semata-mata. Sifat-sifat demikian itu merupakan
keberuntungan yang akan menghantarkan orang ke arah kemuliaan di dunia
dan insya Allah merupakan pembuka jalan baginya untuk memperoleh
kebahagiaan di akhirat.
9. Bekerjalah dengan sekuat tenagamu, janganlah engkau menjadi penumpang hasil kerja orang lain.
10. Janganlah engkau malu kalau hanya dapat memberi sedikit, karena
dapat memberi sedikit lebih baik daripada tidak dapat memberi. Jadilah
engkau seorang yang penyantun, tetapi jangan menjadi seorang yang
pemboros. Jadilah engkau seorang yang hemat, tapi jangan menjadi seorang
yang kikir.
11. Janganlah engkau menjadi orang yang tidak mempan peringatan, karena
orang yang berakal cukup diperingatkan dengan tutur-kata yang baik,
sedangkan hewan tak dapat diperingatkan kecuali dengan pukulan.
12. Hati manusia dapat merasa jemu dan lesu sebagaimana badan juga
merasa jemu dan lesu. Karena itu carilah ilmu dan hikmah sebagai
obatnya.
Imam ‘Ali berpendapat, orang yang hidup dicengkeram kemelaratan tentu
kehilangan ketenangan dan ketentramannya. Sukar baginya untuk
menghayati kejujuran, perilaku yang baik dan menghias dirinya dengan
sifat-sifat utama. Sukar pula beginya untuk membuan rasa iri hati dan
dengki dari lubuk hati. Maka itu ia mudah terperosok ke dalam
penyelewengan yang tidak baik.
Benar bahwa Imam ‘Ali hidup zuhud dan menganjurkan kezuhudan,
demikian juga dengan beberapa sahabat Nabi semisal Abu Dzar Al-Ghifari.
Akan tetapi mereka tak pernah menganjurkan untuk lebih suka hidup
melarat daripada berkecukupan. Imam ‘Ali tidak jemu-jemunya mengingatkan
kepada kaum muslimin, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau
hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhirat seakan-akan engkau
mati esok hari.”
Menurut Imam ‘Ali upaya memperoleh rizki dengan jalan yang benar dan
lurus tidak akan mendatangkan hasil lebih besar daripada yang diperlukan
untuk mengatasi kebutuhan. Dengan tegas dan jelas Imam ‘Ali berkata:
“Jika kalian menempuh jalan kebenaran, tentu akan terbuka jalan yang
menyenangkan kalian dan tidak akan ada orang lain yang menggantungkan
penghidupannya kepada orang lain.”
Berdasarkan pengamatan yang tajam dan cermat Imam ‘Ali as yakin bahwa
kemelaratan dapat menjerumuskan manusia ke dalam kekufuran. Karena
itulah ia memerangi segenap kekuatan yang ada, serta dengan tegas dan
tandas mencemoohkan orang-orang yang menganjurkan atau membagus-baguskan
kemelaratan dengan dalih kezuhudan. Memang kalau hidup zuhud akan
menambah iman dan taqwa kepada Allah Ta’ala, akan tetapi kalau
kemelaratan akan membawa ke dalam kekufuran. Dimana nanti kita akan
‘menyembah’ selain-Nya. Itu bisa harta dan juga kekuasaan. Maka itu
seumpamanya kemelaratan itu berupa manusia, seharusnya kita membunuhnya.
Ini hanya secuil dari sekian banyak hikmah yang bisa kita temukan
dalam diri Imam ‘Ali, karena Imam ‘Ali as adalah mahasiswa utama yang
menimba ilmu dari mahaguru umat sedunia, Muhammad saw. Yang mana,
Rasulullah saw bersabda: “Hai’Ali, Allah telah menghias dirimu dengan
hiasan yang paling disukai-Nya, Allah mengaruniaimu perasaan mencintai
kaum lemah hingga Allah membuatmu puas (ridho) mempunyai pengikut mereka
dan mereka pun puas engkau menjadi pemimpin mereka.”

0 Komentar