Slogan

Slogan

mencari jalan tuhan (bagian 1)



Kisah ini bukanlah sebuah kisah baru, ini hanyalah sebuah kisah lama yang belum selesai diceritakan dimasa lalu. Namun demikian, ini juga bukan sebuah kisah usang karena lagu lamapun akan terdengar indah jika sudah lama tidak didengarkan. Kisah ini berawal dari sebuah perjalanan hidup dan pemikiran yang suci untuk berkarya.

Masih jelas teringat dimataku bayangan pertamamu melintas dimataku, masih juga terngiang-ngiang ditelingaku suara pertama yang keluar dari mulutmu sampai saat kisah ini tertulis yang mengalir dari tanganku begitu saja. Hari itu matahari menyeninari bumi begitu teriknya seolah-olah membakar setiap makhluk yang menerimanya merasa terbakar. Tapi senyuman pertamamu diawal perjumpaan itu membuat hatiku terasa begitu sejuk dan membara. Aku berkata didalam hatiku kiranya tak perlulah aku keliling dunia untuk melihat senyuman terindah dari seorang wanita dibumi ini.
Berbalut busana muslimah dan hijab menutupi dada membuat dunia terasa begitu sempurna. Kalau la saja aku bisa memilikinya mungkin aku adalah orang yang paling beruntung dibumi ini. Detik jam begitu terasa cepat berlalu, aliran darah dan detak jantungku seolah-olah berhenti begitu bidadari surge yang berada didunia melewati didepan mataku. Begitulah sekilas yang dapat aku ceritakan kesan pertamaku melihat permata hatiku. Bigitu besar rasa didalam hatiku, begitu pula besar aku ingin mengenal dan menjauhimu. Engkau seorang gadis Islam yang berpakaian sangat islami dan tertutup dan dalam hati ku ini lah gadis-gadis teroris walaupun didalam lubuk hatiku yang paling dalam berusaha untuk mengatakan tidak. Namun, perasaan adalah perasaan semua rasa yang tidak bisa dipungkiri dan tidak perlu diajari bagaimana caranya untuk mengtakan cinta atau benci.
Tiga hari setelah pertemuan pertama, selama itu pula aku tidak bisa menghilangkan bayanganmu dalam pikiran ku. Hatiku begitu berkecambuk langkah apa yang harus aku ambil. Pada hari ketiga itu baru aku tahu dari seorang sahabat lama ku yang merupakan teman dekatnya, gadis muslim yang ku temui tiga hari yang lalu itu bernama Aisah seorang mahasiswi kedokteran. Masih menurut sahabat lama ku, Aisah seorang putrid seorang ulama ternama dikota ini. Mendengar kabar itu pikiranku bertambah berkecambuk, disaat hati ku berkata begitu sempurnanya engkau sebagai seorang wanita, tapi mulutku berkata sungguh benarlah engkau seorang gadis teroris.
Aku seorang laki-laki yang tidak beragama tapi aku percaya bahwa Tuhan itu ada hanya saja aku belum menemukan cara yang menurutku benar untuk berkomunikasi dengan Tuhan Ku itu. Banyak sudah agama yang aku pelajari, tapi aku belum menemukan apa yang menurutku benar. Pernah satu ketika aku ditawari seorang teman untuk mempelajari Islam tapi aku aku tidak menjawab iya atau tidak. Jawaban yang keluar dari mulutku waktu itu adalah bagaimana mungkin aku mempelajari agama teroris itu. Mendengar jawaban ku pada waktu itu, teman ku hanya tersenyum dan menepuk pundak ku dan memberikan aku sebuah buku kecil bertuliskan arab lalu pergi sambil berkata baca dan pelajarilah. Aku sempat terdiam dan bertanya mengapa dia memberikan buku ini pada ku. Aku tau ini buku kesayangannya, buku yang selallu dibawanya kemanapun pergi. Buku yang selalu dibacanya setiap kali dia melakukan ibadah agama yang baru dianut dan diyakininya itu. Buku itu aku bawah pulang dan aku simpan dilemari buku ku sampai hari pada hari aku bertemu dengan gadis muslim itu buku itu tidak pernah aku membukanya. Jangankan untuk membuka, memegangnya saja aku tidak pernah.
Semua seolah-olah berubah, hatiku, pikiran ku seperti ada yang menggerakan agar tanganku memegang dan membaca buku hadia dari kawan ku kemaren setelah aku melihat gadis muslim itu. Pertemuan aku dengan gadis muslim itu benar-benar membuatku berubah. Walaupun aku dan dia belum pernah berjawat tangan, berbica empat mata apalagi makan bersama tapi aku sudah dibuatnya gila. Yaa aku sudah gila mengapa aku mau mempelajari buku ini, buku yang banyak membuat orang menjadi teroris, begitulah pikiran ku berkecambuk. Tapi cinta mengalahkan semuanya, hatiku luluh dengan semua prasangka dan persepsi sesatku saat itu. Tanganku terus membuka lembaran buku itu, mataku dan bibirku terus saja bergerak membacanya serta pikiran k uterus berusaha untuk memahaminya. Seminggu aku tidak keluar rumah, aku hanya menyisihkan waktu untuk makan, mandi dan tiga sampai empat jam untuk tidur. Semua waktu ku habis untuk membaca buku itu. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk menemui kawanku untuk mengembalikan bukunya ini. Jarak rumah ku dan rumahnya sekitar dua puluh menit berjalan kaki. Aku keluar rumah melangkahkan kaki ku dengan seribu satu pemikiran yang aku sendiri tidak mengerti. Ditengah perjalan, suara lantang terdengar dari rumah ibadah agama kawan ku itu. Aku sejenak terhenti mendengarnya, entah aku sadar atau aku mungkin sedang mabuk, kaki ku melangkah menuju kedalam rumah itu. Aku melihat kawan ku ada disitu aku sambut mereka dengan salam dan senyuman serta ciuman. Aku heran dan bertanya, mengapa mereka menyambutku begitu mulia, mengapa mereka tidak membunuh ku padahal aku selalu berpikiran buruk terhadap mereka.
Kawan itu menepuk pundakku dan bertanya apakah aku sudah membaca bukunya? Aku menganggukan kepala, dia kembali bertanya, apakah ada hal yang buruk dan tidak sesuai dengan pemikiran ku yang ditulis dibuku itu? Aku menggelangkan kepala. Dia tersenyum dan menyuruhku duduk dipojok belakang rumah itu sementara dia dan meraka didalam itu melakukan ibadah. Aku mengamati dan gerakan mereka dan ingin rasanya aku mencoba dan mengikuti gerakan mereka. Aku keluar dan mencari kamar mandi intuk mencuci muka, tangan dan kakiku seperti itulah aku lihat mereka membersihkan diri sebelum melakukan ibadah dalam rumah tersebut. Setelah semuanya aku basuh, aku kembali masuk dan diam-dia aku mengikuti gerakan mereka dibelakang. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku waktu itu,aku hanya mengikuti gerakannya saja. Setelah selesai, aku heran mengapa ada rasa tenang yang begitu teramat tenang didalam hati dan pikiran ku. Semua berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan sebelum aku masuk dan mengikuti mereka beibadah.
Setelah mereka selesai beribadah, salah satu diantara mereka naik ketas mimbar untuk berceramah, aku perkirakan laki-laki itu berumuran 60 tahunan dengan jubah panjangnya setrta jenggotnya yang begitu lebat. Pada saat itu aku tidak merasa takut melihatnya tidak seperti biasanya aku selalu takut jika melihat orang yang berpenampilan seperti itu. Kali ini hatiku sangat tenang aku sangat nyaman melihat wajahnya yang bercahaya itu. Laki-laki itu memulai ceramahnya, masih aku ingat tema ceramahnya sampai hari ini yaitu tentang mengenal Allah. Aku begitu kagum dengan apa yang disampaikannya. Setelah selesai, mereka bersalaman dan laki-laki yang berceramah tadi menghampiri ku dengan senyuman yang begitu lembut, dia menciumku dan mengatakan kepada semua orang dirumah itu bahwa aku adalah calon saudaranya dan calon saudara untuk mereka semua. Semua orang dalam rumah itu berkata Alhamdulillah dan memeluk ku. Lagi dan lagi aku merasakan kehangatan persaudaraan yang begitu kuat diantara mereka.
Bersambung …

Posting Komentar

2 Komentar