Slogan

Slogan

Mandi Balimau: Mandi Suci atau Mandi Maksiat


Penulis : Yogi Pratama
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau


Kurang dari satu minggu lagi, umat Islam seluruh dunia akan menyembut kedatangan bulan yang suci yakni bulan suci Ramadhan. Semua umat Islam akan berbahagia dan menyiapkan segala hal untuk menyambut bulan nan suci tersebut. Persiapan yang dilakukan mulai dari kesiapan fisik sampai kesiapan psikis. Dalam kebudayaan Melayu, orang Melayu biasanya melakukan persiapan yang tidak pernah tertinggalkan dalam menyambut bulan Ramadhan tersebut adalah tradisi Mandi Balimau. Mandi balimau dalam menyembut bulan suci Ramadhan memang bukanlah sunah dari Rasullullah.
Namun, kebudayaan dan tradisi mandi balimau dalam masyarakat Melayu merupakan suatu upacara yang sakral karena memiliki nilai filosofi yang baik yaitu selain momen membersihkan diri secara zahir, mandi balimau juga merupakan momentum untuk menjalin silaturrahmi sehingga banyaklah keluarga yang dirantau pulang kekampungnya dan acara saling maaf memaafkan dalam rangka menyambut tamu agung yaitu bulan Ramadhan dan perlu kiranya terus dilestarikan karena walaupun tidak ada sunah dari Nabi Muhammad tetapi nilai filosofinya tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam. Selain dari suatu tradisi yang turun temurun yang memiliki kebermaknaan hidup bagi masyarakat yang melakukannya, upacara tradisional bisa dijadikan sebagai suatu kekayaan ragam budaya yang ada dimasyarakat.
Tradisi mandi balimau juga sangat dikenal dan juga dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Pelalawan. Tradisi mandi balimau di Kabupaten Pelalawan dikenal dengan sebutan mandi Balimau Potang Mogang atau mandi balimau kasai. Setiap tahun pemerintah Kabupaten Pelalawan melakukan secara resmi sebagai agenda daerah Kabupaten Pelalawan yang disebut dengan mandi balimau sultan. Hal ini tentu sangat baik sekali. Selain dari melestarikan tradisi dan budaya, acara ini juga bisa memperkenalkan Kabupaten Pelalawan dengan kebudayaan dan tradisinya. Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut. Sedangkan kasai adalah wangi- wangian yang dipakai saat berkeramas. Bagi masyarakat Kabupaten Pelalawan, pengharum rambut ini (kasai) dipercayai dapat mengusir segala macam rasa dengki yang ada dalam kepala dan membersihkan dari segala keburukan sehingga jiwa benar-benar suci sebelum memasuki bulan puasa.
Bagi kami orang Melayu Pelalawan (Melayu Petalangan), jika tidak melakukan upacara Mandi Balimau Kasai, maka belum lah terasa datangnya bulan suci Ramadan. Pada zaman dahulu, Mandi Balimau dilakukan masyarakat ditepian perigi (sumur yang digali didekat hutan yang tidak disemen) atau disungai-sungai terdekat disekitar tempat tinggalnya. Sebelum Mandi Balimau, terlebih dahulu membuat Kasai Limau (alat untuk mandi). Kasai Limau terbuat dari buah Limau Purut yang dikupas kulitnya lalu dipotong-potong dan dimasukan kadalam piring yang berisi air putih. Setelah Limau purut didalam piring, lalu didoakan oleh imam-imam mesjid atau orang yang memiliki ilmu agama yang cukup. Setelah semua proses selesai, maka pada sore harinya sebelum masuknya waktu magrib masyarakat sudah melakukan Mandi Balimau.
Seiring dengan berkembangnya zaman, mandi balimau kasai ditengah masyarakat sudah sangat jauh berbeda dengan filosofi dari mandi balimau itu sendiri. Mandi balimau sudah dijadikan sebagai ajang untuk pesta hura-hura tak menentu, terutama dilakukan oleh kalangan muda. Pada saat ini setidaknya ada tiga tempat yang menjadi idola kaum muda untuk pergi mandi balimau di Kabupaten Pelalawan. Tiga tempat yang paling banyak dikunjungi adalah Teluk Meranti, Kuala Terusan dan Kualo Tolam. Kaum muda pergi ketempat-tempat mandi balimau bersama teman-temanya dan biasanya mereka pergi secara berpasang-pasangan dengan pacar masing-masing. Sementara ditempat upacara mandi balimau, biasanya sudah disediakan hiburan berupa orgen tunggal dengan penyanyi dan nyanyian yang didendangkan jauh dari adat Melayu apa lagi ajaran Islam. Hal ini lah yang membuat daya tarik bagi kalangan muda berdatangan untuk mandi balimau bersama teman atau pacarnya. Sudah menjadi hal yang lumrah ketika mandi balimau tersebut mereka mandi secara bercampur antara laki-laki dan perempuan. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan ajaran Islam serta adat Melayu itu sendiri. Kebanyakan diantara mereka tersebut tidak menggunakan Limau untuk mandi. Lalu apakah masih pantas disebut mandi balimau?. Acara mandi balimau seperti itu jelas tidak bisa disebut mandi balimau tapi lebih tepat disebut mandi yang mengundang maksiat. Mandi Balimau sudah dijadikan sebagai ajang untuk pacaran bagi kalangan muda pada saat ini.
Tradisi mandi balimau dengan filosofinya untuk mensucikan jiwa sebelum datangnya bulan suci Ramadhan kini telah berubah menjadi ajang yang bisa mengundang maksiat dan kesesatan umat. Melihat fakta yang ada pada saat ini kita perlu meluruskan makna sesungguhnya dari Tradisi mandi balimau. Kita juga tidak bisa menyalahkan kaum muda secara sepihak. Hal ini karena adanya kesan dukungan dari pihak-pihak terkait yang menyediakan hiburan berupa orgen tunggal. Melestarikan budaya dan tradisinya memang tidak salah. Namun, ketika cara melestarikan kebudayaan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam dan Adat jelas itu semua sebagai kesalahan yang sangat besar. Acara mandi balimau memang bisa mendatangkan rupiah bagi panitia penyelenggara dari uang parker, uang masuk ketempat atau ketepian sungai tempat acara mandi balimau tersebut dan sumber-sumber lainnya. Namun, sekali lagi jika itu semua melanggar ajaran Islam bukannya melestarikan dan mendapatkan keuntungan malah akan menjadi menghancurkan hakeket dari budaya tersebut dan tentunya dosa.
Sudah saatnya lah pemerintah Kabupaten Pelalawan mengeluarkan Perda untuk meluruskan tradisi mandi balimau ditengah masyarakat seperti mandi balimau sultan yang dilakukan oleh Pemkab Pelalawan bukan lah mandi balimau seperti yang terjadi pada saat sekarang ini. Acara yang baik sudah seharusnya juga dilakukan dengan baik. Adat Melayu berlandaskan ajaran Islam. Maka jika ada tradisi yang bertentangan dan melanggar ajaran Islam itu bukan tradisi dan adat Melayu. Mandi balimau yang benar dalam adat Melayu tidak melanggar ajaran Islam. Kepada generasi muda Melayu khususnya Pemuda pemudi di Kabupaten Pelalawan, kalau kita tidak bisa mengharumkan nama Pelalawan, setidaknya kita tidak mengotorinya dengan ikut serta melestarikan tradisi dan adat yang memang bukan dan tidak sesuai dengan adat dan budaya kita.


Posting Komentar

0 Komentar