Kehadiran
dan berdirinya perusahaan-perusahaan perkebunan sepertinya akan membawa angin
segar dan bagaikan tetesan embun yang jatuh ditengah padang pasir. Harapan
sedemikian rupalah yang terpasang dan yang diyakini serta diharapkan oleh
kalangan masyarakat kami yang memang lugu dan tidak memiliki pengetahuan banyak
hal. Pengetahuan kami hanya terbatas pada pengetahuan yang diajari alam dan
yang diturunkan secara turun temurun dari nenek moyang kami. Kami sama sekali
tidak mengetahui apa yang dinamakan kerusakan alam dan memang kami tidak pernah
membayangkan hal itu terjadi.
Pengetahuan kami juga jauh dari kata paham akan
HGU (hak guna usaha) yang diberikan pemerintah atau siapalah yang berhak
memberikannya kepada perusahaan. Yang kami yakini siapa pula yang mampu dan
sanggup menghabiskan hutan kami yang lebat dan luas ini.
Perusahaan
datang dengan membawakan segala janji yang indah kepada kami, mulai dari
pembukaan jalan untuk transportasi sampai pada janji kehidupan yang lebih baik.
Tentu saja kami dengan mudah percaya dengan semua janji itu karna memang kami
bukan orang yang memiliki pemahaman dan selalu berpikiran positif pada semua
orang. Namun keserakahan perusahaan ternya lebih dari sekedar yang kami
bayangkan. Hutan kami yang lebat dan luas, yang didalamnya ada semua yang kami
butuhkan untuk kehidupan kami kini hanya tinggal cerita indah masa lalu nenek
moyang kami. Bahkan yang lebih parahnya dengan dalil HGU perusahaan mengklaim
kebun kami tempat kami menggantungkan harapan pun dikleaimnya itu adalah
tanahnya yang sewaktu-waktu bisa saja diambilnya.
Kami
tidak tahu apa dosa terbesar kami dimasa lalu tapi yang pasti kemi percaya kami
punya kesalahan terbesar masa lalu yakni kami terlalu lugu dan terlalu percaya
kepada perusahaan. Kini banyak lah masalah yang datang. Mulai dari keserakahan
perusahaan yang berakibat rusaknya aliran sungai kami. Sungai yang dahulunya
menghasilkan ikan yang melimpah kini hanya menghasilkan samapah dan limbah yang
tentu saja akan membuat kami mati secara perlahan. Masalah lainnya adalah klaim
perusahan terhadap tanah kebun kami sebagai HGU nya walaupun kebun kami tidak
ditumbangnya namun ini tentu saja mengkhawatir kami.
Janji
manis perusahaan yang katanya akan membuatkan kami kebun kini juga hanya janji
manis sebagai pelemak tidur kami. Tidak kami pungkiri memang, ada sebagian yang
sudah dibuatkan kebun KKP namun masih banyak yang belum mendapatkan sementara
kerusakan dan limbah kami semua merasakan. Dengan alasan ketidak adaan lahan
perusahaan tidak mau membangunkan kami kebun. Bagai mana mungkin kami punya
lahan sementara semua tanah kami dengan keserakahannya sudah diklaim sebagai
HGU perusahaan. Janji untuk kami dipekerjakan diperusahaan juga hanya tinggal
janji. Walaupun ada beberapa yang dipekerjakan perusahaan itu pun hanya pada
kasta terendah.
Kemanalah
nasib dan kemalangan ini akan kami sampaikan kedalam hati jugalah akan
perginya. Bagi sebagian dari kami yang agak cerdik sedikit bisalah dia mengais
dan menjilat kepada perusahaan. Dengan tanpa rasa malu mengemis keperusaahan
dapatlah ia menumpang makan agak sehari dua. lalu kemanakah pemimpin kami?
Sejauh ini tidak banyak membantu kami. Kami hanya dijanjikan menang sorak, kempung kami tergadai dan
berkecai-kecai juga. Setelah hutan dan sungai kami habis, kami dibolehkan
untuk berdemo, unjuk rasa berorasi atau apalah namanya sehingga sorakan kami
lantang bergema keangkasa namun tak sampai ketelinga. Pucuk sawit yang tinggi
dan hamparan perkebunan yang luas serta kuatnya suara bising mesin-mesin
penggiling milik perusahaan membuat sorakan kami tersangkut disepanjang jalan.
Kekawariran
akan keserakahan perusahaan yang kami rasakan akan bertambah lagi dengan
keserakahan pemimpin dan kawan sekampung kami. Tak sekali dua banyak yang
saling menikam diantara kami. Atas nama kami atas nama memperjuangkan hak kami
atas perusahaan nama kami dijualnya dan tergadailah kampung kami. Kini kami
hanya menunggu dan entah sampai kapan...

0 Komentar