Slogan

Slogan

makalah gangguan neurotik



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Neurotic merupakan jenis gangguan mental yang paling ringan, individu sadar kalau bermasalah namun tidak tahu bagaimana mengatasinya. Gangguan neurotic dalam Pedoman Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ) adalah gangguan mental yang tidak mempunyai insight dan hubungan dengan realitanya tidak terganggu. Maramis menerangkan bahwa neurotic ialah suatu kesalahan penyesuaian diri secara emosional, karena tidak dapat diselesaikannya suatu konflik tak sadar. Gejalanya yaitu kecemeadsan yang dirasakan secara langsung atau diubah oleh berbagai mekanisme pertahanan psikologis dan kemudian munculah gejala-gejala subyektif yang mengganggu.

Menurut chaplin (2002) neurotic merupakan suatu penyakit mental yang lunak, dicirikan dengan tanda-tanda
a)      Wawasan yang tidak lengkap mengenai sifat-sifat kesukarannya
b)      Konflik-konflik batin
c)      Reaksi-reaksi kecemasan
d)     Kerusakan parsial atau sebagian pada struktur kepribadiannya
e)      Seringkali, tetapi tidak selalu ada, disertai phobia, gangguan perncernaan, dan tingkah laku obsesif kompulsif
Kartono (1980) menyebutkan bahwa sebab-sebab timbulnya gangguan neurotic, adalah,
1.      Tekanan-tekanan sosial dan tekanan cultural yang sangat kuat, yang menyebutkan ketakutan yang disertai dengan kecemasan ketegangan-ketegangan dalam batin sendiri yang kronis berat sifatnya. Sehingga orang yang bersangkutan mengalami mental breakdown.
2.      Individu mengalami banyak frustasi, konflik-konflik emosional dan konflik internal internal yang serius, yang sudah dimulai sejak anak-anak.
3.      Individu sering tidak rasional sebab sering memakai defence mechanism yang negative dan lemahnya pertahanan diri secara fisik dan mental.
4.      Pribadinya sangat labil tidak imbang dan kemauannya sangat lemah
Manson, mengemukakan bahwa orang yang mengalami gangguan neurotic ditandai oleh:
a.       Anxiety, sebagai sombol rasa takut, gelisah, rasa tidak aman, tidak mampu, mudah lelah, dan kurang sehat.
b.      Emosional Sensitivity, sangat perasa, tidak mampu menyesuaikan secara baik emosi dan sosialnya labil. Mudah tersinggung dan banyak melakukan mekanisme pertahanan diri.
c.       Depressive Fluactuations, tanda mudah tertekan, susah, suassana hati muram, mudah kecewa.
Dari data diatas dapat dikatakan dan dapat diambil kesimpulan bahwa banyak sekali contoh-contoh penyakit dari gangguan neurotic itu sendiri, misalnya:
1.      Asma
2.      Migren
3.      Pobia
4.      Dermatitis
5.      Magh
6.      Insomnia.
7.      OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dilatar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dari makalah ini adalah agar kita semua tahu penjelasan dari beberapa gangguan dari neurotic seperrti yang akan dibahasa adalah:
1.      Pengertian Insomnia
2.      Pegertian OCD (Obsessive Compulsive Disorder)
3.      Pengertian Phobia


C.    TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui apa saja penjelasan dari penyakit-penyakit dari gangguan neurotic itu sendiri. Seperti halnya yang akan dibahas dalam bab-bab selanjutnya adalah Insomnia, OCD (Obsessive Compulsive Disorder), dan Phobia.


















BAB II
PEMBAHASAN
Sesuai dengan topic pembahasan yang ada pada makalah ini. Disini kami akan menjelaskan 3 contoh penyakit yang akan dibahas tentang neurotic yaitu :
1.      INSOMNIA  

a.       Pengertian Insomnia
Insomnia adalah kelainan atau gangguan atau kesulitan saat ingin tidur. Selain itu insomnia juga kelainan berupa kesulitan untuk mempertahankan tidur. Insomnia sendiri bias disebabkan oleh gangguan psikologi pada seseorang, selain itu ada juga beberapa factor dari luar yang bisa membuat seseorang menderita insomnia.

b.      Jenis-jenis Insomnia
Adapun jenis-jenis insomnianya diantaranya yaitu :

1.      Jenis transient (artinya cepat berlalu), oleh karena itu insomnia jenis ini hanya terjadi beberapa malam saja.
2.      Jenis Jangka pendek. Jenis dapat belangsung sampai beberapa minggu dan biasanya akan kembali seperti biasa.
3.      Jenis kronis (atau parah) gangguan tidak dapat tidur berlangsung lebih dari 3 minggu.


c.       Diagnosis Insomnia
Untuk melakukan suatu diagnosis pada insomnia, sebelumnya harus melewati tahap penilaian yaitu :
·         Pola tidur penderita sakit jiwa
·         Pemakaian obat-obatan, alkohol, atau obat terlarang.
·         Tingkatan stres psikis.
·         Riwayat medis.
·         Aktivitas fisik
d.      Penyebab Insomnia
Insomnia bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan emosional,kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan. Sulit tidur sering terjadi, baik pada usia muda maupun usia lanjut; dan seringkali timbul bersamaan dengan gangguan emosional, seperti kecemasan, kegelisahan, depresi atau ketakutan. Kadang seseorang sulit tidur hanya karena badan dan otaknya tidak lelah.
Orang yang pola tidurnya terganggu dapat mengalami irama tidur yang terbalik, mereka tertidur bukan pada waktunya tidur dan bangun pada saatnya tidur. Hal ini sering terjadi sebagai akibat dari:
·         Jet lag (terutama jika bepergian dari timur ke barat).
·         Bekerja pada malam hari.
·         Sering berubah-ubah jam kerja.
·         Penggunaan alkohol yang berlebihan.
·         Efek samping obat (kadang-kadang).
·         Kerusakan pada otak (karena ensefalitis, stroke, penyakit Alzheimer).
e.       Gejala Insomnia
Penderita mengalami kesulitan untuk tidur atau sering terjaga di malam hari dan sepanjang hari merasakan kelelahan. Awal proses tidur pada pasien insomnia mengacu pada latensi yang berkepanjangan dari waktu akan tidur sampai tertidur. Dalam Insomnia psiko-fisiologis, pasien mungkin mengeluh perasaan cemas, tegang, khawatir, atau mengingat secara terus-menerus masalah-masalah di masa lalu atau di masa depan karena mereka berbaring di tempat tidur terlalu lama tanpa tertidur. Pada insomnia akut, dimungkinkan ada suatu peristiwa yang memicu, seperti kematian atau penyakit yang menyerang orang yang dicintai. Hal ini dapat dikaitkan dengan timbulnya insomnia. Pola ini dapat menjadi tetap dari waktu ke waktu, dan pasien dapat mengalami insomnia, berulang terus-menerus. Semakin besar usaha yang dikeluarkan dalam mencoba untuk tidur, tidur menjadi lebih sulit diperoleh. Menonton jam saat setiap menit dan jam berlalu hanya meningkatkan perasaan terdesak dan usaha untuk tertidur. Tempat tidur akhirnya dapat dipandang sebagai medan perang, dan tidur lebih mudah dicapai dalam lingkungan yang asing

f.       Penanganan
Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan. Salah satu terapi psikologis yang efektif menangani insomnia adalah terapi kognitif. Dalam terapi tersebut, seorang pasien diajari untuk memperbaiki kebiasaan tidur dan menghilangkan asumsi yang kontra-produktif mengenai tidur.
Banyak penderita insomnia tergantung pada obat tidur dan zat penenang lainnya untuk bisa beristirahat. Semua obat sedatif memiliki potensi untuk menyebabkan ketergantungan psikologis berupa anggapan bahwa mereka tidak dapat tidur tanpa obat tersebut.
Pengobatan insomnia tergantung kepada penyebab dan beratnya insomnia. Orang tua yang mengalami perubahan tidur karena bertambahnya usia, biasanya tidak memerlukan pengobatan, karena perubahan tersebut adalah normal. Penderita insomnia hendaknya tetap tenang dan santai beberapa jam sebelum waktu tidur tiba dan menciptakan suasana yang nyaman di kamar tidur; cahaya yang redup dan tidak berisik.
Jika penyebabnya adalah stres emosional, diberikan obat untuk mengurangi stres. Sedangkan jika penyebabnya adalah depresi, diberikan obat anti-depresi. Jika gangguan tidur berhubungan dengan aktivitas normal penderita dan penderita merasa sehat, bisa diberikan obat tidur untuk sementara waktu. Alternatif lain untuk mengatasi insomnia tanpa obat-obatan adalah dengan terapi hipnosis atau hipnoterapi.
Selain penangan diatas, ada penangan yang lainnya diantaranya ada beberapa terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi insomnia, yaitu:
1.      CBT (Cognitive Behavioral Therapy) CBT digunakan untuk memperbaiki distorsi kognitif si penderita dalam memandang dirinya, lingkungannya, masa depannya, dan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya sehingga si penderita merasa berdaya atau merasa bahwa dirinya masih berharga.
2.      Sleep restriction therapy, digunakan untuk memperbaiki efisiensi tidur si penderita insomnia.
3.      Stimulus control therapy, berguna untuk mempertahankan waktu bangun pagi si penderita secara reguler dengan memperhatikan waktu tidur malam dan melarang si penderita untuk tidur pada siang hari meski hanya sesaat.
4.      Relaxation Therapy, berguna untuk membuat si penderita rileks pada saat dihadapkan pada kondisi yang penuh ketegangan.
5.      Cognitive Therapy, berguna untuk mengidentifikasi sikap dan kepercayaan si penderita yang salah mengenai tidur.
6.      Imagery Training, berguna untuk mengganti pikiran-pikiran si penderita yang tidak menyenangkan menjadi pikiran-pikiran yang menyenangkan.

g.      Contoh kasus
Ny.T mengalami kesulitan memulai tidur dan hanya tidur kurang lebih tiga jam dalam satu malam tetapi setiap satu jam sekali selalu terbangun. Kondisi ini mengakibatkan Ny.T selalu merasa tubuh tidak fresh dan berat badannya mengalami penurunan dari 52 kg menjadi 47 kg. Penyebab Ny.T mengalami insomnia adalah suami Ny.T menuduh Ny.T telah berselingkuh karena hasutan tetangga yang tidak suka pada Ny.T berusaha menjelaskan pada suaminya bahwa dirinya tidak berselingkuh, tetapi suami Ny.T tetap tidak percaya. Suami Ny.T selalu marah-marah pada Ny.T dan melarang Ny.T untuk berbincang-bincang dengan tetangga diluar rumah. Suami Ny.T juga pelit dalam memberikan uang belanja dan melarang Ny.T untuk berdagang. Pada awalnya, Ny.T berusaha untuk tidak terlalu serius dalam memikirkan masalahnya dan menuruti keinginan suaminya, namun suami Ny.T tetap memperlakukan Ny.T dengan buruk. Suami Ny.T selalu memarahi Ny.T sehingga Ny.T selalu memikirkannya dan merasa tertekan. Ny.T dan suaminya juga pisah ranjang. Ny.T juga takut bercerita pada suaminya bahwa dirinya mengalami kesulitan tidur setiap hari.

2.      OCD

a.       Pengertian OCD
      Gangguan obsesif-kompulsif (obsessive-compulsive disorder) adalah gangguan kecemasan yang ditandai dengan pikiran, impuls, gambaran atau gagasan yang berulang dan mengganggu (obsesi) disertai dengan upaya untuk menekan pikiran-pikiran tersebut melalui perilaku fisik atau mental tertentu yang irasional dan ritualistik (kompulsi)

b.      Kriteria OCD
   Kriteria DSM IV-TR untuk gangguan Obsesif Kompulsif Disorder (OCD):
-    Obsesi
                               i.      Pikiran, dorongan, dan bayangan yang menetap dan berulang, dan menyebabkan kecemasan dan stress.
                             ii.      Pikiran, dorongan, dan bayangan itu bukan semata kecemasan berlebihan terhadap masalah kehidupan yang nyata.
                          iii.      Pengidap mencoba untuk mengabaikan atau menekan pikiran, dorongan, dan   bayangan tersebut atau menetralisasinya dengan pikiran dan tindakan lainnya.
                           iv.      Pengidap mengetahui bahwa pikiran, dorongan, dan bayangan obsesif-nya hanyalah produk pikirannya semata, dan tidak didasarkan atas kenyataan.

-Kompulsi:
i. Perilaku atau sikap mental berulang, buah dari obsesi yang dimiliki, atau yang rasanya harus dilakukan sesuai dengan aturan yang dilaksanakan secara ketat.
ii. Periaku atau sikap mental tersebut bertujuan untuk mencegah atau mengurangi stress, atau mencegah datangnya kejadian yang mengerikan, sekalipun perilaku dan sikap mental tersebut tidak berhubungan dengan kejadian mengerikan (yang dikhawatirkan) tersebut.

Menurut buku pedoman PPGDJ – III, gangguan obsesif kompulsif harus mencakup hal-hal berikut:
·         Harus disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri sendiri.
·         Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan meskipun ada hal lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
·         Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasaan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau kecemasan, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud diatas).
·         Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).

c.       Penyebab OCD
Adapun beberapa faktor yang mendasari penyebab penyakit OCD ini yaitu :
·         Karena faktor keturunan
·         Pengalaman yang tak terduga di masa lalu
·         Memiliki ganguan obsesif – kompulsif sehingga menimbulkan depresi
·         Memiliki riwayat pengalaman pribadi yang merupakan suatu konflik

Mungkin gangguan OCD ini sangat mirip seperti orang yang sedang depresi, karena gejala OCD hampir sama seperti sedang mengalami depresi. Gangguan OCD sangat berkaitan dengan depressi, atau riwayat kecemasan yang pernah dialaminya dulu. Beberapa gejala penderita OCD seringkali juga memperlihatkan gejala yang mirip dengan depresi.
Sebenarnya penyakit OCD ini dapat diamati dari perilaku pengidap sakit ini. Mungkin perilaku tidak normal atau nggak rasional juga disadari oleh penderitanya. Tetapi untuk mengurangi rasa cemas dalam dirinya tetap saja dia mengeluarkan dalam berupa perbuatan yang tidak masuk akal. Penyakit satu ini memang sangatlah kompleks karena penderitanya ketika menyalurkan perbuatannya bukan untuk suatu kepuasan akan tetapi untuk menghilangkan rasa khawatir , stress atau depresi dalam dirinya..
d.      Penanganan
Tidak ada tes laboratorium untuk mendiagnosis OCD. Dokter mendasarkan diagnosa pada penilaian gejala pasien termasuk berapa banyak waktu seseorang dihabiskan untuk melakukanperilaku ritualnya.
Dalam kasus OCD ini penangannya yang dapat digunakan agar pasien dapat sembuh dengan penyakitnya yaitu dengan menggunakan :
1.      Terapi Psikoanalisis
Terapi psikoanalisis untuk obsesif kompulsif mirip dengan fobia dan kecemasan menyeluruh, yaitu mengangkat represi dan memberi jalan pada pasien untuk menghadapi hal yang benar-benar ditakutkannya. Karena pikiran yang menggangu dan perilaku kompulsif melindungi ego dari konflik yang ditekan, serta, keduanya merupakan target yang sulit untuk intervensi terapeutik, dan prosedur psikoanalisis serta psikodinamika terkait tidak efektif untuk menangani gangguan ini 

2.  Pendekatan Behavioral: Pemaparan dan Pencegahan Ritual (ERP-Exposure and Ritual prevention)
Pendekatan behavioral yang paling banyak digunakan,dinilai cukup efektif bagi lebih dari separuh pasien penderita OCD dan diterima secara umum untuk ritual kompulsif, dalam metode ini (kadang disebut flooding) seseorang memaparkan dirinya pada situasi yang menimbulkan tindakan kompulsif, kemudian menghindari untuk tidak melakukan ritual yang biasa dilakukannya. Asumsinya adalah bahwa ritual tersebut merupakan penguatan negatif karena mengurangi kecemasan yang ditimbulkan oleh suatu stimulus atau peristiwa dalam lingkungan. Mencegah seseorang melakukan ritual akan memaparkannya pada stimulus yang menimbulkan kecemasan sehingga memungkinkan terhapusnya kecemasan tersebut. Kadangkala pemaparan dan pencegahan ritual ini dilakukan melalui imajinasi, terutama jika tidak memungkinkan untuk melakukannya secara nyata, contohnya, bila seseorang percaya bahwa ia akan sakit parah apabila tidak melakukan ritual tertentu.

3.      Terapi Perilaku Rasional Emotif
Beberapa bukti mendukung efektivitas terapi perilaku rasional emotif untuk mengurangi OCD (a.l., Emmelkamp & Beens,1991). Pemikirannya adalah membantu pasien menghapuskan keyakinan bahwa segala tindakan yang mereka lakukan harus mutlak memberikan hasil sempurna. Terapi kognitif dari beck dapat bermanfaat (Van Oppen dkk.,1995). Dalam pendekatan ini, pasien didorong untuk menguji ketakutan mereka bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi jika mereka tidak melakukan ritual kompulsif. Jelaslah, bagian ini tidak terpisahkan dalam terapi kognitif semacam itu adalah pemaparan dan pencegahan respon (atau ritual), karena untuk mengevaluasi apakah tidak melakukan ritual kompulsif akan memberikan konsekuensi yang mengerikan, pasien harus menahan diri untuk tidak melakukan ritual tersebut
4.      Terapi Perilaku Kognitif. 
Tujuan dari terapi perilaku kognitif adalah untuk membimbing penderita OCD dalam menghadapi ketakutan mereka dan mengurangi kecemasan tanpa melakukan perilaku ritual (disebut terapi eksposure dan terapi pencegahan respon). Terapi ini juga berfokus pada mengurangi pikiran berlebihan atau pikiran yang sering terjadi pada orang dengan OCD.
5.      Terapi Obat.
Antidepresan, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), antidepresan seperti PaxilProzacZoloft. Jenis obat yang lama, misal antidepresan trisiklik seperti Anafranil, juga dapat digunakan.
Usaha-usaha dalam rangka pertolongan kepada penderita reaksi obsesif-kompulsif harus lah mencakup berbagai unsur sebagai berikut :
1)      Menolong penderita membedakan antara pikiran dan perbuaatan, serta belajar bersikap wajar terhadap hasrat-hasrat yang terlarang.
2)      Menolong penderita belajar membedakan antara bahaya atau ancaman yang nyata dan yang khayal serta mereaksinya secara tepat dan efektif
3)      Menolong penderita belajar menahan dorongan untuk melakukan tindakan-tindakan obsesif-kompulsif, yakni dengan menerapkan prinsip perkuatan.
6.    Terapi Electroconvulsive (ECT) atau psychosurgery
Untuk mengobati gangguan tersebut. Selama ECT, elektroda dipasangkan pada kepala pasien dan serangkaian kejutan listrik dikirim ke otak, yang akan menyebabkan kejang. Kejang ini menyebabkan pelepasan neurotransmiter atau senyawa serotonin di otak
e.       Contoh kasus :
Alexis, 24, mengikuti terapi karena mencuci tangan secara kompulsif yang mengancam akan menghancurkan hidupnya. Dia baru saja diterima di sekolah hukum, tapi Ia takut tidak mampu duduk diam di kelas atau belajar dengan baik karena dorongan untuk mencuci tangan yang muncul setiap kali Ia berpikir telah menyentuh sesuatu yang kotor. Setiap hari tampaknya ada  begitu banyak benda kotor yang disentuhnya, dan yang paling kotor biasanya berhubungan dengan toilet. Dia berdalih hal ini karena hal yang berhubungan dengan toilet dipenuhi oleh mikroba yang menurutnya tergolong paling najis.
Alexis tahu bahwa memang tidak ada alasan atau sebab untuk paksaan(dorongannya) tersebut. Dia cuci tangan untuk membersihkan dirinya dari sesuatu yang telah tercemar. Terapinya memiliki hipotesis bahwa Dia dalam keadaan kotor dan       membutuhkan             pemurnian berada di jantung. Penyebab OCD yang dialami Alexis ini diduga karena trauma basal. Tindakan mencuci tangan yang dilakukannya berfungsi sebagai solusi palsu untuk membersihkan apa yang seharusnya harus dibersihkan, tetapi mungkin dalam hal ini bukan tangannya.
Langkah pertama adalah menemukan trauma yang menyebabkan gangguan OCD ini. Akhirnya ditemukanlah bahwa kakeknya pernah melakukan penyiksaan seksual ketika dia berusia enam tahun dengan cara menembus dan membuat Alexis mencium bau anusnya

3. PHOBIA
a.       Pengertian Phobia
Menurut Elida Prayitno (2009:13) mengatakan bahwa Fobia atau fobi adalah suatu ketakutan yang tidak masuk akal namun penderita dapat menjelaskan apa penyebab dan bagaimana cara mengatasi ketakutannya itu. Para penderita fobia neurosis tidak menyadari apa yang mendasari perasaan takutnya. Reaksi mereka terhadap ketakutan itu sangat hebat yang menyebabkan penderita merasa sengsara. Jika para penderita menyadari sebab-sebab yang mendasari dari ketakutan mereka itu, maka ketakutan mereka berkurang dan bahkan dapat hilang.
  Secara umum, phobia adalah rasa ketakutan kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk ngejauhin sesuatu yang ditakuti itu. Kalau  sudah parah, penderitanya bisa terserang panik saat ngeliat hal yang dia takutin. Sesak nafas, deg-degan, keringat dingin, gemetaran, bahkan sampai tidak bisa menggerakkan badannya.
 Menurut Atkitson (2005: 253) mengatakan Istilah "phobia" berasal dari kata "phobi" yang artinya ketakutan atau kecemasan yang sifatnya tidak rasional; yang dirasakan dan dialami oleh sesorang. Phobia merupakan suatu gangguan yang ditandai oleh ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap suatu obyek atau situasi tertentu. Ciri psikis adalah rasa cemas/ panik, tetapi tanpa dasar yang jelas, sedangkan ciri fisik misalnya : gemetar, jantung berdebar-debar, terkadang disertai nafas tersengal-sengal.

b.      Bentuk-bentuk Fobia
Phobia dapat dikelompokan secara garis besar dalam tiga bagian, yaitu :
1. Phobia sederhana atau spesifik (Phobia terhadap suatu obyek/keadaan tertentu) seperti pada binatang, tempat tertutup, ketinggian, dan lain lain.
2. Phobia sosial (Phobia terhadap pemaparan situasi sosial) seperti takut jadi pusatperhatian, orang seperti ini senang menghindari tempat-tempat ramai.
3. Phobia kompleks (Phobia terhadap tempat atau situasi ramai dan terbuka misalnya di kendaraan umum/mall) orang seperti ini bisa saja takut keluar rumah.

c.       Penyebab Fobia
      Menurut Bagby dan Shafer (19) dalam Elida Prayitno (2009:14) mengemukakan penyebab penderitaan fobia yaitu :
1. Pengalaman yang menyakitkan atau menakutkan akan menimbulkan pengalaman traumatik. Pengalaman yang sangat menyakitkan atau menakutkan yang menimbulkan trauma itu, biasanya dialami pada masa kanak-kanak. Misalnya pengalaman traumatik yang berkaitan dengan hal-hal yang memalukan atau peristiwa yang terlarang. Oleh karena itu penderita menghindari pikiran atau ingatan berkenaan dengan peristiwa yang sangat memalukan itu dan tidak ingin diketahui oleh orang lain. Pikiran atau ingatan yang memlaukan itu disingkirkan oleh penderita dari kesadarannya dengan menekannya kealam bawah sadarnya, sehingga dia lupa.
2. fobia muncul karena perasaan bersalah atau berdosa yang sangat tinggi. Situasi yang memalukan dicegah agar situasi itu tidak muncul dlam kesadaran. Namun ketakutan atau fobia tidak akan muncul jika penderita memiliki memiliki hubungan  yang harmonis, bahagia, aman dan damai dengan orang tua  semasa kanak-kanak dan setelah berkeluarga dan menikah.
3. fobia terhadap objek tertentu dapat menyebabkan pobia terhadap objek lain. Dengan kata lain fobia dapat merembet kepada ketakutan kepada objek lainya.
4. Selain itu salah satu penyebab fobia adalah Imajinasi yang berlebihan dapat juga menyebabkan phobia.

Analisa yang pertama karena adanya faktor biologis di dalam tubuh, seperti meningkatnya aliran darah dan metabolisme di otak. Bisa juga karena ada sesuatu yang nggak normal di struktur otak. Tapi kebanyakan psikolog setuju, phobia lebih sering disebabkan oleh kejadian traumatis kayak yang dialami Rachel Green tadi. Kabarnya nih, beberapa hari setelah bom bali meledak para korbannya yang selamat, jadi phobia sama api dan suara keras. Kejadian traumatis, seperti inilah yang jadi penyebab phobia paling umum. Masih ada penyebab lainnya yang dianalisa oleh psikolog, yaitu phobia juga bisa terjadi karena budaya. Seperti di Jepang, Cina dan Korea, masyarakatnya takut banget sama angka 4 (tetraphobia) sedangkan di Italia takut sama angka 17 yang dianggapnya angka sial, Memang tidak rasional, tapi benar-benar terjadi.

d.      Cara mengatasi Fobia
·         Hypnotheraphy: Penderita phobia diberi sugesti-sugesti untuk menghilangkan phobia
·         Flooding: Exposure Treatment yang ekstrim. Si penderita phobia yang ngeri kepada anjing (cynophobia), dimasukkan ke dalam ruangan dengan beberapa ekor anjing jinak, sampai ia tidak ketakutan lagi.
·         Desentisisasi Sistematis: Dilakukan exposure bersifat ringan. Si penderita phobia yang takut akan anjing disuruh rileks dan membayangkan berada ditempat cagar alam yang indah dimana si penderita didatangi oleh anjing-anjing lucu dan jinak.
·         Abreaksi: Si penderita phobia yang takut pada anjing dibiasakan terlebih dahulu untuk melihat gambar atau film tentang anjing, bila sudah dapat tenang baru kemudian dilanjutkan dengan melihat objek yang sesungguhnya dari jauh dan semakin dekat perlahan-lahan. Bila tidak ada halangan maka dapat dilanjutkan dengan memegang anjing dan bila phobia-nya hilang mereka akan dapat bermain-main dengan anjing. Memang sih bila phobia yang dikarenakan pengalaman traumatis lebih sulit dihilangkan.
·         Reframing: Penderita phobia disuruh membayangkan kembali menuju masa lampau dimana permulaannya si penderita mengalami phobia, ditempat itu dibentuk suatu manusia baru yang tidak takut lagi pada phobia-nya.

e.       Contoh kasus
Andri adalah murid salah satu sekolah dasar di Semarang, ia memiliki masalah ketidakmampuan menjalin hubunga sosial yang baik dengan teman sebayanya dikarenakan terlalu banyak bermain game online. Semakin berjalannya waktu dan ketidakmampuan Andri untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, masalah Andri ini menjadi meluas. Tidak hanya dengan teman-teman sebayanya tetapi juga dengan guru-guru pengajar.
Yang menjadi perhatian adalah ketika Andri berbicara dengan orang lain. Tidak terfokus dengan lawan bicara, hanya tersenyum-senyum sambil menggerakkan kepalanya dengan hitungan patah-patah seperti boneka kayu yang kaku dan pandangan kosong lurus ke depan. Hitungan fokus untuk menatap lawan bicara hanya kurang dari 6 detik dan fokus pada topik pembicaraan hanya kurang dari 9 detik. Pola seperti ini, terulang terus menerus ketika Andri dihadapkan pada situasi yang mengharuskan dia untuk berkomunikasi dengan dua orang atau lebih.
Pola yang terulang terus-menerus setiap kali berbicara dengan Andri,membuat teman-teman sekelasnya menjauhi Andri. Bahkan ada seorang guru yang membentak Andri dengan menggunakan kata “gendheng dan autis.”
Masalah baru muncul. Andri tidak hadir di sekolah sampai hampir 1 minggu. Menurut pengakuan ibunya, setiap disuruh berangkat ke sekolah, badan Andri mendadak panas dan kakinya dingin yang disertai dengan diare. Empat surat izin tidak masuk karena sakit dari orang tua Andri, terdapat diatas meja kerja guru. Tiga kali diperiksakan ke dokter oleh orang tuanya, tidak diketahui adanya penyakit berbahaya. Menurut analisa dokter, sakitnya Andri dikarenakan Andri mengalami stres berat dan ketakutan akan sesuatu. Kepada ibunya, Andri bercerita kalau dia takut berhadapan dengan guru yang mengatakan dia gendheng dan autis. Sehingga membuat dia takut berangkat ke sekolah.

Gejala yang dialami oleh Andri, menunjukkan bahwa Andri terserang Phobia Sekolah. Menurut Jacinta F. Rini, phobia sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau pun hilang ketika “masa keberangkatan” sudah lewat atau pada hari Minggu atau hari libur. Phobia sekolah dapat sewaktu-waktu dialami oleh setiap anak hingga usianya 14-15 tahun, saat dirinya mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru atau pun ketika ia menghadapi suatu pengalandri yang tidak menyenangkan di sekolah.

Ada beberapa tanda yang dapat dijadikan sebagai kriteria phobia sekolah, yaitu
                                i.         Menolak untuk berangkat ke sekolah.
                              ii.         Mau datang ke sekolah, tetapi tidak lama kemudian minta pulang
                            iii.         Pergi ke sekolah dengan menangis, menempel terus dengan orang tua atau pengasuhnya, atau menunjukkan tantrum-nya seperti menjerit-jerit di kelas, agresif terhadap anak lainnya (memukul, menggigit, dsb.) atau pun menunjukkan sikap-sikap melawan/menentang gurunya
                            iv.          Menunjukkan ekspresi/raut wajah sedemikian rupa untuk meminta belas kasih guru agar diijinkan pulang dan ini berlangsung selama periode tertentu.
                              v.         Tidak masuk sekolah selama beberapa hari.
                            vi.         Keluhan fisik yang sering dijadikan alasan seperti sakit perut, sakit kepala, pusing, mual, muntah-muntah, diare, gatal-gatal, gemetaran, keringatan, atau keluhan lainnya. Anak berharap dengan mengemukakan alasan sakit, maka ia diperbolehkan tinggal di rumah.
                          vii.         Mengemukakan keluhan lain (diluar keluhan fisik) dengan tujuan tidak usah berangkat ke sekolah.
                        viii.         Senang berdiam diri di dalam kamar dan kurang mau bergaul .













BAB III
PENUTUP


Kesimpulan

Neurotic merupakan jenis gangguan mental yang paling ringan, individu sadar kalau bermasalah namun tidak tahu bagaimana mengatasinya. Gejalanya yaitu kecemasan yang dirasakan secara langsung atau diubah oleh berbagai mekanisme pertahanan psikologis dan kemudian munculah gejala-gejala subyektif yang mengganggu.
           
Insomnia :
Insomnia bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan emosional,kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan. Sulit tidur sering terjadi, baik pada usia muda maupun usia lanjut; dan seringkali timbul bersamaan dengan gangguan emosional, seperti kecemasan, kegelisahan, depresi atau ketakutan. Kadang seseorang sulit tidur hanya karena badan dan otaknya tidak lelah.
Orang yang pola tidurnya terganggu dapat mengalami irama tidur yang terbalik, mereka tertidur bukan pada waktunya tidur dan bangun pada saatnya tidur. ada beberapa terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi insomnia, yaitu dengan CBT (Cognitive Behavioral Therapy) ,Sleep Restriction Therapy Sleep restriction therapy , Stimulus Control Therapy Stimulus control therapy , Relaxation Therapy Relaxation Therapy , Cognitive Therapy Cognitive Therapy , Imagery Training Imagery Training.
Adapun beberapa faktor yang mendasari penyebab penyakit OCD ini yaitu :
Karena faktor keturunan, Pengalaman yang tak terduga di masa lalu, Memiliki ganguan obsesif – kompulsif sehingga menimbulkan depresi, Memiliki riwayat pengalaman pribadi yang merupakan suatu konflik.



OCD :
Gangguan OCD ini sangat mirip seperti orang yang sedang depresi, karena gejala OCD hampir sama seperti sedang mengalami depresi. Gangguan OCD sangat berkaitan dengan depressi, atau riwayat kecemasan yang pernah dialaminya dulu. Beberapa gejala penderita OCD seringkali juga memperlihatkan gejala yang mirip dengan depresi.
Adapun penanganan dari OCD ini yaitu dengan Terapi Psikoanalisis, Pendekatan Behavioral, Terapi Perilaku Rasional Emotif, Terapi Perilaku Kognitif. Terapi Obat, Terapi Electroconvulsive (ECT) atau psychosurgery.
PHOBIA :
      Pada fobia ini adapun yang menyebabkan seseorang mengalami fobia ialah Pengalaman yang menyakitkan atau menakutkan akan menimbulkan pengalaman traumatic, fobia muncul karena perasaan bersalah atau berdosa yang sangat tinggi, fobia terhadap objek tertentu dapat menyebabkan pobia terhadap objek lain. Dengan kata lain fobia dapat merembet kepada ketakutan kepada objek lainya, selain itu salah satu penyebab fobia adalah Imajinasi yang berlebihan dapat juga menyebabkan phobia.
Adapun cara menangani fobia dengan Hypnotheraphy, Flooding, Desentisisasi Sistematis, Abreaksi, Reframing.









DAFTAR PUSTAKA







Posting Komentar

0 Komentar