Setiap
memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam khususnya kami orang Melayu dahulunya
sangat bergembira. Hal ini karena pada bulan ini lah Nabi Muhammad SAW
dilahirkan tepatnya pada tanggal 12. Orang tua-tua Melayu akan mempersiapkan
banyak makanan khas yang sangat istimewah untuk menyambut peringatatan hari
kelahiran Rasulullah. Makanan istimewah ini dipersiapkan sebagai bentuk dari
kegembiraan dan syar kepada kami anaknya yang masih kecil untuk mengenal dan
selalu mengingat akan sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Namun
beberapa tahun belakangan ini kami agak terusik dengan banyaknya yang
mengatakan bahwa apa yang kami lakukan selama ini adalah satu perbuatan yang
salah atau orang menyebutnya bid’ah. Entahlah, kami pun tak begitu tahu
persisnya sejak kapan perayaan mauled ini dianggap salah. Ini semua tentu saja
karena kurangnya ilmu dan informasi kami yang tinggal dipedalaman negri Melayu
ini.
Pada
tulisan ini saya tidak membahas tentang hukum mauled karena saya sadar betul
akan keahlian saya. Saya hanya ingin mengajak untuk bertukar pikiran tentang
manfaat dari mauled itu sendiri. Kita pada saat ini hidup dizaman yang edan
zaman dimana banyak orang yang mengaku Islam tapi tidak mengerti Islam. Banyak
orang sebagai umat Nabi Muhammad SAW tapi tak mengenal siapa itu yang mulia
Muhammad SAW.
Memperingati
hari kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah salah satu cara kita saat ini untuk
mengingatkan orang Islam akan kelahiran Rasulullah. Bisa kita bayangkan, kalau
seandainya maulid ini tidak kita peringati maka akan banyak umat Islam yang
lupa dan tidak tahu sejarah Nabi. Bukankah kita dianjurkan untuk mencintai Nabi
Muhammad SAW? Bagai mana mungkin kita bisa mencintai nabi kalau kita tidak
mengenal-Nya. Maka dengan adanya perayaan ini setidaknya setahun sekali kembali
umat Islam diingatkan dan dikenalkan pada Nabi Muhammad.
Argumentasi
yang selalu dilontarkan oleh sebagian saudara kita yang mengatakan tidak boleh
merayakan mauled adalah karena tidak ada dalilnya. Disini saya akan mengutip
beberapa dalil yang saya baca dan saya dengar dari Tuan-tuan Guru saya. Yang
pertama adalah ayat surat
Ibrahim ayat 5:
وَذَكِّرْهُمْ
بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآياتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
“dan
ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah, Sesunguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak
bersyukur.”
Apakah
hari kelahiran Nabi tidak termasuk kedalam kategori hari Allah pada ayat di
atas? Bukankah Rasulullah lahir untuk membawa kebenaran dan rahmat bagi seluruh
alam.
Kisah Suwaibah Aslamiyah
yang dimerdekakan oleh Abu Lahab
karena kegembiraannya terhadap kelahiran
Nabi Muhammad SAW. Setahun setelah Abu lahab meninggal, salah satu saudaraya yang juga merupakan
paman Rasulullah, Saidina Abbas bin Abdul Muthallib bermimpi bertemu dengannya
dan menanyakan bagaimana keadaan Abu Lahab, ia menjawab “bahwa tidak mendapat
kebaikan setelahnya tetapi ia mendapat minuman dari bawah ibu jarinya pada
setiap hari senin karena ia memerdekakan Suwaibah Aslamiyah ketika mendengar
kabar gembira kelahiran Nabi Muhammad”. Hadis ini tersebut dalam Shaheh Bukhary
dengan nomor 4711. kisah ini juga disebutkan oleh Ibnu Kastir dalam kitab
beliau Al Bidayah An Nihayah jilid 2 hal 273 ( saya kutip dari http://lbm.mudimesra.com/2012/03/dalil-merayakan-maulid.html
)
Kalau
Abu Lahab saja yang vonis azab nerakanya sudah ditetapkan dalam Al Quran
mendapatkan keringanan azab karena pernah bergembira akan kelahiran Rasulullah,
lalu bagaimana dengan kita umatnya yang beriman yang percaya akan ajaran
Rasulullah. Apakah mungkin kiranya kita berdosa karena bergembira dengan
merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW? Sedangkan Abu Lahab yang ingkar saja
bergembira lalu mendapatkan keringan azab?
Rasulullah
sendiri pernah merayakan hari kelahiran beliau sendiri yaitu dengan berpuasa
pada hari senin. Ketika ditanyakan oleh para shahabat beliau menjawab:
فيه
ولدت وفيه أُنزل عليَّ
“itu adalah hari kelahiranku dan
hari diturunkan wahyu atasku”.(H.R. Muslim)
Hadis
ini tersebut dalam kitab Shaheh Muslim jilid 2 hal 819. Hadis ini menjadi
landasan yang kuat untuk pelaksanaan maulid walaupun dengan cara yang berbeda
bukan dengan berpuasa seperti Rasululah melainkan dengan menyediakan makanan
dan berzikir dan bershalawat, namun ada titik temunya yaitu mensyukuri
kelahiran Rasulullah saw. Imam As Sayuthy menjadikan hadis ini sebagai landasan
dibolehkan melaksanakn maulid Nabi.
Demikianlah
pikiran saya tentang perayaan Maulid Nabi dan sampai sekarang kami orang Melayu
tetap memperingatinya. Mohon maaf atas segala kekeliruan saya pada tulisan ini.
Hamba Allah yang dhoif lagi fakir.

0 Komentar