Kisah
ini bukanlah sebuah kisah baru, ini hanyalah sebuah kisah lama yang belum
selesai diceritakan dimasa lalu. Namun demikian, ini juga bukan sebuah kisah
usang karena lagu lamapun akan terdengar indah jika sudah lama tidak didengarkan.
Kisah ini berawal dari sebuah perjalanan hidup dan pemikiran yang suci untuk
berkarya.
Masih
jelas teringat dimataku bayangan pertamamu melintas dimataku, masih juga
terngiang-ngiang ditelingaku suara pertama yang keluar dari mulutmu sampai saat
kisah ini tertulis yang mengalir dari tanganku begitu saja. Hari itu matahari
menyeninari bumi begitu teriknya seolah-olah membakar setiap makhluk yang
menerimanya merasa terbakar. Tapi senyuman pertamamu diawal perjumpaan itu
membuat hatiku terasa begitu sejuk dan membara. Aku berkata didalam hatiku
kiranya tak perlulah aku keliling dunia untuk melihat senyuman terindah dari
seorang wanita dibumi ini.
Berbalut
busana muslimah dan hijab menutupi dada membuat dunia terasa begitu sempurna.
Kalau la saja aku bisa memilikinya mungkin aku adalah orang yang paling
beruntung dibumi ini. Detik jam begitu terasa cepat berlalu, aliran darah dan
detak jantungku seolah-olah berhenti begitu bidadari surge yang berada didunia
melewati didepan mataku. Begitulah sekilas yang dapat aku ceritakan kesan
pertamaku melihat permata hatiku. Bigitu besar rasa didalam hatiku, begitu pula
besar aku ingin mengenal dan menjauhimu. Engkau seorang gadis Islam yang
berpakaian sangat islami dan tertutup dan dalam hati ku ini lah gadis-gadis
teroris walaupun didalam lubuk hatiku yang paling dalam berusaha untuk
mengatakan tidak. Namun, perasaan adalah perasaan semua rasa yang tidak bisa
dipungkiri dan tidak perlu diajari bagaimana caranya untuk mengtakan cinta atau
benci.
Tiga
hari setelah pertemuan pertama, selama itu pula aku tidak bisa menghilangkan
bayanganmu dalam pikiran ku. Hatiku begitu berkecambuk langkah apa yang harus
aku ambil. Pada hari ketiga itu baru aku tahu dari seorang sahabat lama ku yang
merupakan teman dekatnya, gadis muslim yang ku temui tiga hari yang lalu itu
bernama Aisah seorang mahasiswi kedokteran. Masih menurut sahabat lama ku,
Aisah seorang putrid seorang ulama ternama dikota ini. Mendengar kabar itu
pikiranku bertambah berkecambuk, disaat hati ku berkata begitu sempurnanya
engkau sebagai seorang wanita, tapi mulutku berkata sungguh benarlah engkau
seorang gadis teroris.
Aku
seorang laki-laki yang tidak beragama tapi aku percaya bahwa Tuhan itu ada
hanya saja aku belum menemukan cara yang menurutku benar untuk berkomunikasi
dengan Tuhan Ku itu. Banyak sudah agama yang aku pelajari, tapi aku belum
menemukan apa yang menurutku benar. Pernah satu ketika aku ditawari seorang
teman untuk mempelajari Islam tapi aku aku tidak menjawab iya atau tidak.
Jawaban yang keluar dari mulutku waktu itu adalah bagaimana mungkin aku
mempelajari agama teroris itu. Mendengar jawaban ku pada waktu itu, teman ku
hanya tersenyum dan menepuk pundak ku dan memberikan aku sebuah buku kecil
bertuliskan arab lalu pergi sambil berkata baca dan pelajarilah. Aku sempat
terdiam dan bertanya mengapa dia memberikan buku ini pada ku. Aku tau ini buku
kesayangannya, buku yang selallu dibawanya kemanapun pergi. Buku yang selalu
dibacanya setiap kali dia melakukan ibadah agama yang baru dianut dan diyakininya
itu. Buku itu aku bawah pulang dan aku simpan dilemari buku ku sampai hari pada
hari aku bertemu dengan gadis muslim itu buku itu tidak pernah aku membukanya.
Jangankan untuk membuka, memegangnya saja aku tidak pernah.
Semua
seolah-olah berubah, hatiku, pikiran ku seperti ada yang menggerakan agar
tanganku memegang dan membaca buku hadia dari kawan ku kemaren setelah aku
melihat gadis muslim itu. Pertemuan aku dengan gadis muslim itu benar-benar
membuatku berubah. Walaupun aku dan dia belum pernah berjawat tangan, berbica
empat mata apalagi makan bersama tapi aku sudah dibuatnya gila. Yaa aku sudah
gila mengapa aku mau mempelajari buku ini, buku yang banyak membuat orang
menjadi teroris, begitulah pikiran ku berkecambuk. Tapi cinta mengalahkan
semuanya, hatiku luluh dengan semua prasangka dan persepsi sesatku saat itu.
Tanganku terus membuka lembaran buku itu, mataku dan bibirku terus saja
bergerak membacanya serta pikiran k uterus berusaha untuk memahaminya. Seminggu
aku tidak keluar rumah, aku hanya menyisihkan waktu untuk makan, mandi dan tiga
sampai empat jam untuk tidur. Semua waktu ku habis untuk membaca buku itu.
Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk menemui kawanku untuk mengembalikan
bukunya ini. Jarak rumah ku dan rumahnya sekitar dua puluh menit berjalan kaki.
Aku keluar rumah melangkahkan kaki ku dengan seribu satu pemikiran yang aku
sendiri tidak mengerti. Ditengah perjalan, suara lantang terdengar dari rumah
ibadah agama kawan ku itu. Aku sejenak terhenti mendengarnya, entah aku sadar atau
aku mungkin sedang mabuk, kaki ku melangkah menuju kedalam rumah itu. Aku
melihat kawan ku ada disitu aku sambut mereka dengan salam dan senyuman serta
ciuman. Aku heran dan bertanya, mengapa mereka menyambutku begitu mulia,
mengapa mereka tidak membunuh ku padahal aku selalu berpikiran buruk terhadap
mereka.
Kawan
itu menepuk pundakku dan bertanya apakah aku sudah membaca bukunya? Aku
menganggukan kepala, dia kembali bertanya, apakah ada hal yang buruk dan tidak
sesuai dengan pemikiran ku yang ditulis dibuku itu? Aku menggelangkan kepala.
Dia tersenyum dan menyuruhku duduk dipojok belakang rumah itu sementara dia dan
meraka didalam itu melakukan ibadah. Aku mengamati dan gerakan mereka dan ingin
rasanya aku mencoba dan mengikuti gerakan mereka. Aku keluar dan mencari kamar
mandi intuk mencuci muka, tangan dan kakiku seperti itulah aku lihat mereka
membersihkan diri sebelum melakukan ibadah dalam rumah tersebut. Setelah
semuanya aku basuh, aku kembali masuk dan diam-dia aku mengikuti gerakan mereka
dibelakang. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku waktu itu,aku hanya
mengikuti gerakannya saja. Setelah selesai, aku heran mengapa ada rasa tenang
yang begitu teramat tenang didalam hati dan pikiran ku. Semua berbanding
terbalik dengan apa yang aku rasakan sebelum aku masuk dan mengikuti mereka
beibadah.
Setelah
mereka selesai beribadah, salah satu diantara mereka naik ketas mimbar untuk
berceramah, aku perkirakan laki-laki itu berumuran 60 tahunan dengan jubah
panjangnya setrta jenggotnya yang begitu lebat. Pada saat itu aku tidak merasa
takut melihatnya tidak seperti biasanya aku selalu takut jika melihat orang
yang berpenampilan seperti itu. Kali ini hatiku sangat tenang aku sangat nyaman
melihat wajahnya yang bercahaya itu. Laki-laki itu memulai ceramahnya, masih
aku ingat tema ceramahnya sampai hari ini yaitu tentang mengenal Allah. Aku
begitu kagum dengan apa yang disampaikannya. Setelah selesai, mereka bersalaman
dan laki-laki yang berceramah tadi menghampiri ku dengan senyuman yang begitu
lembut, dia menciumku dan mengatakan kepada semua orang dirumah itu bahwa aku
adalah calon saudaranya dan calon saudara untuk mereka semua. Semua orang dalam
rumah itu berkata Alhamdulillah dan memeluk ku. Lagi dan lagi aku merasakan kehangatan
persaudaraan yang begitu kuat diantara mereka.
Bersambung
…

2 Komentar
Barakallah..
BalasHapusLanjutkan dg buat buku.
Barakallah..
BalasHapusLanjutkan dg buat buku.