Mahasiswa
Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau
Sabagai
seorang anak tukang penyadap karet dan terlahir dibumi Melayu petalangan, saya
sering berpikir apa dosa kami dan dosa nenek moyang kami dizaman dahulu
sehingga nasib kami menjadi seperti sekarang ini. Kami hidup ditengah-tengah
perkebunan kelapa sawit yang terbentang luas.
Namun sayangnya perkebunan itu
bukanlah milik kami. Semua hasilnya diambil oleh pihak asing dan kami hanya
mendapatkan limbah, sungai yang tercemar, hutan yang tak lagi hijau serta kabut
asap yang disebabkan pembakaran hutan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Apakah semua ini terjadi karena kebodohan nenek moyang kami zaman dahulu yang
tidak paham akan semua ini ataukah pemerintah yang terlalu mudah dan dengan
sembarangan mengeluarkan izin pembukaan lahan kepada perusahaan. Entah lah
namun yang pasti setiap daun yang jatuh tidak pernah menyalahkan angin yang
bertiup.
Masyarakat
Petalangan merupakan suatu komunitas yang relatif tersendiri yang disebabkan
faktor geografis. Masyarakat Petalangan ini menempati wilayah sekitaran
Kecamatan Pangkalan Kuras kabupaten Pelalawan. Entah sejak kapan masyarakat
Petalangan menempati dan mendiami wilayah ini. Namun dalam nyanyian panjang
Masyarakat Petalangan, masa awal nenek moyang kami itu dilukiskan dengan
simbol-simbol seperti berikut,
Tatkala
gagak masih putih
Tatkala
bangau masih hitam
Tatkala
ninik makan kaluang
Tatkala
kuantan belum bernama kuantan
Sungai
keruh akan namanya
Tatkala
batanghari belum bernama batanghari
Sungai
deras akan namanya
Tatkala
kampar belum bernama kampar
Sungai
embun akan namanya
Begitulah
sedikit gambaran tentang Masyarakat Petalangan. Bagi generasi Melayu Petalangan
yang lahir dibawah tahun 80-an, maka istilah “Rimba Kepungan Sialang” pasti bukanlah sebuah istilah yang lain
ditelinga mereka. Namun berbeda ketika kita berbicara istilah tersebut dengan
generasi muda pada saat ini. Jangankan mengharapkan mereka paham, mendengar
saja mungkin ada yang tidak pernah. Melihat kondisi tersebut jadi wajar saja
kalau hutan dan tanah ulayat Melayu Petalangan terus dibabat perusahaan untuk dijadikan
perkebunan. Wajar saja kalau setiap tahun negri ini terus dikepung oleh kabut
asap karena setiap tahun pula hutan dan tanah ulayat berubah fungsinya karena
ketidak pahaman generasi kami. Generasi kami tidak paham bagaimana cara menjaga
dan melestarikan tanah ulayat dan yang generasi kami tahu adalah tanah ulayat
itu akan lebih menghasilkan duit jika dijual atau ditanam perkebunan sawit
diatasnya dan inilah ketamakan dan keserakahan kami. Namun semua yang terjadi
bukan lah sepenuhnya kesalahan kami sebagai generasi muda. Bukan pula kami
tidak mau tahu akan semua kebudayaan kami tersebut. Masih ada sebagian kecil
diantara kami yang memiliki keinginan untuk mempelajari dan memahami segala
aspek dari adat dan kebudayaan kami tersebut. Namun yang menjadi permasahalaannya
adalah tidak ada tempat bagi kami untuk bertanya dan mempelajari semua itu.
Pemerintah kami telalu sibuk mengejar pembangunan dan melupakan jati diri kami
sebagai orang Petalangan. Pemerintah kami lebih suka membangun dan bangga jika
daerah ini dibangun gedung-gedung yang tinggi untuk hotel, tempat hiburan dan
lain sebagainya dibandingkan membangun gubuk kecil untuk kami tempat belajar
dan memahami kebudayaan kami sendiri. Kami seperti orang yang kehausan ditengah
lautan yang luas dan sudah menjadi tamu dirumah kami sendiri.
Rimba
Kepungan Sialang merupakan suatu hutan tanah yang didalamnya terdapat pohon
sialang serta berbagai jenis pohon buah-buahan lainnya. Rimba Kepungan Sialang
ini disediakan untuk tempat lebah membuat sarang yang hasil madunya akan
diambil dan dibagi-bagikan menurut kelaziman dan tradisi. Konon pada zaman
dahulu dipohon sialang ini terrdapat puluhan dan bahkan ratusan sarang lebah
yang senantiasa memberikan madunya untuk masyarakat setempat. Namun pada zaman
sekarang ini, jangankan untuk melihat Rimba Kepungan Sialang, melihat pohon
sialang saja kami sudah sangat sulit. Rimba Kepungan Sialang kami sudah berubah
menjadi hamparan perkebunan sawit yang bukan milik kami. Satu persatu pohon
sialang kami tumbang menjadi arang dan berganti tanaman sawit. Satu persatu
pula lebah pergi meninggalkan kami yang serakah ini untuk mencari sialang
ditempat lain untuk bersarang. Tidak banyak memang yang bisa kami lakukan untuk
menyelamatkan Rimba Kepungan Sialang kami. Pemilik modal dan birokrat begitu
lihai melobi dan merayu penguasa dinegri kami sehingga izin membuka perkebunan
dengan mudah didapat. Mereka merampok dan merampasnya dari tangan kami. Dengan
segala kebodohan dan ketidak pahaman kami, tanah ulayat kami yang ditumbuhi
pohon sialang dengan sarang lebah diatasnyapun lepas dari tangan kami. Kini
kami hanya bisa melihat hamparan perkebunan yang mengelilingi kami dan kami
masih tetap seperti yang dulu. Kami tidak bisa lagi melihat dan menceritakan
Rimba Kepungan Sialang kami kepada generasi muda kami karena Rimba Kepungan
Sialang kami kini hanya tinggal cerita. Kemana Rimba kepungan Sialang kami ini
lah yang selalu menjadi pertanyaan didalam hati saya setiap waktunya. Terakhir
saya ingin menutup tulisan ini dengan beberapa Syair Nasib Melayu karya Alm.
Datuk Tenas Effendy.
Sebagian
Melayu merasa tak puas
Kebunnya
habis tanahnya dirampas
Hendak
mengadu takut dilibas
Akhirnya
lumpuh kehabisan nafas
Sebagian
Melayu berkecil hati
Tanahnya
diambil tidak berganti
Hendak
menuntut tiada bergigi
Hendak
mengadu semakin merugi
Sebagian
Melayu tambah melarat
Hutan
dan tanah habis dibabat
Hendak
berkebun sudah tak dapat
Hendak
makan gaji persaingan ketat
Kalau
ditengok selayang pandang
Dibumi
Melayu pembangunan berkembang
Kilang
menyemut perkebunan terbentang
Tetapi
semuanya dimiliki orang
Kalau
ditengok sepintas lalu
Sungguh
makmur negri Melayu
Pembangunan
pesat hilir dan hulu
Padahal
tak banyak menyentuh Melayu
Refrensi
: Syair Nasib Melayu Karya Tenas Effendi
Rimba Kepungan Sialang karya UU.
Hamidy

0 Komentar