Slogan

Slogan

Mimpi budak-budak Petalangan



Mimpi budak-budak Petalangan
Terbukanya matahari menyinari negri Datuk Demang Serai pagi itu diikuti oleh langkah gontai 3 pemuda petalangan yang merantau ditanah perantauan. Tidak ada yang spesial dari langkah meraka pagi itu, semua masih sama dengan hari-hari sebelumnya hanya saja langkah pagi itu terasa lebih berat. Langkah-langkah pasti yang penuh mimpi dan harapan serta beban rindu yang sangat mendalam. Hidup merantau dikampung orang sebagai mahasiswa bukanlah perkara yang ringan. Hal ini juga dirasakan oleh tiga budak petalangan yang menuntut ilmu di Universitas Bujang Tandomang (UBT). Ketiganya telah bersahabat sejak mereka duduk dibangku SMA. Meraka adalah Muliono, Miro dan Esid. Muliono kuliah di UBT mengambil jurusan ilmu komunikasi, kawan yang satu ini sangat berambisi menjadi seorang wartawan. Muliono juga merupakan yang paling taat beribadah diantara ketiga budak petalangan ini. Kawan ini juga yang paling tertutup dengan asmaranya. Miro mengambil jurusan Hukum, dia sangat berambisi menjadi seorang pengacara kawan, tapi berbeda dengan muliono, miro sangat benci dengan yang namanya wartawan, nanti akan aku ceritakan mengapa budak petalanga satu ini sangat benci dengan wartawan. Lain halnya dengan Esid. Dia mengambil kuliah jurusan ekonomi mungkin dia ingin menjadi pengusaha kawan, entahlah hanya dialah yang tahu. Walaupun banyak perbedaan diantara ketiga budak petalangan ini mereka selalu kompak dan menjaga persahabatan mereka.
Pagi itu mereka sama-sama dipanggil untuk menghadap WR tiga UBT bapak Dr. H. Dasman, Lc. M.A. ketiga budak petalangan ini mendapat panggilan karena masalah klasik yang sering terjadi. Mereka sudah tiga semester tidak membayar uang kuliah. Selama tiga semester tersebut mereka diizinkan tetap kuliah walaupun tidak membayar SPP dengan dijamin oleh bapak Rektor UBT bapak Prof. Yogi Pratama. Rektor UBT ini juga merupakan orang Petalangan sehingga beliau begitu baik kepada mahasiswa yang berasal dari petalangan. Namun karena sudah tiga semester tidak membayar maka beliau memerintahkan WR tiga untuk memanggil tiga mahasiswanya tersebut. Setelah mereka sampai diruangan WR 3, bapak Dasman menyambut mereka dengan senyuman dan hidangan empat gelas teh manis dimejanya. Ketiga budak petalangan disuruhnya duduk berhadapan dengannya. Dengan senyuman yang diiringi dengan minum teh bapak Dasman mulai mengintrogasi ketiga mahasiswa didepannya satu persatu. Sementara tiga mahasiswa tersebut masih saja menunggu kapan bapak WR ini akan mempersilahkan mereka meminum teh yang sudah dihidangkan tersebut. Setelah mereka ditanya satu persatu akhirnya mereka disuruh keluar dan diberi waktu selama dua minggu untuk melunasi pembayaran SPP mereka tanpa disuruh meminum teh tersebut.
Perasaan kecewa terlihat jelas dari wajah ketiganya. Muliono bertanya kepada kawan-kawannya, “apo yang ingkak kecewaan ?, miro menjawab “kecewa waktu yang diboi pak Dasman cumo duo minggu, kemano duit awak cai?, esid menganggukan kepalanya dan berkata “botul kato miro du, kemano duit kan awak caian, malam minggu isuk pas pulak hari jadian ambo dengan cewek ambo itu poluh duit yooo”. Muliono melanjutkan perkataannya, “kalau ambo kecewa gegara teh yang dimeja bapak tadi du bukan untuk awak”.
Setelah sampai dirumah, mereka mulai berpikir untuk mengumpulkan duit membayar tunggakan SPP. Singkat cerita, mereka mendapatkan pekerjaan. Muliono bekerja disebuah toko yang menjual berbagai jenis pakaian. Esid bekerja sebagai giru privat. Sialnya bagi miro, kawan satu ini bekerja disebuah media Koran sebagai editor berita. Seperti yang saya sampaikan diawal tadi, miro paling benci dengan yang namanya wartawan. Namun hari ini dia harus bekerja yang berhubungan langsung dengan wartawan. Pernah satu hari ketika miro duduk dibangku SMA dia ditemui oleh seorang wartawan dan mengabarkan kalau dia mendapatkan hadiah sepeda motor Jupiter z yang merukan motor impian miro sejak dulu bahkan pernah terbawa kedalam mimpinya. Hati miro begitu sangat senang mendengar kabar tersebut bahkan dia mentraktir esid dan muliono makan dikantin pada siang itu. Seminggu berlalu, motor hadia miro belum juga datang, miro mulai gelisah. Dua minggu kemudian barulah miro tahu kalau ternyata wartawan yang menghampirinya itu adalah penipu dan mulai saat itu dia tidak lagi percaya dengan yang namanya wartawan. Tapi nasib berkata lain saat ini dia harus bekerja bersama wartawan kawan.
Mereka bekerja dengan penuh semangat setiap harinya. Mulai saat itu juga uang kuliah tidak lagi jadi masalah. Sampai pada saatnya, mereka pun menyelesaikan kuliah mereka. Mereka pulang kekampung masing-masing dan sukses menjadi orang yang hebat. Muliono saat ini menjabat sebagai camat Genduang, dia memiliki seorang isteri cantik dan 2 orang anak kawan. Sementara miro menjadi anggota DPRD. Saat ini miro juga sudah memiliki dua media berita online yang besar kawan, dan konon kabarnya dia sudah beristeri tiga pula            sementara esid saat ini menjadi pengusaha karet dan sawit yang terkenal. Bersambung……

Posting Komentar

1 Komentar