Slogan

Slogan

Menang Sorak Kampung Tergadai


Kehadiran dan berdirinya perusahaan-perusahaan perkebunan sepertinya akan membawa angin segar dan bagaikan tetesan embun yang jatuh ditengah padang pasir. Harapan sedemikian rupalah yang terpasang dan yang diyakini serta diharapkan oleh kalangan masyarakat kami yang memang lugu dan tidak memiliki pengetahuan banyak hal. Pengetahuan kami hanya terbatas pada pengetahuan yang diajari alam dan yang diturunkan secara turun temurun dari nenek moyang kami. Kami sama sekali tidak mengetahui apa yang dinamakan kerusakan alam dan memang kami tidak pernah membayangkan hal itu terjadi.
Pengetahuan kami juga jauh dari kata paham akan HGU (hak guna usaha) yang diberikan pemerintah atau siapalah yang berhak memberikannya kepada perusahaan. Yang kami yakini siapa pula yang mampu dan sanggup menghabiskan hutan kami yang lebat dan luas ini.
Perusahaan datang dengan membawakan segala janji yang indah kepada kami, mulai dari pembukaan jalan untuk transportasi sampai pada janji kehidupan yang lebih baik. Tentu saja kami dengan mudah percaya dengan semua janji itu karna memang kami bukan orang yang memiliki pemahaman dan selalu berpikiran positif pada semua orang. Namun keserakahan perusahaan ternya lebih dari sekedar yang kami bayangkan. Hutan kami yang lebat dan luas, yang didalamnya ada semua yang kami butuhkan untuk kehidupan kami kini hanya tinggal cerita indah masa lalu nenek moyang kami. Bahkan yang lebih parahnya dengan dalil HGU perusahaan mengklaim kebun kami tempat kami menggantungkan harapan pun dikleaimnya itu adalah tanahnya yang sewaktu-waktu bisa saja diambilnya.
Kami tidak tahu apa dosa terbesar kami dimasa lalu tapi yang pasti kemi percaya kami punya kesalahan terbesar masa lalu yakni kami terlalu lugu dan terlalu percaya kepada perusahaan. Kini banyak lah masalah yang datang. Mulai dari keserakahan perusahaan yang berakibat rusaknya aliran sungai kami. Sungai yang dahulunya menghasilkan ikan yang melimpah kini hanya menghasilkan samapah dan limbah yang tentu saja akan membuat kami mati secara perlahan. Masalah lainnya adalah klaim perusahan terhadap tanah kebun kami sebagai HGU nya walaupun kebun kami tidak ditumbangnya namun ini tentu saja mengkhawatir kami.
Janji manis perusahaan yang katanya akan membuatkan kami kebun kini juga hanya janji manis sebagai pelemak tidur kami. Tidak kami pungkiri memang, ada sebagian yang sudah dibuatkan kebun KKP namun masih banyak yang belum mendapatkan sementara kerusakan dan limbah kami semua merasakan. Dengan alasan ketidak adaan lahan perusahaan tidak mau membangunkan kami kebun. Bagai mana mungkin kami punya lahan sementara semua tanah kami dengan keserakahannya sudah diklaim sebagai HGU perusahaan. Janji untuk kami dipekerjakan diperusahaan juga hanya tinggal janji. Walaupun ada beberapa yang dipekerjakan perusahaan itu pun hanya pada kasta terendah.
Kemanalah nasib dan kemalangan ini akan kami sampaikan kedalam hati jugalah akan perginya. Bagi sebagian dari kami yang agak cerdik sedikit bisalah dia mengais dan menjilat kepada perusahaan. Dengan tanpa rasa malu mengemis keperusaahan dapatlah ia menumpang makan agak sehari dua. lalu kemanakah pemimpin kami? Sejauh ini tidak banyak membantu kami. Kami hanya dijanjikan menang sorak, kempung kami tergadai dan berkecai-kecai juga. Setelah hutan dan sungai kami habis, kami dibolehkan untuk berdemo, unjuk rasa berorasi atau apalah namanya sehingga sorakan kami lantang bergema keangkasa namun tak sampai ketelinga. Pucuk sawit yang tinggi dan hamparan perkebunan yang luas serta kuatnya suara bising mesin-mesin penggiling milik perusahaan membuat sorakan kami tersangkut disepanjang jalan.
Kekawariran akan keserakahan perusahaan yang kami rasakan akan bertambah lagi dengan keserakahan pemimpin dan kawan sekampung kami. Tak sekali dua banyak yang saling menikam diantara kami. Atas nama kami atas nama memperjuangkan hak kami atas perusahaan nama kami dijualnya dan tergadailah kampung kami. Kini kami hanya menunggu dan entah sampai kapan...

Posting Komentar

0 Komentar