Yogi Pratama
128110047
Sejarah Test Kraeplin
Tes kraepelin diciptakan oleh seorang psikiater jerman bernama Emilie kraepelin
pada tahun 1856 – 1926. Alat tes ini terlahir karena adanya dasar
pemikiran dari faktor-faktor yang khas pada sensori sederhana, sensori motor,
perseptual dan tingkah laku. Pada mulanya merupakan tes kepribadian. Namun
dalam pekembangannya telah berubah menjadi tes bakat, dengan cara merubah
tekanan skoring dan interpretasi. Satu hal yang perlu anda ketahui bahwa alat
tes ini akan mengungkap beberapa faktor bakat diantaranya: kecepatan,
ketelitian, keajegan, dan ketahanan kerja di dalam tekanan. Emil Kraepelin
dilahirkan pada tanggal 15 Pebruari 1856 di Neustrelitz dan wafat pada tanggal
7 Oktober 1926 di Munich. Ia menajdi dokter di Wurzburg tahun 1878, lalu
menjadi dokter di rumah sakit jiwa Munich. Pada tahun 1882 ia pindah ke Leipzig
untuk bekerja dengan Wundt yang pernah menjadi kawannya semasa mahasiswa. Dari
tahun 1903 sampai meninggalnya, ia menjadi profesor psikiatri di klinik
psikiatri di Munich dan sekaligus menjadi direktur klinik tersebut.
Emil Kraepelin adalah psikiatris yang mempelajari gambaran dan klasifikasi
penyakit-penyakit kejiwaan, yang akhirnya menjadi dasar penggolongan
penyakit-penyakit kejiwaan yang disebut sebagai Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders (DSM), diterbitkan oleh American Psychiatric
Association (APA). Emil Kraepelin percaya bahwa jika klasifikasi gejala-gejala
penyakit kejiwaan dapat diidentifikasi maka asal usul dan penyebab penyakit
kejiwaan tersebut akan lebih mudah diteliti.
Kraepelin menjadi terkenal terutama karena penggolongannya mengenai penyakit
kejiwaan yang disebut psikosis. Ia membagi psikosis dalam dua golongan utama
yaitu dimentia praecox dan psikosis manic-depresif. Dimentia praecox merupakan
gejala awal dari penyakit kejiwaan yang disebut schizophrenia. Kraepelin juga
dikenal sebagai tokoh yang pertama kali menggunakan metode psikologi pada
pemeriksaan psikiatri, antara lain menggunakan test psikologi untuk mengetahui
adanya kelainan-kelainan kejiwaan. Salah satu test yang diciptakannya di kenal
dengan nama test Kraepelin. Test tersebut banyak digunakan oleh para sarjana
psikologi di Indonesia pada era tahun 1980an.
1.
Pengertian Tes Kraepelin
Tes kraepelin merupakan tes yang sering digunakan
dalam rekruitment karyawan. Dimana nantinya disuguhi lembaran kertas yang penuh
berisi angka-angka dan diminta menjumlahkan angka diatas yang berdekatan dalam
satu kolom dan menulis hasilnya di antara angka tersebut, kemudian sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan tester atau penguji akan meminta anda
melanjutkan ke kolom selanjutnya sampai waktu tes berakhir. kertas tes yang
berisi berbagai tahap penyelesaian kombinasi angka yang pada intinya akan
menilai aspek kepribadian, daya tahan kompetensi, dan yang lainnya, kemudian
hasil dalam bentuk grafis dan skor tes akan disesuaikan dengan kebutuhan tes
makhluk / perekrut.
2.
Tujuan Tes Kreplin
Tes kraepelin dimaksudkan untuk mengukur maximum performance seseorang. Oleh
karenanya tekanan skoring dan interpretasi lebih didasarkan pada hasil test
secara obyektif bukan pada arti proyektifnya.
Dari
hasil perhitungan obyektif, dapat diinterpretasikan 4 hal :
1.
Faktor kecepatan (speed factor)
2.
Faktor ketelitian (accuracy factor)
3.
Faktor keajekan (rithme factor)
4.
Faktor ketahanan (ausdeur factor)
Tes kraepelin dapat digunakan untuk menentukan tipe
performance seseorang, misalnya :
Ø
Hasil penjumlahan angka yang sangat rendah, dapat mengindikasikan gejala
depresi mental
Ø
Terlalu banyak salah hitung, dapat mengindikasikan adanya distraksi mental
Ø
Penurunan grafik secara tajam, dapat mengindikasikan epilepsi atau hilang
ingatan sesaat waktu tes.
Ø
Rentang ritme/grafik yang terlalu besar (antara puncak tertinggi &
terendah) dapat mengindikasikan adanya gangguan emosional.
3.
Arah Karir
Ø
Kecepatan Kerja (Pan-ker)
Ditunjukkan
pada berapa prestasi yang dicapai dalam mengerjakan tes. Jika hasil yang
diperoleh testee tinggi maka arah karir yang cocok yaitu bekerja pada bidang
pekerjaan kantoran, pekerjaan membuat jadwal, grafik, dan chart, tetapi jika
hasil yang diperoleh rendah maka testee tersebut memiliki kecepatan yang rendah
ketika bekerja.
Ø
Ketelitian Kerja (Tin-ker)
Ditunjukkan
pada berapa kesalahan (salah maupun terloncat) yang diperbuat dalam pengerjaan
tes. Jika testee mendapatkan jumlah kesalahan sedikit maka testee tersebut
dapat dikategorikan mempunyai tingkat ketelitian yang tinggi, arah karir yang
cocok yaitu bekerja pada bidang manajemen, akutansi, perpajakan, statistika,
dan matematika.
Ø
Keajegan Kerja (Jan-ker)
Ditunjukkan
pada irama kerja seseorang dalam mengerjakan tes. Untuk mengetahui keajegan
atau sering disebut dengan kestabilan seseorang maka dengan cara menskor deret
tertinggi dikerjakan dikurangi deret terendah yang dikerjakan. Jika hasil yang
di peroleh testee tinggi, maka arah karir yang cocok yaitu sebagai
direktur atau pimpinan perusahaan.
Ø
Ketahanan Kerja (Han-ker)
Ditunjukkan
oleh garis ausdaner dalam mengerjakan tes. Menganalisis dari bentuk grafik yang
dikerjakan oleh testee.
B.
SKORING, ANALISA DAN INTERPRETASI TES KREPLIN
a.
Aspek kecepatan ( Panker )
Ø
Cara menskor adalah menjumlahkan deret-deret yang telah dikerjakan oleh testee
( dari deret ke 1-50 ) lalu di bagi sehingga ditemukan
rata-ratanya.
∑x
Rumus
yang digunakan
adalah :
M = - - - - - - -
N
M
= Rata-rata
N
= Jumlah deret
∑x = Jumlah
kerja jawaban
Ø
Cara menganalisa adalah skor transfer ke pp ( persentil Point )
Ø
Interpretasi dari aspek ini, tester dapat mengetahui berapa prestasi yang
dicapai dalam mengerjakan tes.
b.
Aspek ketelitian kerja ( Tinker )
Ø
Cara menskor adalah menjumlahkan kesalahan menghitung dan loncatan.
Ø
Cara menganalisa adalah skor ditransfer ke PP ( Persentil Poin )
Ø
Interpretasi dari aspek ini, tester dapat mengetahui berapa kesalahan (salah
dan loncatan) yang diperbuat dalam mengerjakan bagaimana kualitas dan
konsentrasi kerja testee. Jika testee memperoleh Raw score < 8, maka skor
ini menunjukkan bahwa testee memiliki tingkat ketelitian yang tinggi,
konsentrasi yang baik, dan kualitas kerja yang baik. Jika testee memperoleh Raw
score >, maka skor ini menunjukan testee bersikap tidak teliti, ceroboh,
atau kurang berkonsentrasi dalam bekerja.
c.
Aspek keajegan / kestabilan kerja ( Janker )
Ø
Cara menskor adalah deret yang tertinggi yand dikerjakan dikurangi deret
terendah yang di kerjakan.
Rumusnya
adalah : X = Dt – Dr
Ø
Cara menganalisa adalah skor transfer ke PP ( Persentil Poin)
Ø
Interpretasi dari aspek ini adalah, tester dapat melihat yang ditunjukkan
dengan irama kerja seseorang di dalam mengerjakan tes. Stabilitas emosi adalah
orang yang bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ketika dihadapkan pada
suatu permasalahan, tidak mengekspresikan emosinya dengan berlebih-lebihan
seperti berteriak sekencang-kencangnya, memukul, dan marah-marah. Orang stabil
emosinya bisa menyeimbangkan antara kebutuhan fisik dan psikis.. Jika testee
memperoleh Raw ≥ 8, maka skor ini menunjukkan bahwa testee cenderung
memilik emosi yang tidak stabil. Jika testee memperoleh Raw < 8, maka skor
ini menunjukkan bahwa testee cenderung memiliki emosi yang stabil.
d.
Aspek ketahanan kerja ( Hanker )
Ø
Cara menskor adalah membuat titik setiap pekerjan yang diselesaikan kemudian
digaris penghubung antara titikderet 1-50 sehingga terbentuk grafik.
Ø
Cara analisa lihat bentuk grafik
Ø
Interpretasi dari aspek ini adalah, tester dapat melihat bagaimana daya tahan
testee terhadap situasi menekan ( stres ). Dari grafik, tester juga dapat
melihat bagaimana ketahanan kerja testee. Jika grafik tinggi dan cenderung
stabil, maka ketahanan kerja testee cenderung tinggi. Jika grafik rendah, maka
ketahan kerja testee cenderung rendah. Jika grafik menanjak, maka motivasi
testee dalam mengahadapi situasi menekan dan motivasi berprestasi semakin
besar. Jika grafik menurun, maka motivasi testee dalam menghadapi situasi
menekan dan motivasi berprestasi semakin rendah
Individu
dikatakan memiliki performance kerja yang baik jika dalam rentang waktu yang
lama, dalam situasi menekan ( stresfull ) mampu menampilkan unjuk kerja yang
cepat, teliti, dan stabil.
D.
TIPS MENGERJAKAN TEST KRAEPELIN
1.
Yang paling penting dalam mengerjakan test ini adalah konsentrasi. Test ini
sangat menguras energi, usahakan untuk tidak blank
dalam mengerjakan test ini.
2.
Usahakan jumlah angka yang terjawab di masing-masing kolom stabil. Jangan
memaksakan diri untuk menjawab di kolom-kolom awal sehingga kewalahan di
pertengahan hingga akhir kolom sehingga terbentuk kurva yang zig-zag atau
menurun. Kendalikan diri dengan patokan penjumlahan sesuai dengan kemampuan
anda. Anda tidak perlu menyelesaikan semua penjumlahan sampai ujung atas untuk
masing-masing kolom. Usahakan mematok lebih dari 12 perhitungan dan tetap
stabil untuk setiap kolomnya.
3.
usahakan jangan terus mengerjakan kolom yang sudah habis waktunya karena akan
menghabiskan waktu yang disediakan untuk kolom berikutnya dan pasti akan
memberikan hasil yang jelek di kolom berikutnya.

0 Komentar