Slogan

Slogan

Pengaruh Kepribadian Qurani dalam Menyelesaikan Konflik pada mahasiswa




Draff Makalah Seminar Psikologi Islami
Pengaruh Kepribadian Qurani dalam Menyelesaikan Konflik pada mahasiswa

Dosen Pengampu : Tukiman Khateni




Disusun oleh :
Yogi Pratama ( 128110047 )




FAKULTAS PSIKOLOGI
            UNIVERSITAS ISLAM RIAU
   PEKANBARU
            2014





BAB 1

A.    Pendahuluan
Apakah ada individu didunia ini yang tidak pernah memiliki konflik dengan individu lain? Jawaban dari pertanyaan ini sudah barang tentu adalah tidak ada. Karena memang tidak ada indivudu yang tidak pernah mengalami konflik dalam hidupnya. Semua manusia pernah berkonflik, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain dilingkungannya.
Konflik bisa saja terjadi dimana saja, kapan saja dan pada siapa saja dan tidak terkecuali pada mahasiswa mukmin. Konflik yang terjadi haruslah diselesaikan dengan bijaksana agar tidak muncul iri hati serta dendam dikemudian hari. Individu yang berkonflik bisa saja menyelesaikan masalahnya sendiri, namun tidak sedikit pula individu yang membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan konfliknya. Seseorang yang diminta untuk membantu individu tertentu untuk menyelesaikan konfliknya haruslah bisa memberikan solusi dan jalan keluar yang terbaik serta mampu medamaikan individu-individu yang berkonflik tersebut tanpa ada pihak yang merasa dirugikan.
Orang yang bisa membantu menyelesaikan konflik orang lain haruslah memiliki jiwa yang besar, arif dan bijaksana. Hal ini dikarenakan menyelesaikan konflik atau pertikaian antar individu merukan hal yang terpuji. Seorang mukmin sejati wajib membantu menyelesaikan perkara orang yang bertikai. Hal ini dikarenakan dianjurkan oleh ajaran Islam. Dari Anas RA, bahwa ia berkata, “barang siapa yang mendamaikan dua orang yang bersengketa, maka Allah akan memberikan pahala kepadanya satu kata sepadan dengan memerdekakan budak”. Maka bisalah kita simpulkan betapa pentingnya seorang mukmin sejati membantu mukmin lain yang berselisih dalam menyelesaikan masalahnya.

B.     Tujuan
Berdasarkan seperti apa yang telah diungkapkan diatas, maka adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk melihat sejauh kmana pengaruh dari kepribadian seorang mukmin yang mengamalkan Al-Quran dalam hidupnya untuk menyelesaikan konflik yang terjadi pada mahasiswa.



C.     Rumusan masalah
Bagai mana pengeruh kepribadian Qurani dalam menyelesaikan konflik pada mahasiswa mukmin?
D.    Defenisi operasional
Menurut Putman & Pool ( dalam Wijono. S. 2010 ), konflk didefenisikan sebagai interaksi antara individu, kelompok dan organisasi yang membuat arti atau tujuan yang berlawanan, dan merasa bahwa orang lain sebagai pengganggu yang potensial terhadap pencapaian tujan mereka.
Kepribadian Qurani adalah kepribadian individu yang didapat setelah mentransformasikan isi kandungan Al-Quran kedalam dirinya untuk kemudian diinternalisasikan dalam kehidupan nyata. Atau dalam bahasa sederhana, kepribadian Qurani adalah kepribadian individu yang mencerminkan nilai-nilai Al-Quran ( dalam Mujib. A .2007)
Ada berbagai defenisi yang diungkapkan oleh para ahli tentang konflik. Diantaranya yang diungkapkan Putman & Pool ( dalam Wijono. S. 2010 ), konflk didefenisikan sebagai interaksi antara individu, kelompok dan organisasi yang membuat arti atau tujuan yang berlawanan, dan merasa bahwa orang lain sebagai pengganggu yang potensial terhadap pencapaian tujan mereka

E.     Ciri- ciri kepribadian Qurani

a.       Menjaga Agama
b.      Menjaga jiwa
c.       Menjaga akal pikiran
d.      Menjaga keturunan
e.       Menjaga kehormatan dan harta benda.
f.       Memberi nasehat
F.      Ciri-ciri Konflik
a.       Adanya perbedaan tujuan
b.      Merasa orang lain musuh
c.       Adanya pertantangan








BAB II
Landasan Teori

A.    Pengertian Mahasiswa Mukmin

Mukmin berarti orang yang beriman. Beriman adalah orang yang benar dalam memegang dan melaksanakan amanat, sehingga hatinya merasa aman. Pengertian iman kemudian disederhanakan menjadi 3 domain. Pertama  domain afektif ( al-majal al-infi’ali), iman adalah pembenaran dalam kalbu. Pembenaran iman hanya dapat dilakukan oleh struktur kalbu, sebab kalbu merupakan struktur nafsani yang mampu menerima doktrin keimanan yang meta-empiris, informasi wahyu, dan supra rasional.
Kedua yaitu domain kognitif, iman adalah pengucapan dengan lisan. Kata kunci dari domain kognitif ini adalah mengucapkan dua kalimah syahadatain. Kalimah syahadat yang pertama mengandung arti peniaadaan tuhan-tuhan relatif dan temporer, seperti hawa nafsu, harta dan kedudukan, untuk kemudian ditetapkan Tuhan yang maha sempurna ialah Allah SWT. Sedangkan syahadat yang kedua meyakini bahwa Muhammad adalah  utusan Allah yang menerima wahyu yang ajarannya harus direalisasikan  dalam kehidupan nyata.
Ketiga adalah domain psikomotorik, iman adalah pengamalan dengan anggota tubuh. Iman buah atau bukti keimanan seseorang. Pengamalan ajaran iman harus utuh dan memasuki semua dimensi kehidupan.

B.     Kepribadian Qurani

Istilah Qurani memiliki akar yang sama dengan qarinah ( indikator, bukti, petunjuk), qarana ( menggabungkan ), qar’u ( menghimpun) dan qar’a ( membaca )  yang secara bahasa berarti mengumpulkan dan menghimpun.
Kepribadian Qurani adalah kepribadian individu yang didapat setelah mentransformasikan isi kandungan Al-Quran kedalam dirinya untuk kemudian diinternalisasikan dalam kehidupan nyata. Atau dalam bahasa sederhana, kepribadian Qurani adalah kepribadian individu yang mencerminkan nilai-nilai Al-Quran.



1.      Kerangka Dasar Kepribadian Qurani
Manusia diberi potensi nafsani oleh Allah SWT untuk mengetahui segala sesuatu, agar dengan pengetahuannya ia dapat berbuat baik. Namun karena kemampuan akal manusia terbatas, sehingga pengetahuan yang diperoleh (1) belum menjangkau seluruh fenomena kehidupan, (2) tidak akan mampu mengetahui yang gaib, (3) kekuatan pikir manusia kadang-kadang dihalangi oleh hawa nafsu sehingga tidak mampu berpikir jernih (4) sebagai produk budaya, pengetahuan manusia bias budaya yang karenanya tidak dapat berlaku secara universal. Dalam kondisi yang seperti ini, petunjuk dari Allah SWT, sangat diperlukan untuk melengkapi bahkan menyempurnakan pengetahuan akliah manusia. Seluruh petunjuk-Nya terhimpun dalam kitab suci Al-Quran .
Fungsi Al-Quran diantaranya adalah (1) menjadi petunjuk, penjelasan dan pembeda yang hak dan yang batil ( QS Al-Baqarah [2] ) , (2) memperingatkan manusia yang lupa ( QS An’am[6]), (3) satu bacaan yang patut didengar agar mendapatkan rahmat dari Allah ( QS Al-A’raf[7]), (4) mengajak manusia untuk berpikir ( QS Yusuf[12]), (5) terapi yang penuh rahmat ( QS-Isra [17]) (6) menjadi petunjuk manusia agar berkepribadian saleh. Firman Allah dalam QS Al-Isra [17]: 9, yang artinya
“ sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”

2.      Pola dan Bentuk Kepribadian Qurani
Dalam QS Al-An’am [6]:38 disebutkan : “dan tiadalah binatang-binatang yang ada dibumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatupun didalam al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”. Hal ini mengandung arti bahwa seluruh fenomena yang ada sudah tercantum didalam Al-Quran. namun pada intinya, kepribadian Qurani adalah kepribadian yang melaksanakan sepenuh hati nilai-nilai Al-Quran, baik pada dimensi ( 1) I’tiqadiyyah, yang berkaitan dengan nilai-nilai keimanan, (2) Khuluqiyyah, yang berkaitan dengan nilai-nilai etika, yang bertujuan untuk membersikan diri dari perilaku rendah dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji, (3) Amaliyyah, yang berkaitan dengan nilai-nilai tingkah laku sehari-hari.
Al-Quran merupakan petunjuk, rahmat, terapi dan mengandung kemashlahatan bagi yang mau melaksanakannya. Dimensi primer merupakan dimensi esensial dalam kehidupan manusia yang apa bila diabaikan maka hilang eksistensi kemanusiaan. Dimensi ini meliputi :
g.      Menjaga Agama
h.      Menjaga jiwa
i.        Menjaga akal pikiran
j.        Menjaga keturunan
k.      Menjaga kehormatan dan harta benda.
Dimensi sekunder merupakan dimensi yang penting dalam
kehidupan sekalipun tidak seasasi dimensi primer. Tujuan dari dimensi ini adalah untuk menghilangkan kesulitan dan menarik kemashalatan dalam kehidupan manusia.
           
3.      Cara Transinternalisasi Kepribadian Qurani
Terdapat 5 cara untuktransinternalisasi kepribadian Qurani, yaitu :
a.       Tahsin al-tilawah, yaitu memperbaiki bacaan sesuai kaidah ilmu tajwid dan ilmu Qira’ah
b.      al-Tahfidh, yaitu menghafal seluruh atau sebagian ayat-ayat dalam Al-Quran, terutama surat yang wajib dalam bacaan sholat.
c.       Al-Tafsir, yaitu menafsirkan dan menerjemahkan isi kandungan Al-Quran yang dimulai dengan pemahaman terjemahan ayat.
d.      Al-Amal, yaitu mengaplikasikan nilai-nilai Qurani dalam kehidupan sehari-hari.
e.       Al-Da’wah, yaitu mendakwahkan ajaran-ajaran Al-Quran kepada masyarakat luas.









C.    Pengertian Konflik

Ada berbagai defenisi yang diungkapkan oleh para ahli tentang konflik. Diantaranya yang diungkapkan Putman & Pool ( dalam Wijono. S. 2010 ), konflk didefenisikan sebagai interaksi antara individu, kelompok dan organisasi yang membuat arti atau tujuan yang berlawanan, dan merasa bahwa orang lain sebagai pengganggu yang potensial terhadap pencapaian tujan mereka. Sementara itu, pengertian lain dari konflik adalah sebuah proses yang dimulai ketika satu pihak memiliki persepsi bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif, atau akan mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang menjadi perhatian dan kepentingan pihak pertama ( dalam Robbins. S & Judge. T, 2008 )
Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan dapat menghambat tercapainya tujuan organisasi. Selain itu, juga dapat menimbulkan ketegangan emosi sehingga mempengaruhi efisiensi dan kerja sama dalam lingkungan. Konflik dapat dikelompokkan menjadi dua unsure, yaitu : ( 1 ) konflik antara individu dengan dirnya sendiri; dan ( 2 ) konflik antara individu dengan lingkungan sosial.
Konflik antara individu dengan dirinya sendiri ini akan muncul ketika individu merasa bahwa dalam dirinya sendiri mengalami :
1.      Adanya suatu pertantangan antara perasaan-perasaan senang dan frustasi; gagal dan berhasil; berharap dan putus asa. Munculnya perasaan-perasaan tersebut karena adanya kepentingan atau kekuatan yang bergerak kearah tertentu dalam waktu yang bersamaan.
2.      Adanya dua gagasan atau lebih yang berupa pertantangan, gerakan hati, saling berlawanan dan terjadi ketegangan emosi, akibatnya muncul perasaan yang tidak menyenangkan, stress dan dapat mempengaruhi perilaku individu secara kognitif, afektif, ketakutan atau kecemasan, bersalah atau malu, sedih, cemburu atau iri hati dan muak atau menjijikan.
3.      Adanya suatu perjuangan antara keinginan dan pertantangan yang ada dalam diri individu berupa pertantangan psikis seperti merasa frustasi, stress dan berusaha untuk melawannya.
Sementara itu, konflik yang terjadi antara individu dengan lingkungan dalam organisasi atau suatu kebudayaan ini muncul ketika individu merasa mengalami :
1.      Perilaku antagonis yang menyangkut perilaku lahiriah antara dia dan orang lain yang berupa tindakan-tindakan seperti merusak dan memperbaiki, antara menekan dan menetralisasi, acuh tak acuh dan mengacuhkan, menyendiri dan bersosialisasi.
2.      Adanya tarik menarik antara kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain.
3.      Adanya ketidak cocokan antara kepentingan diri sendiri dengan keppentingan orang lain yang memiliki tujuan yang sama.


D.    Manajemen Konflik

1.      Psikologi Barat

A.    Manajemen Konflik Dalam Diri Sendiri

Ada kecenderungan bahwa orang mengalami konflik sering kali menggunakan cakrawala berpikir secara sempit dalam menentukan strategi yang tepat. Jika konflik melanda dirinya, dia akan cenderung menggunakan reaksi menurut kebiasaannya dan kurang berpikir mengenai berbagai alternative yang memungkinkan untuk dilakukan lebih dulu. Oleh karena itu, memperjelas pemahamannya terhadap konflik dan penyelesaian yang efektif amat diperlikannya. Pendekatan pemecahan masalah sebaiknya mulai dipersiapkan oleh individu ketika mulai merasakan adanya konflik yang masih tersembunyi, sehingga solusi yang diberikan akan lebih efektif. Untuk member solusi terhadap konflik intraindividual diperlukan strategi yang efektif dengan langkah-langkah seperti berikut :
·         Pengenalan Diri
Usaha paling awal adalah mengenalkan diri sendiri tentang kekuatan dan sekaligus kelemahannya yang dirasakan sebagai suatu yang tersembunyi. Individu yang dapat mengenal kekuatannya secara tepat seperti emosi positif yang dimilikinya, yaitu bangga, bahagia, kasih, kelegaan,dan harapan, nilai-nilai tentang kemanusiaan, ciri-ciri pribadi seperti asertif, kreatif, inovatif, kritis, pantang menyerah, dan mempunyai kemaun keras, dan bercita-cita tinggi akan dapat membawa pengaruh signitifkan terhadap tujuan dan perannanya dalam mengelola konflik intraindividual.
·         Meningkatkan Kekuatan
Ketika individu mulai merasakan adanya konflik tersembunyi, sebaiknya perlu meningkatkan kekuatan. Sa;ah satu kekuatan yang dapat dikembangkan adalah rasa percaya diri. Untuk dapat meningkatkannya, maka individu perlu melihat berbagai keberhasilan yang telah dilakukannya dalam mencapai tujuan yang diharapkannya. Untuk mengatasi masalah, individu perlu melakukan strategi bahwa dengan mengenali kekuatan-kekuatannya lebih banyak dari pada kelemahannya, maka individu diharapkan mengembangkan kekuatan yang ada dalam dirinya tersebut secara lebih produktif, maka individu akan mempunyai kepercayaan diri untuk dapat mencapai tujuan dan peran yang dimainkannya.
·         Memilih Berbagai Alternatif
Dalam menghadapi konflik intraindividual, individu perlu mempunyai berbagai alternative untuk dapat mengatasinya. Dalam konflik intraindividual yang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai biasanya digunakan strategi, yaitu mendekat-mendekat, konflik mendekat-menghindar dan konflik menghindar-menghibdar.
B.     Strategi Mengelola Konflik Antar pribadi
            Pendekatan dalam strategi mengelola konflik antar pribadi ini dapat menggunakan beberapa bentuk penyelesaian, yaitu ( 1 ) untuk menyelesaikan konflik anta individu atau kelompok ada kecenderungan untuk melakukan kompromi atau jalan tengah; ( 2 ) membayar sekelompok orang yang terlibat dalam konflik; ( 3 ) menggunakan jasa orang atau sekelompok orang ketiga ( lawyer ) untuk dijadikan sebagai pihak penengah; ( 4 ) menggunakan peraturan yang berlaku sebagai cara penyelesaian konflik antar pribadi atau antar kelompok.

2.      Psikologi Islam

Sahl bin Abu Shalih meriwayatkan dari Atha bin Yazid dari Tamim Ad Dari RA dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda, Ingatlah bahwa sesungguhnya agama itu adalah nasehat. Beliau mengulanginya sampai tiga kali. Para sahabat lalu bertanya, Wahai Rasul Allah, bagi siapa? Beliau menjawab, Bagi Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, serta para pemimpin dan segenap kaum mukminin.
Al Faqih menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan nasehat bagi Allah adalah beriman kepada-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu dengan Allah, mengamalkan segala yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya, serta mengajak dan mnujukkan manusia untuk kembali kepada-Nya. Nasehat bagi rasul-Nya adalah mengamalkan sunnahnya dan mengajak manusia untuk mengikuti sunnahnya. Nasehat bagi kitab Allah adalah dengan beriman kepadanya, membaca dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, serta mengajak manusa untuk berbuat seperti itu. Nasehat bagi pemimpin-pemimpin kaum mukiminin adalah janganlah kamu menyerang mereka dan ajaklah mereka untuk bertindak adil, serta mengajak manusia untuk berbuat seperti itu. Sedangkan nasehat bagi segenap kaum mukminin adalah mencintai mereka sebagaimana mencintai diri sendiri, berbuat baik kepada mereka, tidak mendiamkan mereka dan mengajak mereka untuk senantiasa melakukan kebaikan.
Ali bin Abu Thalib berkata, Sesunggunya di antara sesuatu yang menyebabkan pengampunan adalah menggembirakan saudaramu yang muslim.
Dari Abu Umamah RA, bahwasanya ia berkata, Berjalanlah satu mil dan tengoklah orang yang sedang sakit; berjalanlah dua mil dan kunjungilah saudara karena Allah, dan berjalanlah tiga mil dan damaikanlah dua orang yang bersengketa.
Dari Anas RA, bahwasanya ia berkata, Barangsiapa yang mendamaikan dua orang yang bersengketa, maka Allah memberikan pahala kepadanya satu kata sepadan dengan memerdekakan satu budak.
Meskipun Islam yang notabene lebih mengutamakan perdamaian, sesuai dengan makna kata Islam sendiri yakni salam. Namun bukan berarti Islam tidak memberikan makna dan pandangan terhadap konsepsi koflik. Dalam agama Islam pemaknaan konflik bisa dalam bentuk yang lebih ramah dan damai. Dalam Islam konflik tidak harus difahami sebagai gejala yang destruktif, dan kontra-produktif, namun bisa menjadi gejala yang konstruktif bahkan produktif. Konflik merupakan bagian dari tabiat manusia yang telah dibawa oleh manusia dari sejak dia dilahirkan. Keberadaan konflik sebagai unsur pembawaan sangat penting dalam kehidupan manusia. Kehidupan tidak dapat berjalan dengan baik tanpa ada konflik. Manusia yang memiliki tuntutan serta keinginan yang beraneka ragam dan manusia akan selalu berusaha untuk memenuhi keinginan tersebut. Namun untuk bisa mendapatkannya, mereka akan berkompetisi untuk mendapatkan keinginan tersebut. Dari sini maka dengan adanya konflik akan mengajarkan manusia untuk dapat berfikir lebih maju untuk mendapatkan keinginannya tersebut sehingga akan bermanfaat bagi kehidupannya.
Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah hikmah dibalik terjadinya konflik. Dalam Islam, konflik bukanlah sebagai tujuan namun lebih sebagai sarana untuk memadukan antara berbagai hal yang saling bertentangan untuk membebaskan kehidupan manusia dari kepentingan individual dan dari kejelekan-kejelekan, sehingga tidak membiarkan perbedaan-perbedaan itu menjadi penyebab adanya permusuhan. Karena sesungguhnya manusia berasal dari asal yang sama. Seperti dijelaskan pada (QS. An Nisaa' ayat 1) yang berbunyi: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (١) 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu
Dari ayat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya manusia berasal dari asal yang sama. Dari ayat di atas, Islam mengajarkan pentingnya untuk toleransi menghargai adanya perbedaan-perbedaan yang dimiliki manusia baik siri fisik, pemikiran budaya dan lain-lain agar jangan sampai memicu konflik dan mengakibatkan perseteruan dan permusuhan. Konflik memang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Namun, jangan sampai terlarut dalam konflik yang akhirnya menjadi konflik berkepanjangan yang tidak ada solusinya yang justru akan merusak hubungan antar manusia dan akan merugikan manusia itu sendiri. 
Persamaan adalah prinsip mutlak dalam Islam dalam membina hubungan sesama manusia tanpa melihat perbedaan seperti ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik: 

" الناس مستوون كاسنان المشط ليس لاحد على أحد فضل الا بتقوى الله" 

(Asal usul) Manusia adalah sama, tidak obahnya seperti gigi. Kelebihan seseorang hanya terletak pada ketaqwaannya kepada Allah SWT
Di dalam agama Islam juga dijelaskan tentang tata cara mengelola suatu konflik agar konflik tidak bersifat destruktif melainkan menjadi hal yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Agama Islam mengajarkan bagaimana mengelola atau menyelesaikan perbedaan atau pertentangan dengan cara-cara damai. Meskipun agama Islam merupakan agama yang notabene menganut ajaran kebenaran mutlak, namun agama Islam tidak pernah mentolerir penggunaan kekerasan dalam ajarannya. Sebenarnya konsep resolusi konflik dalam Islam cenderung memiliki kesamaan dengan manajemen konflik secara umum. Dalam Islam resolusi konflik dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya debat dan musyawarah. 
Debat pada dasarnya adalah salah satu cara berkompetisi dengan pihak atau kelompok lain. Dalam Al-Quran, debat sering merujuk pada upaya kompetisi yang dilakukan kaum muslim dengan kaum non muslim. Debat sering digunakan oleh Nabi Allah untuk menanggapi segala tuduhan terhadap agama Islam sekaligus meyakinkan pihak lain tentang kebenaran agama Islam. Di dalam Al-Quran juga di jelaskan bahwa berdebat harus dilakukan dengan adil dan fair yang tercantum pada surat An-Nahl ayat 125 sebagai berikut: 
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (١٢٥) 
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk
Selain debat, resolusi konflik dalam Islam juga dilakukan dengan musyawarah. Dalam Al-Quran musyawarah sering merujuk pada penyelesaian konflik dan hubungan sesama kaum muslim, berbeda dengan debat yang cenderung ditujukan untuk kaum non-muslim. Tujuan musyawarah ini adalah untuk menemukan jalan keluar dari perbedaan yang tidak menyangkut gejala idiologis dan dikhotomik sehingga memungkinkan terbentuknya kompromi dan negosiasi. Sedangkan perdebatan lebih menunjukkan sebagai upaya untuk meyakinkan fihak lain, dan tidak mungkin terjadi kompromi, dan yang mungkin hanya sebatas memahami saja, bukan untuk saling membenarkan satu sama lain. Perihal musyawarah ini telah dijelaskan dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 159 yang berbunyi sebagai berikut: 
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩) 
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya
Dari beberapa penjelasan diatas dapat dipahami bahwa Islam banyak menggunakan cara-cara damai sebagai cara untuk mengelola konflik. Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk memiliki sikap toleransi terhadap perbedaan perbedaan yang dimiliki tiap-tiap manusia. Karena perbedaan itu merupakan kodrat Allah SWT yang tidak bisa ditolak. Perbedaan itu diciptakan untuk saling melengkapi, dan dengan perbedaan itu manusia akan terus berkembang dan menciptakan perubahan-perubahan yang nantinya akan bermanfaat bagi manusia pada umumnya.

F . Analisa
            Al-Quran merupakan kitab suci yang sangat sempurna. Semua hal yang dibutuhkan manusia sudah dijelaskan didalamnya dengan sejelas-jelasnya tanpa satu persoalanpu yang terlupakan. Al-Quran dijadikan petunjuk dan pedoman bagi umat Islam agar bisa selamat hidup dunia akhirat. Dengan membaca dan mengamalkan isi dari Al-Quran, maka seorang mukmin akan merasa nyaman dan tenang dalam hidupnya.
            Dengan begitu sempurnya kandungan Al-Quran ini, bisa kita bayangkan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya akhlak dan kepribadian dari seorang mukmin yang mengamalkan Al-Quran. dengan mengamalkan isi kandungan Al-Quran, maka seorang mukmin akan bertindak sesuai dengan petunjuk yang benar dan sudah pasti sudah bisa dipercaya.
            Dalam menyelesaikan suatu konflik yang terjadi, jiwa seorang mukmin yang Qurani sangat lah dibutuhkan. Selain bisa menjadi hakim yang baik dan bijaksana, mukmin yang Qurani juga bisa memberikan kepuasan dan ketenangan bagi yang bersangkutan karena keputusan yang diambilnya berdasarkan petunjuk yang benar dari Allah SWT. Selain dari itu juga, tidak ada juga pihak yang akan merasa dirugikan.
            Berbeda halnya dengan orang-orang yang berjiwa Qurani, orang yang tidak memiliki jiwa Quarani juga bisa bijaksana dalam menyelesaikan masalah, namun belum tentu sesuai dengan ajaran Islam dan menimbulkan rasa keadilan dari pihak-pihak yang terkait. Orang yang tidak memiliki jiwa Qurani bisa saja terjebak dan terpengaruh akan hal duniawi seperti misalnya penyuapan dan adanya rasa unsur kekeluargaan dalam menyelesaikan konflik yang terjadi. Dengan hal yang sedemikian, maka akan jauhlah kata keadilan akan tercapai dalam menyelesaikan permasahalaan yang ada.
            Seperti yang telah diunkapkan diatas, bahwa agama adalah nasehat. Maka dengan demikin, mahasiswa mukmin yang memiliki jiwa Qurani bisa memberikan nasehat yang baik dan dapat dipercaya dalam hal menyelesaikan konflik yang terjadi dikalangan mahasiswa yang begitu komplit. Mulai dari masalah dikampus, masalah dengan lingkungan keluarga sampai masalah asmara duniawi lainnya. Maka dengan begitu lengkapnya masalah pada mahasiswa ini, dibutuhkanlah seorang teman yang memiliki jiwa Qurani yang bisa memberikan nasehat dan membimbing atau mengarahkan kejalan yang benar dan memcagah terjerumusnya kelembah kesesetan karena tidak tahan dengan masalah yang dihadapi.












BAB III
Penutupan

A.    Kesimpulan
Seperti yang telah dijelaskan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa seorang mukmin yang berjiwa Qurani bisa menjadi penengah atau hakim yang baik dalam menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi dikalangan mahasiswa. Dengan jiwa Qurani yang dimilikinya, maka dia akan bersikaf bijaksana dalam memberikan nasehat yang baik dan tidak akan terpengaruh dengan hal-hal yang bisa merusak dari keadilan itu sendiri. Dan dengan petunjuk yang benar dari Allah melalui Al-Quran, maka keimanannya akan sangat sulit digoyahkan.



B.     Saran
Untuk mencegah terjerumusnya seorang mahasiswa kejalan yang salah dikarenakan tidak kuat menghadapi masalah hidup, maka sebaiknya berteman dan meminta saranlah kepada seorang temannya yang memiliki jiwa Qurani. Karena bisa dipastikan temannya yang dimaksud tersebut akan memberikan nasehat dan arahan yang baik yang menyelamatkan masa depannya dari jalan yang tidak benar.


















Daftar Pustaka
Abdul Mujib. Kepribadian dalam psikologi islam. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada. 2007
Wijono Sutarto. Psikologi industri dan organisasi. Jakarta. Kencana. 2010
www.islampos.com

Posting Komentar

0 Komentar