Slogan

Slogan

SDA Riau Hanya Mimpi Pemanis Tidur Orang Melayu



Nasib Melayu tidak menentu
Terumbang ambing sepanjang waktu
Dikatakan mundur nampaknya  maju
Pusaka punah satu persatu
Kalau ditengok selayang pandang
Di bumi Melayu pembangunan berkembang
Kilang menyemut perkebunan terbentang
Tetapi semuanya dimiliki orang

Kalau ditengok sepintas lalu
Sungguh makmur negri Melayu
Pembangunan pesat hilir dan hulu
Padahal tak banyak menyentuh Melayu
Dikutip dari kumpulan syair nasib Melayu karya H. Tenas Effendy
Kalau saja seandainya Allah menciptakan sepotong surga di dunia yang mana sepotong surge itu penuh dengan sumber daya alam yang melimpah, maka bisa jadi sepotong surge itu adalah tanah Riau. Pendapat ini bukan tanpa pendukung, Riau merupakan salah satu provinsi penyumbang dana terbesar di Indonesia. Hal ini wajar saja karena di Riau memang banyak sumber migas, perkebunan, potensi laut dan lain sebagainya yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dan dolar.
Kekayaan alam yang begitu melimpah tersebut sudah seharusnya membuat masyarakat Riau hidup sejahtra. Namun nasib berkata lain, seperti syair yang ditulis alm. Datuk Tenas Effendy diatas. Hampir semua sumber daya alam Riau tidak dimiliki oleh orang Riau. Kilang migas dan perkebunan yang terbentang sejauh mata memandang dimiliki orang asing bahkan orang asing itu bukan orang Indonesia. Lalu apa yang punya orang Riau? Mungkin hanya lotek dan lontong sayur.
Orang Riau tidak mampu atau disengaja “ditidak” mampukan bersaing dalam mengelolah SDA yang melimpah ini. Kini semua sudah dimiliki asing, orang Riau hanya bisa menjadi penonton dirumah sendiri. Kekayaan alam yang melimpah yang seharusnya dimiliki dan dinikmati orang Riau sekarang dinikmati orang asing dan orang Riau mendapatkan debu dan kabut asap akibat dari pengembang serakah yang menyedot kekayaan Riau.
Pemerintah seharusnya mulai berpikir dan bertindak terhadap persoalan ini. Provinsi Riau saat ini termasuk kedalam salah satu provinsi yang memiliki angka pencari kerja tertinggi di Indonesia. Pemerintah sudah seharusnya mengeluarkan kebinjakan untuk memamfaatkan kekayaan Riau untuk dinikmati sepenuhnya orang Riau bukan hanya sekedar menjualnya kepada asing. Jika hal seperti sekarang ini terus berlanjut, maka kekayaan alam Riau yang melimpah ini hanya menjadi mimpi dalam tidur orang Riau.
Pemerintah harus menciptakan generasi Riau yang handal dan mampu bersaing dengan mengadakan pelatihan-pelatihan dan pendidikan yang berkualitas serta dapat dijangkau oleh seluruh kalangan masyarakat. Terakhir saya ingin menutup tulisan ini dengan syair nasib Melayu karya Datuk Tenas Effendy.
1.      Penyebab utama Melayu ketinggalan
Karena kurang ilmu pengeyahuan
Kemajuan zaman tidak terikutkan
Kemajuan orang tidak tersaingkan
2.      Pendidikan Melayu belum memadai
Dari dahulu sampai lah kini
Karenanya kepala tidak berisi
Dibawah bersaing tentulah lesi
3.      Dimana-mana orang membangun
Membuat industry ataupun kebun
Melayu yang bebal duduk melamun
Akhirnya merana sepanjang tahun

Posting Komentar

0 Komentar