Allah
SWT Maha Bijaksana. Cobalah bayangkan andaikan dosa diberi bau busuk oleh
Allah, lalu apa yang akan terjadi?. Maka, makin banyak atau makin besar dosa
seseorang, tentu dia akan semakin busuk. Dia bisa sama dengan bau bangkai
bahkan buntang yang bau busuknya
merebak kemana-mana. Sungguh amat nyata sekali Allah maha lemah lembut terhadap
hamba-Nya. Dengan dosa tidak berbau busuk maka manusia dapat bergaul dengan
udara yang relatif nyaman. Tidak perlu menutup hidung ketika berhadapan dengan
seorang pelaku maksiat. Di dunia (negeri yang dekat) ini para pelaku syirik dan
dosa besar lainnya, bisa lebih harum dari pada orang yang memelihara dirinya
dari maksiat. Sebab dia dapat memakai minyak wangi yang mahal yang harum
baunya.
Kenyataan
ini hendaknya menjadi iktibar bagi insan yang menyadari makna penciptanya,
Allah membimbing umat manusia agar selamat hidup di dunia serta bahagia di
akhirat dengan masuk surga. Seorang insan hendaklah berjalan hati-hati hidup di
muka bumi, bagaikan melalui jalan yang banyak duri. Duri-diri pada jalanan
dunia itulah yang merupakan larangan yang jika diinjak akan mendatangkan dosa
yang akan mengancam keselamatan kita. Kita hendaklah memandang dunia sebagai
perantau. Kebahagian hidup yang sejati bukan di perantauan, tapi di akhirat.
Maka kumpulkanlah amal saleh di dunia untuk bahagia yang abadi.
Bersabit
dengan itu, junjungan alam Nabi Muhammad SAW berpesan bahwa dunia adalah
penjara bagi orang mukmim tetapi surga bagi orang kafir. Siapa yang akan
menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, Allah akan membuat dia berantakan.
Sebaliknya yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, dia akan mendapatkan
kekayaan hati dan dunia akan datang dengan sendirinya kepadanya. Begitulah
keberuntungan mukmim sejati di atas azab yang akan menimpa orang kafir.
Dosa
diciptakan Allah tidak berbau busuk agar menjadi medan ujian kepada umat
manusia. Dosa tidak berbau busuk agar manusia tidak segera dipermalukan oleh
perbuatannya. Dengan demikian pelaku maksiat itu masih punya martabat di mata
manusia. Keadaan ini sejajar dengan penciptaan surga dan neraka. Surga dengan
nikmat abadi tiada banding dilapisi Allah dengan perkara yang tidak
menyenangkan. Sedangkan neraka dengan azab yang pedih dilapisi Allah dengan
segala sesuatu yang disukai oleh hawa nafsu. Karena itulah jalan menuju surga
banyak unak dan duri bahkan ranjau yang mengundang maut. Sementara jalan menuju
neraka sangat bagus dihiasi dengan bunga-bunga dunia.
Meskipun
dosa manusia dapat tersembunyi di mata manusia, namun dia harus sadar di mata Tuhan
semuanya tercatat dengan rapi serta akan mendapat balasan yang setimpal. Karena
itu manusia harus memperhatikan ketaatannya. Untuk menghadapi dosanya dia harus
taat dan patuh hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan terhadap ulil amri
hanya berlaku jika ulil amri itu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itu
umatnya manusia harus memakai petunjuk Al Quran dan Assunah yang telah
memberikan jalan yang lurus serta berpegang kepada Syariah Islam sehingga
sampai kepada tujuan yaitu surga. Di luar itu adalah ketaatan kepada thagut
yang melahirkan sistem dajjal untuk menyesatkan umat manusia. Jika ini yang
dipilih maka dosa tidak akan pernah berkurang dan malah tidak akan mendapat
pengampunan dari Allah Yang Maha Pengampun.
Bersyukurlah
kepada Allah yang nikmat-Nya tercurah sepanjang waktu. Tetapi disebarang itu
kita harus paham bahwa hanya kita yang dapat membuat amal saleh untuk diri kita
bukan orang lain. Kita harus mampu membedakan peranan panca indra kita dengan
hati kita. Kita diciptakan Allah dengan satu hati, bukan dua hati. Karena itu
kita jangan lalai mengingat dan bertasbih kepada Allah. Karena hati yang lalai
bagaikan pohon yang mati. Hati sebagai benteng jangan sampai direbut oleh
syetan dengan menghasut kita melakukan perbuatan syrik dan munafik. Jagalah
benteng itu dengan ilmu mengenal Allah, karena ilmu mengenal Allah itulah ilmu
yang paling tinggi. Akuilah segala dosa baru kemudian berusaha mendapatkan
hidayah dengan mengikuti tuntunan pribadi agung tauladan umat manusia Nabi
Muhammad SAW.
Refrensi:
UU Hamidy. Membeli Dunia.2015. Bilik
Kreatif. Pekanbaru

0 Komentar