KATA PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan
puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah seminar
Psikologi klinis mengenai SCHIZOPHRENIA.
Adapun
makalah seminar psikologi klinis ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan
tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada
pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Namun tidak lepas
dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi
penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan
tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi
saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhirnya
penyusun mengharapkan semoga dari makalah biologi ini kita dapat mengambil
hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.
Pekanbaru, 11 maret 2015
Pekanbaru, 11 maret 2015
penyusun
DAFTAR ISI
COVER…………………………………………………………………………………..
KATA
PENGANTAR…………………………………………………………………. 1
DAFTAR
ISI……………………………………………………………………………. 2
BAB
1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG…………………………………………………………….. 3
1.2 RUMUSAN
MASALAH………………………………………………………….. 3
1.3 TUJUAN……………………………………………………………………………. 4
BAB
2 PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
SKIZOFREN…………………………………………………….. 5
2.2 PENYEBAB
SKIZOFREN………………………………………………………... 6
2.3 GEJALA
SKIZOFREN……………………………………………………………. 7
2.4 KARAKTERISTIK
SKIZOFREN……………………………………………….. 9
BAB
3 PENUTUP
3.1
KESIMPULAN…………………………………………………………………….. 11
3.2
SARAN……………………………………………………………………………… 11
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………………………… 12
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering.
Hampir 1 % penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka.
Gejala skizofrenia biasanya muncul pada usia remaja akhir atau dewasa
muda. Awitan pada laki-laki biasanya antara 15-25tahun. Prognosis biasanya
lebih buruk pada laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan.Awitan setelah
umur 40 tahun jarang terjadi. (Amir, 2010)
Skizofrenia merupakan penyakit kronik. Sebagian kecil dari
kehidupan mereka berada dalam kondisi akut dan sebagian besar penderita
berada lebih lama dalam faseresidual yaitu fase yang memperlihatkan gambaran
penyakit yang ringan. Selama perioderesidual, pasien lebih menarik diri atau
mengisolasi diri, dan aneh. Gejala-gejala penyakit biasanya terlihat jelas
oleh orang lain. (Amir, 2010). Di Amerika Serikat prevalensi skizofrenia seumur
hidup dilaporkan secara bervariasiterentang dari 1 sampai 1,5 %; konsisten
dengan angka tersebut, penelitian
Epidemological
Catchment Area (ECA) yang disponsori oleh National
Institue of Mental Helath (NIHM) melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 1,3
%. (Kaplan dkk, 1997)Skizofrenia adalah sama-sama prevalensinya antara
laki-laki dan wanita. Tetapi, dua jenis kelamin tersebut menunjukkan
perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset lebih
awal daripada wanita. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25
tahun; untuk wanita usia puncak adalah 25 sampai 35 tahun. Onsetskizofrenia sebelum
usia 10 tahun atau sesudah 50 tahun adalah sangat jarang. (Kaplandkk, 1997).
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan apa yang telah
dipaparkan diatas maka dapat diambil rumusan masalah yaitu:
1. apa pengertian skizofren?
2. Factor factor apa saja yang menjadi
penyebab skizofren?
3. Apa saja Gejala klinis skizofren?
4. Karakteristik atau macam macam
skizofren?
1.3 TUJUAN
Adapun tujuan pembuatan makalah ini
adalah untuk mengetahui apa itu pengertian skizofren, factor factor apa saja
yang menyebabkan terjadinya skizofren, apa saja gejala gejala yang
diperlihatkan oleh skizofren, dan macam macam atau karakteristik skizofren.
BAB
2
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN SKIZOFRENIA
Skizofrenia adalah suatu psikosa fungsional dengan gangguan
utama pada proses pikir serta disharmonisasi antara proses pikir, afek atau
emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataaan terutama karena
waham dan halusinasi, assosiasi terbagi-bagi sehingga muncul inkoherensi, afek
dan emosi inadekuat, psikomotor menunjukkan penarikan diri, ambivalensi dan perilaku bizar
(Maramis, 2009). Skizofrenia berasal dari dua kata “skizo” yang berarti retak
atau pecah (split), dan ”frenia” yang berarti jiwa. Dengan demikian seseorang
yang menderita gangguan jiwa skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan
atau keretakan kepribadian (splitting of personality) (Hawari, 2001).
Gangguan
skizofren (schizophreniform disorder)
menurut PPDGJ III umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan persepsi mendasar
dank has, dan oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul blunted.
Gangguan ini melibatkan ungsi yang paling mendasaryang memberikan kepada orang
normal suatu perasaan kepribadian (individuality), keunikan, pengarahan diri
(self – direction). Pikiran, perasaan dan perbuatan yang paling intim/ mendalam
sering terasa diketahui oleh adanya terbagi rasa dengan orang lain, dan waham –
waham dapat timbul, yang menjelaskan bahwa kekuatan alami dan supernatural
sedang bekerja mempengaruhi pikiran dan perbuatan penderitaan penderita dengan
cara cara yang sering tidak masuk akal atau bizarre.
Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan
gangguan utama dalam pikiran, emosi, dan perilaku- pikiran yang terganggu,
dimana berbagai pemikiran tidak saling berhubungan secara logis; persepsi dan
perhatian yang keliru; afek yang datar atau tidak sesuai; dan berbagai gangguan
aktivitas motorik yang bizzare . ODS
( Orang dengan skizofrenia) menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering
kali masuk ke dalam kehidupan fantasi yang penuh delusi dan halusinasi.
Meskipun skizofrenia muncul kadang berawal dari masa
anak-anak, gangguan ini biasanya muncul pada masa remaja atau awal masa dewasa,
agak lebih awal pada kaum laki-laki daripada kaum perempuan. Usia timbulnya
gangguan tampaknya semakin muda dalam beberapa dekade terakhir (DiMaggio dkk,
2001). Orang-orang yang menderita skizofrenia umumnya mengalami beberapa
episode akut simptom-simptom; diantara setiap episode mereka sering mengalami
simptom-simptom yang tidak terlalu parah, namun tetap sangat mengganggu
keberfungsian mereka.
2.2 FAKTOR PENYEBAB SKIZOFRENIA
Menurut Maramis (1994), faktor-faktor yang berisiko untuk
terjadinya Skizofrenia adalah sebagai berikut :
a.
Keturunan
Faktor keturunan menentukan
timbulnya skizofrenia, dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga
penderita skizofrenia dan terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan
bagi saudara tiri ialah 0,9 – 1,8%, bagi saudara kandung 7 – 15%, bagi anak
dengan salah satu anggota keluarga yang menderita Skizofrenia 7 – 16%, bila
kedua orang tua menderita Skizofrenia 40 – 68%, bagi kembar dua telur (heterozigot)
2 – 15%, bagi kembar satu telur (monozigot) 61 – 86%.
b.
Endokrin
Skizofrenia mungkin disebabkan oleh
suatu gangguan endokrin. Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering
timbulnya skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau peuerperium dan
waktu klimakterium.
c.
Metabolisme
Ada yang menyangka bahwa skizofrenia
disebabkan oleh suatu gangguan metabolisme, karena penderita dengan skizofrenia
tampak pucat dan tidak sehat.
d. Susunan saraf pusat
Ada yang berpendapat bahwa penyebab
skizofrenia ke arah kelainan susunan saraf pusat, yaitu pada diensefalon atau
kortex otak.
e.
Teori Adolf Meyer
Skizofrenia tidak disebabkan oleh
suatu penyakit badaniah tetapi merupakan suatu reaksi yang salah, suatu
maladaptasi. Oleh karena itu timbul suatu disorganisasi kepribadian dan
lama-kelamaan orang itu menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).
f.
Teori Sigmund Freud
Terjadi kelemahan ego, yang dapat
timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik. Superego dikesampingkan
sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yang berkuasa serta terjadi suatu regresi
ke fase narsisisme.
g.
Eugen Bleuler
Skizofrenia, yaitu jiwa yang
terpecah-belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir,
perasaan dan perbuatan.
h.
Skizofrenia sebagai suatu sindrom
yang
dapat disebabkan oleh bermacam-macam sebab, antara lain keturunan, pendidikan
yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lesi otak,
arterosklerosa otak dan penyakit yang lain belum dikettahui.
i.
Skizofrenia itu suatu gangguan
psikosomatik,
gejala-gejala pada badan hanya sekunder karena gangguan dasar yang psikogenik,
atau merupakan manifestasi somatik dari gangguan psikogenik.
2. 3. GEJALA KLINIS SKIZOFRENIA
Gambaran gangguan jiwa skizofrenia beraneka ragam dari mulai
gangguan pada alam pikir, perasaan dan perilaku yang mencolok sampai pada yang
tersamar. Sebelum seseorang sakit, pada umumnya penderita sudah mempunyai
cirri-ciri kepribadian tertentu. Kepribadian penderita sebelum sakit disebut
sebagai Kepribadian Pramorbid, seringkali digambarkan sebagai orang yang mudah
curiga, pendiam, sukar bergaul, lebih senang menarik diri dan menyendiri serta
eksentrik (aneh). Gangguan jiwa Skizofrenia biasanya mulai muncul dalam masa
remaja atau dewasa muda (sebelum usia 45 tahun). Seseorang dikatakan menderita
Skizofrenia apabila perjalanan penyakitnya sudah berlangsung lewat 6 bulan.
Sebelumnya didahului oleh gejala-gejala awal disebut sebagai fase prodromal
yang ditandai dengan mulai munculnya gejala-gejala yang tidak lazim misalnya
pikiran tidak rasional, perasaan yang tidak wajar, perilaku yang aneh,
penarikan diri dan sebagainya. Gejala – gejala Skizofrenia dapat dibagi dalam 2
kelompok yaitu gejala positif dan gejala negatif.
a. Gejala positif Skizofrenia
Gejala positif yang diperlihatkan
pada penderita skizofrenia adalah sebgai berikut :
1) Delusi
atau waham,
yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal). Meskipun telah
dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinan itu tidak rasional, namun penderita
tetap meyakini kebenarannya.
2)
Halusinasi,
yaitu pengalaman panca indera tanpa rangsangan (stimulus). Misalnya penderita
mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak das
umber dari suara atau bisikan itu.
3)
Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya
bicaranya kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.
4) Gaduh,
gelisah,
tidak dapat diam, mondar-madir, agresif, bicara dengan semangat dan gembiran berlebihan.
5) Merasa
dirinya
“Orang Besar”, merasa serba mampu, serba hebat dan sejenisnya.
6)
Pikirannya penuh
dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya.
7)
Menyimpan rasa permusuhan.
Gejala-gejala positif skizofrenia
amat mengganggu lingkungan (keluarga) dan merupakan salah satu motivasi
keluarga membawa penderita berobat.
b. Gejala negatif skizofrenia
Gejala-gejala negatif yang
diperlihatkan pada penderita Skizofrenia adalah sebagai berikut :
1) Alam perasaan (affect) “tumput” dan “mendatar”. Gambaran alam perasaan ini dapat
terlihat dari wajag yang tidak menunjukkan ekpresi.
2) Menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawn) tidak mau
bergaul atau kontak dengan orang lain, suka melamun (day dreaming).
3) Kontak emosional amat ‘miskin”, sukar diajak bicara,
pendiam.
4) Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan
sosial.
5) Sulit dalam berpikir abstrak.
6) Pola pikir stereotip.
7) Tidak ada atau kehilangan dorongan kehendak (avolition) dan tidak ada
inisiatif, tidak ada upaya dan usaha, tidak ada spontanitas, menoton, serta
tidak ingin apa-apa dan serba malas (kehilangan nafsu).
Gejala-gejala negatif skizofrenia
seringkali tidak disadari atau kurang diperhatikan oleh pihak keluarga, karena
dianggap tidak “mengganggu” sebagaimana halnya pada penderita skizofrenia yang
menunjukkan gejala-gejala positif.
2.4 KRITERIA SKIZOFRENIA DALAM
DSM–IV-TR
Terdapat dua atau lebih simptom-simptom berikut ini dengan porsi waktu yang
signifikan selama sekurang-kurangnya satu bulan : waham, halusinasi,
disorganisasi bicara, disorganisasi perilaku katatonik, simptom-simptom
negatif.
Keberfungsian sosial dan pekerjaan menurun sejak timbulnya gangguan.
Gejala-gejala gangguan terjadi selama sekurang-kurangnya enam bulan; sekurang-kurangnya
satu bulan untuk simptom-simptom lain pada poin pertama; selebihnya
simptom-simptom negatif atau simptom lain pada poin pertama dalam bentuk
ringan.
Kategori Skizofrenia dalam DSM-IV-TR
Paranoid
(F 20.0)
Tipe
ini ditandai dengan munculnya pikiran-pikiran tentang adanya persekongkolan
atau sentimen negatif orang lain yang merupakan ancaman bagi dirinya, terlihat
begitu nyata dan mencolok meski sebenarnya itu hanya skenario yang berlangsung
di dalam pikirannya sendiri. Ditambah pula halusinasi pendengaran dimana ODS
mendengar suara-suara yang tak didengar oleh orang lain.
Secara
umum tipe ini terlihat paling ‘normal’ dibanding tipe-tipe lainnya, terutama
kalau yang bersangkutan mampu mengendalikan diri. ODS paranoid mampu bekerja
dan bersosialisasi secara wajar. Perilaku yang muncul ke permukaan sangat
tergantung pada muatan delusi/halusinasi dalam pikirannya, ODS yang meyakini
adanya persekongkolan jahat akan cenderung gampang tersinggung atau marah.
Kondisi tak nyaman kerapkali merupakan pemicu rangkaian gejala lainnya.
ODS tipe
ini diliputi keraguan untuk membicarakan penyakitnya namun sebaiknya keluarga
dan teman dekat mengusahakan hubungan yang nyaman agar dia mau terbuka
bercerita tentang hal-hal yang membebani kepalanya selama ini. Bimbing dia
untuk menerima kenyataan bahwa dirinya sakit dan membutuhkan pengobatan yang
tepat sedini mungkin. Lebih cepat ditangani akan lebih baik karena akan ada
kemungkinan kondisi memburuk dan dia masuk ke jenis paranoid disorganisasi.
Disorganisasi
(F 20.1)
Ketidak-teraturan
(disorganisasi) pola-pola berpikir dengan hanya sedikit gangguan
delusi/halusinasi adalah ciri tipe ini. Kemampuan untuk menjalani kehidupan
normal sangat rendah dan ODS tipe ini bahkan mengalami kesulitan untuk
melakukan rutinitas pribadi seperti mandi atau menggosok gigi.
Gangguan
emosional yang parah terlihat nyata pada tipe ini. Perubahan emosi yang sangat
menyolok dari semula tertawa gembira lalu sedetik kemudian dia bisa saja
menangis meraung-raung. Atau malah tak bereaksi sama sekali saat ada kejadian (yang
mestinya) menggemparkan dan merespon suatu bentuk perhatian dengan caci
maki kasar. Menurun drastisnya kemampuan berkomunikasi juga dialami ODS tipe
ini akibat disorganisasi pola berpikirnya.
Skizofrenia hebefrenik :
Suatu bentuk skizoprenia denga
perubahan afektif yang tampak jelas, dan secara umum juga dijumpai waham dan
halusinasi yang bersifat mengambang serta terputus-putus, perilaku yang tak
bertanggung jawab dan tak dapat di ramalkan serta umumnya manirisme. Suasana
perasaan atau mood pasien dangkal dan tidak wajar, sering diserta oleh
cekikikan atau perasaan puas diri, senyum sendiri atau oelh sikap yang angkuh
atau agung, ketawa menyeringai, mengibuli secara bersenda gurau, ungkapan kata
yang berulang-ulang. Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak
menentu secara inkoheren. Ada kecenderungan untuk tetap menyendiri, dan
perilaku tampak hampa tujuan dan hampa perasaan. Permulaannya perlahan-lahan
atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15 – 25 tahun.
Gejala yang menyolok ialah : gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan
adanya depersonalisasi. Waham dan halusinasi banyak sekali.
Sebagai tambahan gangguan afek dan
dorongan kehendak, serta gangguan proses piker umumnya menonjol. Halusinasi dan
waham mungkin ada, tetapi biasanya tidak menonjol. Dorongan gairah dan
ketegasan hilang serta tujuan ditinggalkan, sehingga perilaku penderita
memperlihatkan cirri khas yaitu perilaku tanpa tujuan dan tanpa maksud.
Pedoman diagostik
Biasanya
diagnostic hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau
dewasa muda. Kepribadian ramorbit secara khas tetapi tidak selalu, pemalu dan
menyendiri untuk diagnostic hebefrenia yang meyakinkan umumnya diperlukan
pengamatan continue 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa perilaku
yang khas seperti diuraikan diatas memang benar bertahan.
Skizofrenia tak terinci
kondisi kondisi yang memenuhi
criteria diagnostic umum untuk skizofrenia tetapi tidak sesuai dengan satupun
subtype tersebut di atas, atau memperlihatkan gejala lebih dari satu subtype
tanpa gambarn predominasi yang jelas untuk suatu kelompok diagnosis yang khas.
Rubric ini hanya digunakan untuk kondisi-kondisi psikotik(yaitu skizofrenia
residual dan depresi pasca skizofrenia tidak termasuk) dan sesudah dilakukan
suatu upaya untuk mengklasifikasikan kondisi tersebut kedalam salah satu dari
tiga kategori sebelum ini.
Pedoman diagnostic
Kategori ini harus disediakan untuk
gangguan yang :
1. Memenuhi criteria diagnostic untuk
skizofrenia
2. Tidak memenuhi krteria untuk
skizorenia paranoid, hebefrenik, katatonik.
3. Tidak memenuhi criteria untuk
skizofrenia residu atau depresi pasca skizofrenia
KASUS – KASUS
1.
PARANOID
Joe adalah siswa yang baik disepanjag
masa SMAnya. Ia anggota tim futbal, mempertahankan ranking yang bagus dan
mendapatkan pujian pada setap semesternya. Ia ramah dan popular. Menjelang
akhir semester pertama di kuliahnya, semua mulai berubah. Joe tak lagi makan
bersama dengan kawan-kawannya, pada kenyataannya dia mulai berkurung diri
didalam kamanya. Dia mulai mengabaikan kesehatan pribadinya dan berhenti
menghadiri kuliah. Joemengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus
membacakalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa
kata-kata dalam naskah bukunya memiliki makna yang khusus baginya dan dengan
suatu cara memberitahunya sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi rahasia.
Joe mulai menyangka bahwa kawan sekamarnya bersekngkol dengan telpon dan
komputernya untuk mengawasi kegiatannya. Joe menjadi takut jika kawan
sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah bukunya dan kini mencoba untuk
menipunya. Joe mulai percaya percaya teman sekamarnya dapat membaca pikirannya,
pada kenyataannya siapapun yang ia lewati di aula atau dijalan dapat mengatakan
apapun yang ia pikirkan. Saat joe sedang sendiriian dikamarnya, ia dapat
mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat
memastikan apa yang mereka katakan tapi ia yakin apa yang dibicarakannya.
2.
TAK TERINCI
Seorang wanita berinisial R (25
tahun) pada tanggal 3 september 2011 dibawa kerumah sakit oleh kakak iparnya
dengan keluhan suka marah-marah tanpa sebab dan berpergian tanpa tujuan yang
jelas. Diketahui selama dua minggu dia mengalami putus obat. Kini, pasien
terlihat dalam batas wajar. Anamnesis ditanggapi ditanggapi dengan baik dan ia
menjawab dengan releven. Namun, ketika disinggung soal suami, pasien terlihat
agak tidak suka. Dari riwayat pasien, didapatkan bahwa pasien sudah mengalami
gangguan jiwa sekitar 10 tahun yang lalu sering keluar masuk RSJ, memiliki
stressor social ingin memiliki suami serta darii riwayat keluarga terdapat
gangguan yang sama dari kakak ibu dan saudara sepupu.
3.
HEBEFRENIK
Pria berusia 50 tahun sering
terlihat duduk diam di depan suatu swalayan. Pria ini terlihat kumuh, bisa
dikatakan bahwa pria ini tidak mengurus dirinya sendiri. Sudah lama ia
menggunakan baju yang sama selama bebrapa bulan. Pria tua ini suka tertawa
menyeringai ketika ada orang lewat didepannya atau melihat kearahnya. Ia juga
suka berbicara dan menggumam sendiri. Dan kami menduga ia mengalami skizofrenia
hebefrenik.
BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Skizofrenia adalah suatu psikosa
fungsional dengan gangguan utama pada proses pikir serta disharmonisasi antara
proses pikir, afek atau emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi
kenyataaan terutama karena waham dan halusinasi, assosiasi terbagi-bagi
sehingga muncul inkoherensi, afek dan emosi inadekuat, psikomotor menunjukkan penarikan diri, ambivalensi dan perilaku
bizar. Penyebab skizofren itu dapat di sebabkan oleh keturunan, endokrin,
metabolism, dan susunan saraf. Gejala gejala yang di perlihatkan secara klinis
yaitu adanya waham, delusi, halusiasi, kekacauan pikiran, gaduh, gelisah,
merasa diri nya besar.
Skizofren dapat dibedakan lagi dalam
beberapa karakteristik yaitu skizofren paranoid, katatonik, hebefren, afek
bipolar, serta skizofren yang tak tergolong. Yang masing masing setiap
skizofren memiliki gejala nya masing masing.
3.2 SARAN
Marilah kita mengenali lebih lanjut
apa penyebab penyebab terjadinya skizofren supaya kita dapat mencegah
terjadinya skizofren pada orang orang yang kita sayangi, selain itu juga agar
kita dapat mengetahui lebih jelasnya bagaimana cirri ciri orang yang mengalami
skizofren. Agar dapat diproses dengan cepat.
DAFTAR PUSTAKA
Deena, ( ). PPDGJ III pedoman penggolongan dan
diagnosis gangguan jiwa diindonesia III. departemen kesehatan R.I
Directorat Jendral Pelayanan Medik
Nurul, I. (2013 ). Skizofrenia paranoid. Diunggah selasa, 10 maret 2015 dari http://intaninung.blogspot.com/2013/05/skizofrenia-paranoid.html
Psikiater. ( 2011 ). Mengenal skizofrenia. Diunggah selasan 10 maret 2015 dari https://psikiaterku.wordpress.com/tag/psikotik/

0 Komentar