Slogan

Slogan

psikilogi politik



1.      Mengapa Mempelajari Psikologi Politik
Mengapa orang-orang bertingkah laku dengan cara yang mereka lakukan dalam politik? Dan mengapa para presiden membuat keputusan seperti yang mereka lakukan? Pertanyaan-pertanyaan politik seperti ini merupakan perhatian besar bagi kita semua, baik kita secara langsung terkena dampaknya ataupun hanya sebagai para saksi mata melalui berita-berita. Contohnya pada kasus MUNAS partai PAN baru-baru ini dimana kita menyaksikan begitu panasnya dan mengapa Amien Rais mendukung Zulkifli menjadi ketua umum.

Banyak orang yang berasumsi bahwa Psikologi adalah common sense (pendapat orang yang bukan hasil pemikiran), karene mereka meyakini bahwa perilaku adalah rasional dan dapat diprediksi. Akan tetapi, penelitian selama puluhan tahun oleh psikolog mengungkapkan bahwa perilaku adalah apa pun, kecuali common sense.
Sebuah gambaran yang lebih akurat tentang manusia sebagai aktor politik adalah gambaran yang mengakui bahwa orang-orang terdorong atau termotivasi untuk bertindak sesuai dengan karakteristik kepribadian, nilai keyakinan, dan kelekatan dengan kelompok-kelompok. Orang-orang terus menerus secara aktif menggnakan persepsi yang logis, namun sering kali keliru tentang orang lain ketika memutuskan bagaimana cara bertindak dan sering kali mereka tidak menyadari penyebab-penyebab perilaku mereka sendiri. Meskipun demikian, dengan memahami kompleksitas psikologi politik, kita dapat menjelaskan perilaku yang sering kita tampak irasional. Seperti contoh kasus pada Anas Urbaningrum yang mendirikan sebuah ORMAS yang bernama PPI ( Perhimpunan Pergerakan Indonesia ) ketika dia dilengserkan dari KETUM partai Demokrat. Selain itu juga yang menjadi perdebatan para ahli komunikasi polotik pada saat itu ialah pernyataan ucapan “terima kasih” kepada sejumlah pihak sesaat setelah Anas ditahan KPK.
Sebuah campuran kompleks psikologi individu dan konteks politik juga membentuk reaksi publik untuk terorisme. Dukungan publik untuk kebijakan anti-terorisme tergantung pada bagaimana pemerintah terancam bereaksi, kompetensi dirasakan pemerintah dan efektivitas dalam memerangi terorisme, dan seseorang merasa kerentanan terhadap peristiwa teroris di masa depan. Kekuatan eksternal seperti kekuatan kebijakan keamanan nasional pemerintah atau penentuan teroris dan kemampuannya, dan mereka mempengaruhi, pada gilirannya, apakah warga merasa cemas atau marah dalam menanggapi peristiwa teroris. Teroris kuat dan pemerintahan yang lemah cenderung menghasilkan kecemasan di kalangan populasi terancam, sedangkan pemerintah yang kuat dan yang lemah teroris kemungkinan akan menghasilkan perasaan marah. Selain itu, tidak semua orang merespon ancaman dengan cara yang sama, dan disposisi psikologis individu memainkan peran tambahan dalam menentukan apakah seseorang bereaksi terhadap terorisme dengan kemarahan atau kecemasan. Secara umum, masyarakat yang didominasi oleh perasaan marah dapat mendukung tindakan antiterorisme agresif, sedangkan populasi didominasi oleh perasaan cemas mungkin menentang tindakan agresif yang memperburuk risiko terorisme (Huddy & Feldman, 2011; Lambert et al, 2010.). Baik psikologi individu maupun kondisi politik saja mungkin untuk sepenuhnya menjelaskan reaksi-reaksi ini.
Dalam arti yang lebih umum, pertanyaan tentang reaksi publik untuk terorisme atau respon otoriter ke pemerintahan fasis yang terkait erat dengan salah satu pertanyaan yang diajukan oleh psikologi politik: seberapa baik warga siap untuk menangani tanggung jawab demokratis mereka (Le Cheminant & Parrish, 2011 )? Dapatkah mereka berunding atas isu-isu yang muncul pada dewasa ini, cukup untuk sampai pada keputusan beralasan, atau sebaliknya mereka akan menyerah dan menjadi korban intoleransi irasional? dan psikologi politik telah difokuskan dalam beberapa tahun terakhir pada perbedaan individual di antara warga negara untuk menjelaskan mengapa karakterisasi masyarakat sebagai bias, etnosentris, rasa takut, atau karakterisasi tunggal lainnya adalah keliru. Perbedaan individu didasarkan pada sosialisasi awal, genetik, konteks sosial, dan kepribadian menghasilkan paham liberal dan konservatif, Demokrat Sosial dan Kristen Demokrat, individu toleran dan intoleran. Politik muncul dari perbedaan individu tersebut, yang menyebabkan perbedaan pendapat politik yang terlihat dan banyak diperdebatkan dalam berfungsi dengan baik masyarakat demokratis. Bahkan jika warga terlibat dalam penalaran bias, argumen bersaing meresap dan sulit untuk menghindari sepenuhnya; bergairah bebas untuk membuat kasus mereka, dan tidak memihak yang dapat mengevaluasi upaya dan argumen mereka. Proses demokrasi mungkin berantakan, tidak memuaskan, dan frustasi, tetapi secara inheren psikologis. Untuk itulah kita perlu memahami  kedua sistem politik dan psikologi manusia. Interaksi psikologi dan politik, terutama dalam proses demokrasi.kondisi politik pada saat ini dapat memainkan peran penting dalam bagaimana proses kerja pikiran untuk memberikan output dari respon yang diberikan.
2.      Apa itu Psikologi Politik
Penjelasan Tradisional tentang perilaku politik sering kali gagal menjelaskan secara adekuat beberapa keputusan dan tindakan politik terpenting yang diambil oleh orang-orang. Psikologi politik telah muncul sebagai sebuah bidang penting ilmu politik dan psikologi, yang memungkinkan kita menjelaskan banyak aspek perilaku politik.
Salah satu tujuan dari psikologi politik adalah untuk menyusun dalil-dalil umum tentang perilaku yang dapat membantu menjelaskan dan memprediksi peristiwa-peristiwa yang terjadi disejumlah situasi yang berbeda-beda. Pendekatan yang dilakukan psikolog politik dalam memahami dan memprediksi perilaku adalah metode ilmiah.

Pendekatan ini mengandalkan empat langkah bersiklus yang berulang-ulang dijalankan seorang peneliti ketika ia mencoba memahami dan memprediksi perilaku. Langkah pertama menyangkut pengadaan observasi. Langkah ini memerlukan pengadaan observasi yang sistematis dan tidak sistematis terhadap perilaku dan peristiwa. Dati observasi ini, seorang peneliti menyusun tentang variabel yang mungkin mempengaruhi yang sedang diobservasi dan dalam hal ini politik menjadi variabelnya.
Lankah kedua menyangkut perumusan penjelasan tentatif atau suatu hipotesis. Pada tahapan ini seorang peneliti membuat prediksi tentang karakteristik hubungan diantara variabel-variabel. Langkah ketiga adalah menyangkut pengadaan observasi dan eksperimen lanjutan. Pada tahapan metode ilmiah ini, observasi diadakan untuk menguji validitas hipotesis. Dan langkah yang keempat yaitu penghalusan dan pengujian kembali penjelasan –penjelasan. Para peneliti merumuskan kembali hipotesis mereka atas dasar observasi yang dijalankan pada langkah ketiga.
Pada dasarnya psikologi politik mewakili pengabungan dua disiplin, psikologi dan ilmu politik. Psikologi politik menyangkut penjelasan tentang apa yang dilakukan orang-orang, dengan mengadaptasi konsep-konsep psikologi, sehingga konsep-konsep ini bermanfaat dan relevan dengan politik.
Bagian inti dari makhluk politik kita adalah kepribadian. Kepribadian adalah sebuah faktor psikologis pokok yang mempengaruhi perilaku politik. Kepribadian adalah unik bagi individu, meskipun sikap-sikap kepribadian tertentu tampak pada banyak orang
Makhluk politik juga memiliki nilai-nilai dan identitas. Konsep ini menyangkut keyakinan yang dimiliki secara mendalam tentang hal apa yang benar dan hal apa yang salah ( nilai ) dan makna yang dimiliki secara mendalam tentang siapakah seseorang ( identitas ). Nilai-nilai sering kali mencakup suatu komponen emosi yang kuat.
Berikutnya makhluk politik juga memiliki sikap. Secara umum sikap dapat dianggap sebagai unit-unit pemikiran yang terdiri dari komponen kognitif tertentu dan suatu respon emosi tentangnya ( suka, tidak suka, dan lain-lain). Emosi mengambang didalam pikiran makhluk politik. Politik bisa jadi suatu arena kehidupan yang secara ekstrem membangkitkan emosi. Emosi mempengaruhi semua aspek dan dipengaruhi oleh semua aspek dari pikiran makhluk politik. Nilai, identitas, dan sikap mengadung emosi dan emosi berinteraksi dengan bagian berikutnya dari pikiran makhluk politik.
Komponen terakhir dari pikiran makhluk politik adalah proses kognitif, yang merupakan saluran-saluran yang dilalui oleh pikiran dan lingkungan saat pertama kali berinteraksi. Proses kognitif menyangkut penerimaan dan penginterpretasikan informasi dari luar diri. Proses ini merupakan pikiran komputer karena memfasilitasi kemampuan individu untuk memproses informasi, menginterpretasikan lingkungannya, dan memutuskan bagaimana cara bertindak terhadapnya.
Pada intinya, psikologi politik menyangkut perilaku individu dalam suatu sistem politik tertentu. Psikologi sendiri tidak bisa menjelaskan Holocaust, konflik keras, perang, atau paling perilaku lainnya dari negara atau aktor politik kolektif dalam lingkungan yang kompleks. Individu tidak bertindak dalam ruang hampa. Perilaku mereka bervariasi dengan, dan menanggapi, perbedaan dalam lembaga-lembaga politik, budaya politik, gaya kepemimpinan, dan norma-norma sosial. psikologi mempengaruhi perilaku kebijakan luar negeri terutama melalui interaksi dengan aspek-aspek tertentu dari sistem internasional, pemerintah nasional, dan masyarakat yang berbeda. Logika yang sama berlaku untuk berbagai fenomena yang berbeda. Pertimbangkan penelitian tentang otoritarianisme. Apakah kita melihat ke perilaku pemimpin atau pengikut mereka untuk memahami mengapa warga di tahun 1930-an dan 1940-an diikuti para pemimpin fasis yang menganiaya dan membunuh jutaan orang? Apakah kekejaman yang dilakukan Nazi di Jerman dan Stallin di Rusia memiliki fungsi kepemimpinan politik, dukungan (persetujuan) dari masyarakat, atau keduanya? Beberapa ahli atribut Holocaust yang juga mermerupakan psikolog pengikut otoriter (Adorno, Frenkel-Brunswik, Levinson, & Sanford, 1950); melihatnya sebagai fungsi kepemimpinan dan kecenderungan manusia meresap untuk mematuhi otoritas (Milgram, 1974); yang lain melihatnya sebagai reaksi individu atas perselisihan sosial dan politik (Feldman & Stenner, 1997). Pada akhirnya sulit untuk percaya bahwa seseorang dengan kecenderungan otoriter akan berperilaku dengan cara yang persis sama di bawah rezim fasis seperti dalam demokrasi liberal.
3.      Menggunakan psikologi dalam memahami perilaku politik tertentu
Perilaku Voting
Dalam rangka untuk membuat kesimpulan dan prediksi tentang perilaku mengenai keputusan voting, pengaruh publik  tertentu harus dipertimbangkan. Pengaruh tersebut meliputi peran emosi, sosialisasi politik, toleransi keragaman pandangan politik dan media. Pengaruh pengaruh ini pada perilaku pemilih paling baik dipahami melalui teori tentang pembentukan sikap, keyakinan, skema, struktur pengetahuan dan praktek pengolahan informasi. Pada Tingkat dimana keputusan dipengaruhi oleh sistem pengolahan informasi internal politik dan pengaruh eksternal, mengubah kualitas membuat keputusan yang benar-benar demokratis.


konflik
Penerapan psikologi untuk memahami konflik dan tindak kekerasan yang ekstrim dapat dipahami baik secara individu dan kelompok. Konflik politik seringkali merupakan konsekuensi dari perbedaan etnis dan "etnosentrisme" Sumner (1906).
Pada tingkat individu dalam situasi konflik baik  pelaku, atau pengamat . Perilaku pelaku sering dijelaskan melalui tipe kepribadian otoriter. Perbedaan individu dalam tingkat empati telah digunakan untuk menjelaskan apakah seseorang memilih untuk berdiri untuk otoritas atau mengabaikan konflik. (1954) teori  locus of control dalam psikologi kepribadian Rotter juga telah digunakan untuk menentukan perbedaan individu dalam reaksi terhadap situasi konflik.
Perilaku kelompok selama konflik sering mempengaruhi tindakan individu. Efek pengamat diperkenalkan oleh Darley dan Latane (1968) menunjukkan bahwa perilaku kelompok menyebabkan individu untuk memantau apakah orang lain merasa perlu untuk bereaksi dalam situasi tertentu. Mereka juga menemukan bahwa orang lebih mungkin untuk meredakan tanggung jawab dalam sebuah kelompok. Teori-teori ini dapat diterapkan pada situasi konflik dan genosida di mana individu menghilangkan tanggung jawab pribadi dan karena itu membenarkan perilaku mereka. Teori identitas sosial menjelaskan bahwa selama Holocaust Perang Dunia II pemimpin politik menggunakan orang-orang Yahudi sebagai kelompok dalam rangka untuk meningkatkan kohesi kelompok. Hal ini memungkinkan bagi para pelaku untuk MENGURANGI tanggung jawab mereka.
Terrorism
Pada tingkat individu terorisme telah dijelaskan sebagai display gangguan kepribadian psikopatologis. Teroris menunjukkan ciri-ciri kepribadian narsistik (Lasch, 1979, Pearlstein, 1991). Post (2004) berpendapat bahwa gangguan kepribadian narsistik  ditemukan di teroris dan mekanisme seperti eksternalisasi digunakan oleh teroris.  Lain seperti Silke (2004) dan Mastors dan Deffenbaugh (2007) membantah pandangan ini. Crenshaw (2004) menunjukkan bahwa kelompok-kelompok teroris tertentu sebenarnya tidak berhati-hati dalam menunjukkan gejala  patologi mereka. Teori kepribadian otoriter juga telah digunakan sebagai penjelasan untuk perilaku teroris pada individu. Dalam hal menjelaskan alasan mengapa individu bergabung dengan kelompok teroris, para ahli menggunakan teori-teori motivasi seperti kebutuhan daya dan kebutuhan afiliasi. Festinger (1954) menjelaskan bahwa orang sering bergabung dengan kelompok untuk membandingkan keyakinan dan sikap mereka sendiri. Bergabung dengan kelompok teroris bisa menjadi metode untuk memperbaiki ketidakpastian individu. Taylor dan Louis (2004) menjelaskan bahwa individu berusaha untuk perilaku yang bermakna. Hal ini juga dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa teroris mencari keyakinan dan demonstrasi radikal. Studi pada anak-anak di Irlandia Utara oleh Bidang (1979) telah menunjukkan bahwa paparan kekerasan dapat menyebabkan perilaku teroris di kemudian hari. Melibatkan efek mengembangkan norma-norma yang dapat diterima dalam kelompok. Namun pandangan ini juga telah dikritik (Taylor, 1998). Teori lain menunjukkan bahwa frustrasi tujuan dapat menyebabkan agresi (Dollard, Doob. Miller, dan Sears, 1939)  dan agresi yang dapat menyebabkan frustrasi (Borum, 2004). Metode seperti dehumanisasi memungkinkan individu untuk  lepas lebih mudah dari tanggung jawab moral, dan pengaruh kelompok meningkatkan kemungkinan bahwa orang akan mengakui dan patuh terhadap suatu aturan baru. Manipulasi kontrol sosial dan propaganda juga menjadi instrumen keterlibatan teroris.
4.       Trend Penelitian Dalam Psikologi Politik
konstelasi karakteristik individu yang stabil yang diasumsikan untuk mengatasi efek kontekstual,mendominasi bidang psikologi politik sebagai variabel penjelas utama dalam penelitian pada 1940-an dan 1950-an. Studi tentang kepribadian utama tokoh politik pada saat itu mengandalkan sebagian besar hasil karya Sigmund Freud. Psikoanalisa adalah metode yang dominan digunakan dalam menganalisis para pemimpin politik. Diantaranya analisis Woodrow Wilson oleh Georgedan George, studi Martin Luther oleh Erik Erikson, dan penemuan kepribadian otoriter oleh Adorno et al. merupakan contoh utama dari pekerjaan yangberfokus pada kepribadian individu sebagai kekuatan yang stabil yang ditentukan keputusan politik. Meskipun model pendekatan ilmiahnya  yang lemah terutama karena ketergantungan pada psikoanalisis, namun tetap memiliki dampak yang langsung terhadap psikologi politik melalui studi kepemimpinan dan psiko-biografi. Mengandalkan wawasan ini, bidang sosialisasi politik berpendapat bahwa anak-anak belajar dasar sikap politik dari orang tua mereka dan melalui konteks sosial langsung, yang kemudian mendominasi sikap politik mereka setelah dewasa, hal ini menunjukkan peran fasilitasi emosi dalam pengambilan keputusan sebagai unsur integral dari pikiran manusia, sebuah elemen yang bekerja secara kognitif. Hal ini pada akhirnya menyebabkan minat yang lebih besar dalam fisiologi emosi, salah satu faktor yang berkontribusi pada tren epidemiologi saat ini di psikologi politik. Meskipun sebagian besar tidak berdiri sendiri dan terkait dengan disiplin ilmu lainnya, penelitian tentang fisiologis dasar-dasar fenomena politik cukup menjanjikan. Ini memiliki potensi untuk mengubah banyak teori Ulasan tentang psikologi politik individu dan menciptakan perspektif baru yang benar-benar interdisipliner. Terakhir, perlu dicatat bahwa meskipun Munculnya keunggulan dan perbedaan perspektif dalam psikologi politik di berbagai titik saat ini, hampir semua bidang ilmu terkait dengan psikologi politik. karena luasnya materi pelajaran, psikologi politik tetap menjadi salah satu bidang kajian yang paling dinamis dalam mengkaji politik.
5.      Contoh kasus
Penerapan Psikologi Sosial dalam Bidang Politik, Hukum, dan Organisasi Penerapan Psikologi Sosial dalam Bidang Politik
Publik Belum Percaya Kredibilitas Jokowi sebagai Capres
Kamis, 13 Juni 2013 19:02 WIB       
Dony Aprian – Okezone

JAKARTA - Joko Widodo (Jokowi) memang terus digadang-gadang sebagai calon presiden meski baru saja menjalani tugas sebagai gubernur DKI Jakarta. Hal itu dinilai sebagai nilai minus Jokowi karena belum menyelesaikan amanah tugas sebagai orang nomor satu di Ibukota. Ketua Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie Massardi menyatakan meskipun Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo tidak mempunyai "cacat" politik dan mampu untuk maju sebagai kandidat Calon Presiden (Capres) 2014, tetapi untuk saat ini publik masih memantau mantan Walikota Solo ini selama menjabat sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta. "Alasan orang memilih Jokowi belum ada. Karena prestasi dan kepemipinan Jokowi sebagai DKI 1 belum bisa di lihat," ujar Adhie Massardi melalui pesan singkat kepada Okezone, Kamis (13/6/2013).
Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie Massardi menyatakan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo maju dalam bursa kandidiat Calon Presiden (Capres) 2014 dari PDIP memiliki modal kepercayaan oleh masyarakat atas kepemimpinannya selama menjabat sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta. Bukan hanya itu, Sekjen MKRI ini menjelaskan, Jokowi juga relatif tak memiliki masa lalu yang kelam alias bersih dari dosa sosial. Ditambahkannya, faktor popularitas mantan Wali Kota Solo ini  diuntungkan oleh kenyataan tumbuhnya demoralisasi dan korupsi yang sangat pesat di kalangan pejabat publik. Sikap yang elegan dan debirokratif Jokowi membuat dia disukai masyarakat. (ahm)
Analisis:
Psikologi sosial merupakan usaha sistematik untuk mempelajari prilaku sosial (social behaviour). Hal ini berkaitan dengan bagaimana kita mengamati orang lain dan situasi sosial, bagaimana kita bereaksi terhadap orang lain dan bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita dan secara umum bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi sosial. Selain memberi berbagai pandangan baru dalam penelitian mengenai kepemimpinan, psikologi sosial dapat pula menerangkan sikap dan reaksi kelompok terhadap keadaan yang dianggapnya baru, asing, ataupun berlawanan dengan konsentrasi masyarakat mengenai gejala sosial tertentu. Psikologi sosial juga bisa menjelaskan bagaimana sikap (attitude) dan harapan (expectation) masyarakat dapat melahirkan tindakan serta tingkah laku yang berpegangan teguh pada tuntutan sosial (conformity).
Jika dahulu psikologi agak diabaikan dalam penyelidikan ilmu politik, dewasa ini keadaan itu berubah. Pengetahuan psikologi diperlukan dimanapun dan kapanpun diadakan penyelidikan politik secara ilmiah. Menurut Lasswell, di AS kini ilmu politik sedang mengalami peninjauan kembali atas metode serta peristilahannya. Peninjauan kembali ini terutama disebabkan oleh pengalaman dalam pelaksanaan prosedur-prosedur psikologis dalam penyelidikan ilmu politik. Menurut Lasswell, psikologi akan memainkan perannya yang lebih besar lagi di masa depan, karena bertambah intensifnya perjuangan untuk mempertahankan dan memperoleh kebebasan individu.
Merujuk pada kasus diatas, jelang pemilu 2014 lembaga - lembaga survei politik mulai mengerek nama Jokowi masuk dalam bursa calon presiden hingga menempatkan pada posisi pertama dalam waktu 1 bulan tanpa ukuran yang jelas tentang kemampuan seorang dalam memimpin suatu negara, dan media massa terus memblow up setiap kegiatan Jokowi sekalipun tentang Jokowi memakai sepatu atau Jokowi sakit flu. Padahal Jokowi sendiri dalam memimpin Jakarta baru dalam tahap melakukan pembenahan - pembenahan dan belum menuai keberhasilan. Memang tidak bisa dipungkiri strategi blusukan yang dilakukan oleh Jokowi adalah strategi jitu dalam meningkat popularitas, tetapi ingat popularitas itu harus di barengi dengan kinerja nyata dari sebuah pekerjaan. Justru dalam pepatah lama tentang keberhasilan seorang pemimpin adalah dikatakan berhasil jika masyarakat merasakan keberhasilan dan sejahtera tanpa tahu siapa yang megerjakannya.
Munculnya persepsi sosial dalam masyarakat mengenai suatu peristiwa pastilah berbeda – beda, karena fokusnya berbeda dan panca indra setiap manusia pun berbeda, sama halnya dengan persepsi masyarakat terhadap Jokowi, ada yang menilai dan merespon dengan baik terpilihnya Jokowi sebagai calon presiden dalam pemilu 2014 dan tidak sedikit pula yang berpandangan sebaliknya. Banyak masyarakat yang berpersepsi buruk  mengenai Jokowi, dimana masyarakat menilai apa yang dilakukan Jokowi hanyalah pencitraan semata dan belum dapat dibuktikan keberhasilannya dalam membangun Kota Jakarta. Selain itu strategi blusukan yang diterapkan Jokowi dianggap masyarakat sebagai “serangan politik”. Namun, dengan gencarnya pemberitaan, kicauan, sharing  mengenai figur Jokowi di media massa telah membuat Jokowi populer dan disukai oleh masyarakat, bukan hanya masyarakat Jakarta tetapi oleh sebagian besar rakyat Indonesia yang sangat haus akan kehadiran para politisi atau para negarawan sejati yang jujur dan loyal dalam melayani kepentingan masyarakat luas.
Tidak bisa dipungkiri Jokowi adalah sosok yang memiliki daya tarik yang kuat, citra diri Jokowi dinilai amat berbeda dengan pejabat kebanyakan. Ia tampak bersahaja dan lugu tanpa harus kehilangan ketegasan dan jiwa kepemimpinannya. Sehingga bukan tidak mungkin Jokowi terpilih sebagai Presiden Indonesia tahun 2014.
Penerapan Psikologi Sosial dalam Bidang Hukum
Ketua DPD: Kasus Akil Mochtar Puncak Korupsi di Indonesia
Jumat, 29 November 2013 13:50 WIB
Rivki - detikNews
Jakarta - Masalah korupsi di Indonesia sepertinya tidak mengenal kata akhir. Praktik korupsi seakan makin menjadi-jadi dengan berbagai modus, terutama saat Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar, tertangkap tangan KPK karena diduga menerima suap terkait pilkada. Ketua DPD Irman Gusman menganggap penangkapan Akil merupakan puncak kasus korupsi di Indonesia. Kasus Akil sungguh mencederai kepercayaan publik kepada lembaga peradilan. "Kasus Akil Mochtar merupakan puncak kasus korupsi di Indonesia," ujar Irman dalam diskusi 'Indonesia Menjawab Tantangan: Kepemimpinan Menjadi Bangsa Pemenang' di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jl Salemba Raya, Jakarta Pusat, Jumat (29/11/2013). Irman mengatakan, merajalelanya korupsi lantaran perilaku 'menilep' uang negara sudah membudaya di Indonesia. Bahkan cenderung sistemik. Kasus korupsi sudah seolah menjadi warisan budaya."Seperti kata Mochtar Lubis, korupsi sudah menjadi budaya. Dan juga sudah sistemik," tuturnya.  Irman menilai, Indonesia butuh banyak waktu membenahi persoalan korupsi yang sudah menjamur itu. Menurutnya, memberantas korupsi di negara ini sangat sulit.
"Perlu waktu untuk mengatasi itu dengan baik," pungkasnya.
Analisis :
Aplikasi psikologi dalam bidang hukum berkenaan dengan persepsi keadilan (bagaimana sesuatu putusan dikatakan adil, kenapa orang berbuat kejahatan, bagaimana mengubah perilaku orang untuk tidak berbuat kejahatan). Aplikasi secara detail dalam bidang ini antara lain: forensik, kriminalitas, pengadilan (hakim, jaksa, terdakwa, saksi, dll), pemenjaraan, dan yang berkaitan dengan penegakan hukum seperti kepolisian, dan lain-lain. Beberapa cabang psikologi yang berperan dalam sistem dan proses hokum adalah psikologi kognitif, perkembangan, sosial dan klinis. Di Barat peran ilmu psikologi dalam proses hukum telah banyak diaplikasikan, mulai dari tahap pemeriksaan, persidangan, putusan sampai ke tahap pemenjaraan. Misalkan dalam tahap pemeriksaan, bagaimana hasil penelitian psikologi megenai kemampuan meningkatkan daya ingat diterapkan dalam proses pemeriksaan saksi atau korban. Selain itu. Psikologi juga banyak digunakan untuk menjelaskan perilaku terdakwa atau korban, yang nantinya berguna dalam proses persidangan.
Seperti yang dikatakan di atas bahwa kasus korupsi seakan-akan sudah menjadi buaya dan mendarah daging di indonesia, dalam hal ini Akil Mochtar yang notabennya seorang ketua MK, hakim sekaligus pengadil hukum justru terlibat dalam kasus atau hal yang seharusnya dia basmi, maka wajar jika banyak praktisi hukum dan masyarakat yang menyayangkan akan hal ini, karena MK sendiri merupakan lembaga hukum yang saat ini bisa di bilang sangat dipercaya oleh publik, yang bersih dari korupsi di banding lembaga-lembaga hukum lainnya, ini jelas mencoreng wajah MK tersebut dan tidak hanya itu, masyrakat pun bisa saja mulai tidak percaya dengan kredibilitas MK, karna bukan tidak mungkin masyarakat akan menilai MK yang selama ini terlihat bersih dari korupsi ternyata justru adalah sarangnya korupsi, karna kita tau bahwa begitu banyak kasus di MK yang berpotensi akan terjadi suap seperti berbagai sengketa pilkada dan sebagainya di berbagai daerah yang untuk bisa memenangkannya harus menyuap MK dan Akil Mochtar sebagai ketua MK juga di curigai tidak bekerja sendiri karna bisa saja hakim MK lain ikut andil dalam kasus ini. Selain itu, kepercayaan masyarakat kepada MK mulai hilang dengan adanya kasus ini.
Dalam memahami kasus korupsi yang menimpa ketua MK Akil Mochtar ini, kita seharusnya dapat berpikir secara jernih dan objektif sehingga tidak terburu-buru memberikan judgment yang malah memperburuk situai dan keadaan. Dengan menggelembungnya kasus ini bisa berdampak posisitif dan negatif buat perkembangan demokrasi kedepan. Positifnya adalah, dari kasus ini bisa menjadi titik awal pagi pemerintah dalam hal ini MA, DPR, dan Presiden untuk memilih kandidat secara selektif dan betul-betul seorang negarawan sejati sehingga hal ini tidak terulang lagi, recruitment calon hakim konstitusi harus dilaksanakan secara transparan dan objektif dengan melibatkan partisipasi masyarakat yang lebih besar lagi. Dampak negatifnya adalah, dari kasus ini bisa dimanfaatkan oleh mafia-mafia, oknum-oknum, dan politikus yang tidak bertanggung jawab untuk melemahkan lembaga ini. Sekarang sudah mulai muncul sinyal-sinyal dari beberapa kalangan yang sudah mulai mempertanyakan putusan-putusan yang telah dikeluarkan oleh MK. Jika ini tidak disikapi dengan bijaksana, maka dikhawatir ini akan menimbulkan konflik yang bersifat horizontal dan lagi-lagi dampak terburuknya ada pada masyarkat.
Dari sisi psikologis kasus korupsi yang dilakukan oleh ketua MK Akil Mochtar, bisa disebabkan oleh dua faktor yaitu personal dan lingkungan. Pertama, faktor personal dimana ketua MK Akil Mochtar, mimiliki dorongan atau keinginan yang sangat kuat untuk menumpuk kekayaan sehingga dia sendiri tidak mampu untuk mengendalikannya. Kedua, Faktor lingkungan, Diasadari atau tidak perilaku korupsi sudah menjamur di semua institusi, bahkan tidak mengenal golongan, mulai dari tingkatan RW sampai kepada lembaga tinggi negara, sehingga seolah-olah sudah menjadi budaya. Sehingga, Akil Mochtar terpengaruh oleh lingkungannya yang terus secara sistematis mempengaruhinya, mak terjadilah kasus seperti ini.












Daftar pustaka
Introduction: Theoretical Foundations of Political Psychology 
Leonie Huddy, David O. Sears, and Jack S. Levy. 2009

Introduction to Political Psychology: 2nd Edition Paperback – December 3, 2009
by Martha L. Cottam (Author), Beth Dietz-Uhler (Author), Elena Mastors (Author), Thomas Preston (Author)

muluk. H. ( 2012 ). Pengantar Psikologi Politik. Raja Wali Pers.

Posting Komentar

0 Komentar