Slogan

Slogan

Mau di Langkahkan Kemana Kakimu Mahasiswa



Alkisah, John F. Kennedy setelah dilantik menjadi Presiden termuda di USA ditanya oleh wartawan tentang hal yang paling berkesan dalam kehidupannya. Jawaban yang diberikan sangat mencengangkan bagi semua orang, dia menyatakan saat menjadi mahasiswalah yang merupakan saat-saat menyenangkan bagi dirinya. Orang banyak berfikir bahwa saat dilantik menjadi Presiden termudalah saat yang paling menyenangkan baginya. Hal ini menjadi tanda tanya yang besar kenapa begitu menyenangkan menjadi seorang mahasiswa. Selain sebutan “maha” yang dilabelkan kepada mereka, kebebasan dan ketidakterikatan pada “penyeragaman” membuat mereka lebih mampu mengekspresikan diri.

Pernyataan di atas memang tidak sepenuhnya benar, karena Pendidikan Tinggi tidak hanya memberikan ruang gerak kebebasan berekspresi saja, namun demikian ada tuntutan untuk berfikir ilmiah, karena menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi berarti masuk pada komunitas ilmiah yang dituntut untuk memberikan pandangan atau mengkritisi sesuatu dengan dasar atau pijakan ilmiah, tidak hanya berdasarkan emosionalitas
Mahasiswa adalah sebutan yang diberikan kepada seorang yang sedang menenmpuh pendidikan disebuah peguruan tinggi yang terdiri atas sekolah tinggi, akademi dan yang paling umum adalah universitas. Sepanjang sejarah, mahasiswa diberbagai penjuruh dunia mengambil peranan penting dalam sejarah siatu negara. Misalnya saja di Indonesia pada Mei 1998 ratusan ribu mahasiswa berhasil mendesak  atau meruntuhkan kekuasaan presiden Soeharto yang sudah berkuasa selama 32 tahun.
Bagaimanapun juga mahasiswa merupakan menjadi tulang punggung negara dan melanjutkan estafet kepemimpinan di masa-masa mendatang. Artinya seperti apa nantinya sebuah Negara tidak bisa lepas dari kreativitas pemikiran para mahasiswa. Kelompok mahasiswa dalam kehidupan sosial mendapatkan stratifikasi tempat dan peran yang teramat penting sebagai kelompok pemikir elit. Kepada merekalah sebenarnya masa depan suatu bangsa amat ditentukan apakah bergulir menuju kebobrokan ataukah menuju kecerahan. Hal tersebut karena mahasiswa memiliki berbagai fungsi strategis sebagai agent of change, transfer of knowledge, transfer of ideology, indicator of national or political stability, agent of globalization, dan human transformer. Sebuah survey yang dilakukan di Yogyakarta terhadap 200 mahasiswa sekitar bulan Mei 2004 yang menemukan bahwa sekitar 70 % mahasiswa masih yakin bahwa mereka adalah kekuatan akan perubahan (agent of change). Oleh karena itu peran yang penting inilah yang seharusnya menjadi tuntutan pada mahasiswa untuk mengoptimalkan kompetensi pada dirinya.
Sadar ataukah tidak, mahasiswa yang pada saat ini sedang memikul beban mahasiswanya merupakan orang-orang terpilih dan orang-orang yang beruntung. Hal ini bukanlah tanpa sebab. Berdasarkan data dari kemenrtian pendidikan pada tahun 2011 jumlah mahasiswa di Indonesia hanya berkisar pada angka 4,8 juta mahasiswa. Bila dihitung terhadap populasi penduduk usia 19-24 tahun, maka angka partisipasi kasarnya hanya mencapai 18,4% saja. Artinya jika ada 10 orang pemuda berusia antara 19-24 orang, maka yang menempuh pendidikan tinnggi hanya 2 orang saja. Adapun jika dihitung terhadap populasi usia 19-30 tahun, maka angka kasarnya baru sampai 23%. Jumlah ini jauh tertiggal jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya didunia.
Berdasarkan uraian diatas, maka mahasiswa sebenarnya tidak hanya dituntut untuk mengasah skil dan kemampuannya dalam bidang pendidikan. Tapi seorang mahasiswa dituntut bagai mana bisa membuka cakrawala berpikir yang luas untuk diterima dan terjun kemasyarakat. Hal ini tidak akan didapat mahasiswa melalui bangku perkuliahan dengan tatap muka bersama dosen. Perlu diketahui juga apa yang didapat mahasiswa dari dosennya melalui tatap muka perkulihan didalam kelas, itu hanya akan berpengaruh sebesar 30% saja untuk perkembangan dan kematangan seorang mahasiswa. Sementara itu beban yang dipul seorang mahasiswa amatlah berat memikul amanah yang disebut MAHASISWA sebagai agent of change and transfer of knowledge dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan persepsi dan pandangan masyarakat terhadap mahasiswa yang begitu besar, tinggi dan menganggap semua hal bisa dilakukan oleh mahasiswa. Masyarakat tidak akan bertanya apa jurus mahasiswa tapi bertanya apa yang bisa diperbuat mahasiswa. Untuk menjawab tantangan tersebut maka tidak bisa dipenuhi hanya dengan rutinitas perkulihan tatap muka dikelas bersama dosen. Seorang mahasiswa harus mencari ilmu tambahan ntuk menjawab dan memikul semua amanah tersebut. Salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah dengan cara aktif di organisasi.
Mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi sangatlah bervariasi, baik dari segi motivasi dan latar belakang sosial ekonomi. Maman S. Mahayana (dalam Mahasiswa Menggugat, 1998) membagi menjadi 6 kategori mahasiswa :
1.      Mahasiswa underdog, umumnya datang dari pedesaan, merasa tidak ada yang dibanggakan, berusaha menjadi mahasiswa yang baik, motivasinya tinggi untuk kuliah
2.      Mahasiswa salon, datang dari kota dan keluarga berada, kuliah sekedar agar tidak menganggur, bersiap melanjutkan usaha orang tua, kampus sebagai tempat pamer kendaraan, tujuannya status mahasiswa bukan ilmu
3.      Anak mamih, dari keluarga menengah atas, sungguh-sungguh kuliah tapi tidak peduli kegiatan non-akademis, tujuannya segera menyelesaikan dengan baik.
4.      Mahasiswa jalan pintas, motivasinya hanya memperoleh gelar, sehingga menggunakan berbagai cara untuk mendapat nilai baik.
5.      Mahasiswa pekerja, dari keluarga pas-pasan atau karyawan yang ingin merubah nasib, biasanya sungguh-sungguh mengikuti kuliah, sering juga mengikuti kegiatan kemahasiswaan.
6.      Mahasiswa unggulan, berasal dari keluarga terpelajar, secara ekonomi dan intelektual bagus, sering memanfaatkan masa kuliah untuk menempa diri dengan berorganisasi atau kegiatan ilmiah lainnya.
Sekarang pilihan ada ditangan mahasiswa itu sendiri. Pilihan sudah ada dan mau dilangkah kan kemana kaki mahasiswa tersebut. Hal ini tidak bisa dijawab oleh orang lain kecuali mahasiswa yang bersangkutan. Masuk dan aktif kedalam organisasi bukan berarti meninggal kan aktifitas perkulihan. Bukan pula menjadikan mahasiswa memiliki nilai yang jelek. Namun yang pasti bisa membuat seorang mahasiswa bisa berpikir lebih kritis dan mampu menjawab tantangan dimasyarakat. Jika kita membaca atau mendengar sebuah kisa tentang kesuksesan seorang tokoh, maka pada kesimpulannya kita kan menemukan kesaman alur mereka dalam mencapai kesuksesan. Tidak ada seorang tokoh didunia ini yang tidak berjuang dengan keras. Dan perjuangan makeras mahsiswa bisa dimulai didalam organisasi. Kita juga bisa mengetahui semua tokoh didunia ini dan pemimpin di negri kita ini pasti terlahir dari sebuah organisasi kemahasiswaan atau organisasi kemasyarakatan lainnya. Akhirnya pilihan kembali kepada kita semua, mau kita langkahkan kemana kakimu mahasiswa Indonesia ??



Posting Komentar

0 Komentar