Slogan

Slogan

Mengapa Mau Berpacaran ya Ukhti ?




"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra, 17 : 32)

Dari penggalan ayat diatas, maka sudah sangat jelaslah bagi kaum yang mau berpikir dan pada hati yang tidak buta tentang bagaimana Islam memandang tentang larangan berhubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Jangankan untuk melakukan zina mendekatinya saja sudah merupakan perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.
Pacaran merupakan suatu hubungan yang dijalin atau dibuat oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan yang mengatas namakan cinta dengan mendasarkan pada perasaan sayang dan ingin memiliki satu sama lainnya. Pada zaman sekarang ini, pacaran sudah menjadi suatu kebudayaan dan kebiasaan dilingkungan masyarakat. Pacaran sudah dianggap hal yang lumrah dan sangat wajar. Miris memang jika kita melihat ada sebagian dari golongan anak muda dizaman sekarang yang merasa malu apa bila dia tidak memiliki pacar. Saya secara pribadi sampai detik saya membuat tulisan ini belum pernah mengerti akan persepsi tersebut. Mengapa mereka malu? Inilah yang menjadi pertanyaan saya selama ini. Karena memang saya belum pernah merasakan malu karena tidak punya pacar.
Pada zaman sekarang juga sering ditemui orang tua yang secara terang-terangan mendukung anaknya berpacaran. Bahkan tak jarang juga ada orang tua yang menyediakan tempat katakanlah ruang tamu dirumah mereka untuk berpacaran anak-anak mereka. Bagi mereka hal itu merupakan hal yang biasa. Mereka tidak malu jika tetangga melihat itu semua dan justru malah sebaliknya. Mereka akan bangga menceritakan pada tetangganya bahwa anaknya berpacaran dengan seseorang apalagi pacar anaknya tersebut dari keluarga yang tepandang. Mereka tidak merasa malu akan itu semua dan apakah mereka juga tidak malu sama Allah? Mereka telah membukakan jalan menuju neraka untuk anak mereka yang sangat disayanginya dan juga membuka pintu neraka untuk diri mereka sendiri. Orang tua yang membebaskan anaknya berpacaran, Apakah ini yang disebut dengan orang tua yang baik? Orang tua yang sayang pada anaknya? orang tua yang membukakan pintu neraka untuk anaknya dan untuk dirinya, ini kah orang tua yang baik? Banyak alasan orang untuk berpacaran. Mulai dari alasan yang paling umum yaitu karena cinta dan sayang sampai pada alasan lain yang menjuru pada pelampiasan nafsu. Timbul pertanyaan dalam diri saya secara pribadi dan mungkin menjadi pertanyaan umum banyak orang, apakah memang ada cinta dan sayang yang sesungguhnya dalam pacaran itu tanpa dibarangi nafsu? Jika memang ada, maka tidak akan ada orang yang melakukan zina dan tidak akan ada yang namanya hamil diluar nikah. Namun kenyataan yang ada saat ini berapa banyak bayi yang baru lahir dibuang dan anak gadis muda yang melakukan aborsi karena hamil akibat dari pacaran. Lain lagi kasus nikah muda yang dilakukan oleh anak ABG yang bermula karena sudah hamil duluan.
Akibat dari pacaran seperti yang disebutkan diatas memang lebih banyak dan bahkan hampir semuanya yang menjadi korban adalah kaum wanita. Hal ini wajar saja, karena kaum laki-laki akan sangat mudah melepaskan diri dari tanggung jawabnya.mulai dari melarikan diri sampai tidak mengakui akan perbuatannya. Lalu pertanyaan adalah mengapa masih mau pacaran yaa ukhti?
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”
 ( An-Nur ayat 30 )
Memang dalam proses berpacaran tidak bisa disalahkan sepenuhnya pada kaum wanita. Kaum laki-laki memang mengmbil andil yang juga cukup besar dalam berpacaran ini. Setiap perempuan muslim dan bahkan yang nonmuslimpun sudah barang tentu menginginkan memiiki dan mendapatkan pasangan yang baik, beriman dan bertanggung jawab. Lalu apakah pasangan yang diidamkan seperti itu bisa didapatkan melalu pacaran yang bebas? Mungkin ada juga yang menemukannya,namun saya kira lebih banyak yang berakhir dengan keburukan. Pendapat saya ini bukan lah tanpa alasan, kita ambil contoh untuk dikota Pekanbaru saja yang merupakan pusat budaya Melayu yang kental akan ajaran Islamnya. Dimana kasus perceraian semakin tahun semakin meningkat. Berdasarkan data dari pengadilan agama Pekanbaru, tercatat pada tahun 2014 1.700 kasus gugat cerai ke PA Pekanbaru. Jumlah ini naik 200 kasus dibanding tahun 2013 yang "hanya" 1.500 kasus. Kasus perceraian ini lebih dari 50% dilakukan oleh pasangan usia produktif dan pasangan muda.
Berdasarkan kasus diatas, maka terbantah sudah teori yang menyatakan bahwa pacaran dilakukan untuk melakukan pendekatan, perkenalan sacara mendalam terhadap pasangan agar tidak salah pilih. Tapi pada kenyataannya kasus perceraian pasangan muda yang sebelum menikah berpacaran justru semakin tinggi. Tidak jarang juga kita mendengar ada kasus proses berpacarannya lebih lama dari pada usia pernikahannya. Pertanyaan sekarang adalah dimana letak proses perkenalan lebih mendalam dalam pacaran itu?
Mungkin inilah yang dapat saya sampaikan pertanyaan yang sudah lama terpendam dalam hati saya selama ini. Tulisan ini dibuat tanpa ada maksud apapun kecuali hanya ingin mengekspresikan segala pertanyaan yang tersimpan selama ini. Kepada semua kaum wanita pertanyaan kesimpulan mengapa masih mau berpacaran yaa ukhti? Bukankah kalian sudah tahu bahwa kerugian terbesar dari berpacaran itu sendiri ada pada kalian. Dan sekiranya juga jangan sampai pula kamu ikhwan lebih sering apel kerumah pacar dari pada apel kerumah Allah.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (An-Nur ayat 31)


Posting Komentar

0 Komentar