Ketika seseorang
mendengar atau berkenalan dengan orang Melayu, maka pikiran pertamanya adalah
orang yang sopan, lemah lembut dan kesopan santunannya. Hal ini memang sangat
wajar sekali mengingat orang Melayu adalah orang yang memiliki rasa toleransi
dan saling menghargai yang tinggi. Orang Melayu juga dikenal dengan sifat
malunya.
Sifat malu yang dimaksud disini adalah malu berbuat salah, malu
melanggar norma, malu berbuat curang, malu berbuat dosa dan malu terhadap
hal-hal yang tidak baik lainnya. Namun, terkadang banyak orang yang salah
persepsi terhadap makna sifat malu itu sendiri. Bahkan, dari kalangan orang
Melayu sendiripun bisa salah memaknainya sehingga banyak orang Melayu yang
memang jadi pemalu termasuk malu dalam bertanya dan hal-hal yang baik lainnya.
Sifat malu memang
menjadi cirri khas orang Melayu sejak zaman dahulu. Orang tua-tua Melayu
mengungkapkan dalam ungkapannya mengatakan :
Dengan
malu menolok malu
Mulia
hidup beraib malu
Apa
bila malu sudah tersingkap
Tuah
hilang maruahpun lesap
Apabila
malu sudah padam
Akhlak
rusak iman pun padam
Apa
bila malu sudah padam
Muka
yang putih menjadi hitam
Seperti yang dikatakan
diatas, sifat malu memang menjadi pedoman hidup orang Melayu dalam melangkah
dan berbuat. Orang Melayu sangatlah berpantang melanggar adat, agama dan UU
yang berlaku dalam kehidupan sosialnya. Hal ini tidak terlepas dari orang
Melayu merupakan orang yang beradat, orang yang beragama dan orang yang
bernegara. Orang Melayu juga sangat terbuka dalam menerima orang pendatang
kedaerahnya asalkan orang pendatang tersebut bisa menghargai adat dan
budayanya. Namun demikian, jika pun orang Melayu dikenal dengan sikap lemah
lembut sopan santunnya jangan dikira orang Melayu bisa dipijak dan direndahkan.
Orang Melayu bisa saja menjadi bak singa kelaparan dipadang pasir. Orang
pendatang haruslah tahu diri dan juga menanamkan sifat malunya dinegri Melayu
karena dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.
Orang
Melayu yang dulunya dikenal dengan sifat malunya kini hanya tinggal sebatas
teori dan ungkapan didalam buku yang tertulis. Fakta yang ada dilapangan
ditengah orang Melayu sangat menyedikan hati. Banyak budak Melayu malu dengan
jati dirinya sebagai orang Melayu. Banyak budak Melayu yang juga tidak tahu
akan aib dan malu. Hal ini bisa kita lihat dari pergaulan budak-budak Melayu
dizaman sekarang ini. Budak Melayu tidak lagi malu melanggar norma adat dan
agama seperti berjalan berdua dengan lawan jenisnya yang bukan saudaranya
berdua-duaan sampai larut malam dan tak jarang pula mereka pertontonkan hal
yang memalukan itu didepan masyarakat umum lalu kemana aib malunya?. Banyak
juga budak Melayu dan Pejabat Melayu yang tidak malu memakan harta orang Melayu
untuk mengenyangkan perutnya pribadi. Yang paling menyedihkan dari semua itu
adalah banyak budak Melayu yang malu berbuat baik seperti menghadiri acara
adat, menyanyikan lagu-lagu Melayu, berpakaian ala orang Melayu serta hal yang
baik lainnya. Tetapi mereka justru tidak malu melakukan hal yang melanggar
norma seperti memakai pakaian yang ketak yang tampak pusat serta menyanyikan
lagu-lagu yang tidak baik seperti diacara orgen tunggal. Dahulu orang Melayu
laki-laki sudah memakai celana panjang masih juga memakai kain songket. Karena
jika hanya memakai celana masih dianggap tidak sopan dan malu dipandang orang.
Zaman sekarang orang berbakaian bisa dilihat sendiri ditengah masyarakat. Dan
yang paling tidak beraib malunya ketika budak Melayu justru merasa bangga
dengan apa yang telah dilakukannya sekarang walaupun itu semua salah baik
menurut adat maupun agama.
Kini
kita hanya bisa membaca sifat malu orang Melayu dibuku yang sudah tertulis.
Walaupun masih banyak juga budak Melayu yang mau menjaga aib dan malunya.
Sunggu tulisan saya ini tidak bermaksud menyinggung kepada kawan-kawan sesame
budak Melayu. Melalui tulisan ini saya mengajak semua kawan budak Melayu
bersatu untuk kembali kita mengangkat batang yang sudah lama terendam ini, kita
mengangkat tentang adat dan budaya kita karena kalau tidak kita tidak mungkin
orang lain. Mohon maaf kepada semua pihak yang membaca jika tulisan ini kiranya
membuat saudaraku merasa tersinggung dan sebagainya.

0 Komentar